Kemkomdigi: 8 Situs BTS Sudah Kembali Beroperasi Usai Gempa di Palu
Key Issue – Jakarta – Setelah gempa bumi yang mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkomdigi) mengumumkan bahwa delapan menara infrastruktur telekomunikasi Base Transceiver Station (BTS) telah pulih. Gempa yang terjadi Selasa pagi dengan magnitudo 6,7 berdampak pada jaringan komunikasi di tiga wilayah, yaitu Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Poso. Menurut laporan terbaru dari Pusat Monitoring Telekomunikasi (PMT) Kemkomdigi, terdapat 29 situs BTS yang mengalami gangguan dari total 2.601 situs yang ada di daerah tersebut.
Gempa Mengguncang Wilayah Palu
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa gempa bumi tektonik berkekuatan 6,7 skala Richter terjadi di Palu pada Selasa, pukul 10.27 WIB. Episentrum gempa berada di darat, tepatnya pada koordinat 1,13 derajat Lintang Selatan dan 120,23 derajat Bujur Timur. Lokasi ini berjarak sekitar 42 kilometer ke arah tenggara Kota Palu. Gempa tersebut termasuk dalam kategori dangkal, dengan kedalaman pusat seismik mencapai 10 kilometer.
“Gempa bumi tersebut berkategori dangkal dengan kedalaman pusat gempa mencapai 10 kilometer, namun hasil pemodelan matematis menunjukkan aktivitas seismik ini tidak berpotensi memicu terjadinya tsunami,”
kata BMKG dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa.
Pemulihan BTS Terus Berlangsung
Kemkomdigi menyatakan bahwa pemulihan jaringan komunikasi sedang berjalan di tiga kabupaten yang terkena dampak. Sejauh ini, 8 situs BTS dari 29 yang rusak telah berhasil dioperasikan kembali. Angka ini mencapai sekitar 27,59 persen dari total situs yang terganggu. Kota Palu menjadi wilayah dengan kemajuan tercepat, dengan lima situs yang kembali berfungsi, disusul Kabupaten Sigi yang berhasil memulihkan tiga situs. Di Kabupaten Poso, pemulihan masih dalam proses, dengan 13 situs yang masih mengalami gangguan.
Penyebab Gangguan Jaringan Telekomunikasi
Berdasarkan laporan dari operator telekomunikasi, gangguan jaringan terjadi karena beberapa faktor, termasuk kerusakan jalur transmisi dan putusnya pasokan listrik. Situs BTS yang rusak tersebar di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Poso, dengan sebagian besar keberadaannya terpusat di daerah-daerah yang terkena guncangan terkuat. Kementerian Komunikasi dan Digital berkomitmen untuk terus memantau kondisi jaringan serta melibatkan pihak terkait guna mempercepat proses pemulihan.
Koordinasi dengan Operator dan Pihak Terkait
Kemkomdigi aktif berkoordinasi dengan operator telekomunikasi, pemerintah daerah, serta tim penanggulangan bencana untuk mengembalikan layanan komunikasi secepat mungkin. Upaya ini dilakukan sebagai respons terhadap dampak gempa yang mengganggu kebutuhan masyarakat. Selain itu, kementerian juga memastikan keberlangsungan operasional personel dan fasilitas telekomunikasi di lapangan. Hingga saat ini, tidak ada laporan korban yang terkena dampak langsung di lingkungan BTS.
Perkembangan Selanjutnya
Kemkomdigi menyatakan bahwa pemulihan jaringan akan terus dipantau dan dilaporkan secara berkala. Upaya ini bertujuan untuk memberikan informasi terkini kepada publik mengenai keberhasilan serta tantangan yang dihadapi dalam mengembalikan layanan. BMKG mengonfirmasi bahwa gempa utama diikuti oleh gempa susulan dengan magnitudo 5,2, yang berpusat di 44 kilometer timur tenggara Palu. Kedalaman gempa susulan sama dengan gempa utama, yaitu sekitar 10 kilometer.
Kondisi Situs BTS yang Terdampak
Dari total 29 situs BTS yang terganggu, 21 di antaranya masih dalam kondisi down atau tidak beroperasi. Situs-situs ini berada di tiga daerah yang terkena gempa, yaitu Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Poso. Meski pemulihan sudah dimulai, beberapa situs masih memerlukan waktu lebih lama untuk diperbaiki. Perbaikan infrastruktur telekomunikasi di Palu dilakukan secara bertahap, dengan fokus pada area yang paling parah terkena kerusakan.
Kesadaran akan Dampak Gempa
Penyebab utama gangguan pada BTS adalah kerusakan fisik diakibatkan oleh guncangan gempa. Jalur transmisi dan pasokan listrik yang putus menyebabkan hambatan dalam penyediaan layanan komunikasi. Para pekerja di lapangan harus bekerja ekstra untuk mengatasi masalah ini. Pemulihan jaringan juga tergantung pada kecepatan kerja operator telekomunikasi serta dukungan dari pemerintah daerah setempat.
Respons Pemerintah dan Pihak Terkait
Menurut laporan Kemkomdigi, tidak ada korban yang tercatat di lingkungan fasilitas telekomunikasi setelah gempa. Namun, kondisi masyarakat di Palu tetap membutuhkan dukungan dari layanan komunikasi yang stabil. Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Digital mempercepat upaya pemulihan melalui koordinasi dengan operator, pusat layanan darurat, serta tim pemulihan infrastruktur. Pemulihan ini juga didukung oleh penyedia perangkat keras dan perangkat lunak yang diperlukan untuk mengembalikan fungsi BTS.
Perkembangan Selama Tiga Menit Setelah Gempa
Setelah gempa utama, USGS (Badan Pemantauan Geologi Internasional) mendeteksi gempa susulan dengan magnitudo 5,2 yang terjadi tiga menit kemudian. Episentrum gempa susulan berada di 44 kilometer timur tenggara Palu, dengan kedalaman yang sama seperti gempa utama. Meski gempa susulan lebih ringan, aktivitas seismik ini memperkuat kekhawatiran masyarakat terhadap stabilitas wilayah. Namun, BMKG mengklaim bahwa tidak ada potensi tsunami dari aktivitas gempa tersebut.
Kondisi Seluruh Wilayah Terdampak
Kemkomdigi terus memantau perkembangan situasi di seluruh wilayah yang terkena gempa. Jumlah situs BTS yang terdampak mencapai
