Kebijakan Baru: Bukan Iran, Aksi Trump Justru Hadirkan “Neraka” di Negeri Sendiri

Bukan Iran, Aksi Trump Justru Hadirkan “Neraka” di Negeri Sendiri

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan tegas terkait penutupan Selat Hormuz, yang memicu reaksi cepat dari pejabat Iran. Mohammad Baqer Qalibaf, ketua parlemen Iran, mengatakan bahwa tindakan militer Washington justru memperburuk kondisi, baik bagi wilayah Timur Tengah maupun rakyat AS. Ia mengkritik kebijakan Trump yang berpotensi menyebabkan dampak besar pada masyarakat Amerika.

Setelah Trump mengeluarkan ancaman ultimatum, Qalibaf merespons melalui platform X. Ia menuduh Trump melakukan “permainan berbahaya” dan menyebut langkahnya akan menyeret AS ke dalam krisis. “Tindakan gegabah Anda membawa neraka bagi setiap keluarga dan mengancam wilayah kita,” tulis Qalibaf, menyoroti ketergantungan pada kebijakan Netanyahu.

“Anda tidak akan mendapatkan manfaat apa pun melalui kejahatan perang,” tambah Qalibaf, mengingatkan pemerintah AS.

Peristiwa ini terjadi setelah Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan udara AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Pemerintah Iran menyatakan bahwa jalur tersebut tidak dapat dilalui oleh kapal-kapal Amerika Serikat atau Israel untuk jangka waktu yang lebih lama. Dengan tindakan itu, Teheran memperketat kontrol atas lalu lintas energi global.

Selat Hormuz merupakan jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG). Sekitar 20% minyak dunia dan 20% perdagangan LNG melewati perairan ini. Gangguan pada jalur ini mulai memengaruhi harga energi, termasuk di AS, yang mengalami kenaikan signifikan.

Kritik terhadap kebijakan Washington juga datang dari Rusia. Mikhail Ulyanov, duta besar Rusia di Wina, menyebut AS gagal memahami posisi Iran dalam negosiasi. Menurutnya, Iran hanya menerima kompromi yang bersifat saling menguntungkan, bukan tekanan atau ancaman dari luar.