New Policy: Ubah Sampah Jadi Sumber Penghasilan, Warga Kuala Tanjung Kelola Hingga 2 Ton per Hari

Ubah Sampah Jadi Sumber Penghasilan, Warga Kuala Tanjung Kelola Hingga 2 Ton per Hari

New Policy – Banyak negara menghadapi tantangan serupa dalam mengelola sampah, tetapi di Indonesia, masalah ini terus menjadi isu yang mengemuka. Hampir setiap hari, volume limbah yang dihasilkan masih melebihi kemampuan pengolahan, sehingga menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dan kesehatan masyarakat. Di tengah kondisi ini, inisiatif warga di Desa Kuala Tanjung, Sumatera Utara, memberikan solusi berbeda. Proyek mereka menunjukkan bahwa sampah bukan hanya masalah kebersihan, tetapi juga bisa menjadi potensi ekonomi yang signifikan.

Inisiatif Lokal yang Mengubah Sampah Menjadi Sumber Ekonomi

Didi Saputra, yang akrab disapa Untung, adalah tokoh di balik transformasi ini. Sejak tahun 2021, ia bersama warga mulai mengeksplorasi cara memanfaatkan sampah organik melalui teknik maggot. Proses ini memanfaatkan larva Black Soldier Fly sebagai pengurai alami, menghasilkan bahan baku yang bisa digunakan untuk keperluan produksi. Dari upaya sederhana tersebut, kelompok yang berkembang di desa ini bernama Sari Larva Berdaya (SLB), dan pada 2024, mereka berhasil memperluas cakupan kerja menjadi Bank Sampah Berseri.

“Awalnya kami belajar mengelola sampah dengan maggot. Lama-lama kami sadar ini bukan cuma soal kebersihan, tapi juga bisa jadi sumber penghasilan,” ujar Didi Saputra.

Kelompok ini sekarang mampu memproses antara 1 hingga 2 ton sampah setiap hari. Limbah yang dikumpulkan berasal dari sisa makanan perusahaan katering serta kebutuhan rumah tangga sekitar. Didi menjelaskan bahwa pengelolaan sampah dilakukan secara sistematis, mulai dari pemilahan hingga pemanfaatan berbagai jenis limbah. Misalnya, maggot digunakan sebagai pakan ternak unggas dan ikan, sementara kayu palet diubah menjadi perabot kayu seperti meja dan kursi.

Bagian terpenting dari proyek ini adalah pemanfaatan sampah kertas dan pelepah pisang menjadi produk daur ulang, seperti kertas yang bisa digunakan untuk bahan cetak atau kantong kertas biodegradable. Produksi tersebut tidak hanya memberikan nilai ekonomi tetapi juga mengurangi dampak lingkungan. Didi menekankan bahwa inisiatif ini menggabungkan keberlanjutan dan keuntungan sosial, karena warga bisa memperoleh penghasilan sambil membantu mengurangi tumpukan sampah.

Manfaat Ekonomi dan Lingkungan yang Terwujud

Kerja sama ini menciptakan peluang usaha baru untuk sekitar 17 orang warga. Didi secara khusus menargetkan kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan anak-anak yang putus sekolah, agar mereka bisa terlibat dalam kegiatan ini. Misalnya, beberapa anggota memiliki keterbatasan penglihatan, tetapi tetap bisa berkontribusi dengan tugas memilah sampah atau membuat produk dari limbah.

“Ada yang tuna netra, ada juga yang punya keterbatasan lain, tapi mereka tetap bisa bekerja, seperti memilah sampah atau membuat produk daur ulang,” tambahnya.

Lebih dari itu, program ini memberikan pendidikan informal bagi anak-anak yang tidak melanjutkan sekolah. Didi mengungkapkan bahwa mereka membantu warga mempersiapkan ujian Paket B dan C agar bisa mendapatkan ijazah. Ini memperkuat peran proyek dalam membangun kemandirian ekonomi dan sosial masyarakat. Selain itu, sistem tabungan yang diterapkan dalam Bank Sampah Berseri menarik minat warga. Sampah anorganik seperti plastik dan kertas bisa ditukar menjadi saldo, yang nantinya bisa dicairkan sebagai bantuan sembako saat hari besar seperti Lebaran.

Salah satu kelebihan program ini adalah nilai jual paket sembako yang dijual 30 persen lebih murah dibanding harga pasar. Keuntungan ini meningkatkan daya beli warga, terutama mereka yang memiliki penghasilan rendah. Didi menjelaskan bahwa proses penukaran sampah tidak hanya melibatkan koleksi, tetapi juga edukasi tentang manfaat daur ulang. Dengan metode ini, masyarakat terbiasa menghargai sumber daya yang terbuang.

Dukungan dari Perusahaan untuk Penguatan Kapasitas Masyarakat

Upaya warga Desa Kuala Tanjung tidak berjalan sendirian. Proyek ini didukung oleh PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) sebagai bagian dari MIND ID. Perusahaan menyediakan pelatihan dan fasilitas untuk memperkuat kapasitas warga mengelola sampah secara mandiri. Didi menegaskan bahwa bantuan ini mempercepat pengembangan program, sekaligus memastikan bahwa masyarakat bisa mengelola sampah tanpa ketergantungan pada pihak eksternal.

Program ini juga menjadi bagian dari inovasi sosial yang mendukung pencapaian penghargaan PROPER Emas oleh INALUM. Selain berkontribusi pada pengurangan limbah, proyek ini menunjukkan keterlibatan perusahaan dalam pengembangan komunitas sekitar. Didi menilai bahwa kolaborasi antara warga dan pelaku usaha bisa menghasilkan dampak jangka panjang, terutama dalam membentuk pola hidup berkelanjutan.

Masa Depan yang Tersusun Rapi

Saat ini, Didi Saputra dan timnya sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya untuk meningkatkan jangkauan proyek. Salah satu target utama adalah memiliki armada pengangkut sampah, sehingga pengumpulan bisa dilakukan lebih efisien. Dengan adanya kendaraan, kelompok ini bisa mencapai lebih banyak rumah tangga di sekitar desa, termasuk yang belum terjangkau.

Didi juga berharap program ini bisa menjadi contoh bagi desa lain di sekitar Sumatera Utara, bahkan ke daerah lain di Indonesia. Menurutnya, pengelolaan sampah dengan pendekatan ekonomi bisa menjadi solusi inovatif untuk masalah lingkungan yang terus berlanjut. “Kami terus belajar dan bergerak. Dari sampah, kami bisa mandiri dan saling membantu,” tutupnya.

Kelompok Sari Larva Berdaya kini menjadi bukti bahwa daur ulang tidak hanya bisa dilakukan oleh perusahaan besar, tetapi juga bisa diawali dari lingkungan sekitar warga. Dengan menggabungkan teknologi sederhana, keterlibatan masyarakat, dan dukungan dari pihak luar, proyek ini menunjukkan potensi besar dalam mengubah tantangan menjadi peluang. Keberhasilan ini memperlihatkan bahwa sampah, jika dikelola dengan tepat, bisa menjadi sumber daya yang menguntungkan secara ekonomi dan lingkungan.

Dengan pengelolaan sampah hingga 2 ton per hari, Desa Kuala Tanjung menunjukkan inisiatif yang berkelanjutan dan penuh makna. Didi Saputra dan timnya bukan hanya memperbaiki kebersihan lingkungan, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi lokal yang mengedepankan prinsip daur ulang. Langkah ini menjadi inspirasi bagi masyarakat lain untuk berpartisipasi dalam menjaga kebersihan dan memperkuat kemandirian ekonomi.