Banjir Rendam Empat Desa di Kasimbar, Parigi Moutong: 115 Rumah Tangga Terdampak
Fukushimask.com – Hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kecamatan Kasimbar pada Senin pagi memicu meluapnya aliran sungai dan merendam pemukiman di empat desa sekaligus. Total 115 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, tercatat terdampak peristiwa banjir yang terjadi sekitar pukul 09.00 Wita. Kondisi genangan air masih berlangsung hingga laporan terakhir, namun tidak satu pun warga yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya.
Kecamatan Kasimbar secara geografis berada di kawasan yang rawan terhadap limpasan air sungai, terutama ketika curah hujan melampaui kapasitas serapan tanah dan daya tampung badan sungai dalam waktu singkat. Pola cuaca musiman di Sulawesi Tengah kerap menghadirkan hujan lebat berdurasi pendek namun intensitas tinggi, yang dalam beberapa tahun terakhir semakin sering memicu banjir lokal di daerah-daerah bantaran sungai. Peristiwa kali ini menambah daftar panjang tantangan infrastruktur drainase dan tata kelola sungai di wilayah tersebut.
Sebaran Dampak per Desa
Plt Kepala BPBD Parigi Moutong, Moh Rivai, merinci bahwa banjir tidak berdampak merata di keempat desa yang terdampak. Di Desa Kasimbar Palapi, sebanyak 33 KK mengalami genangan air. Selain rumah warga, satu masjid, satu sekolah dasar, lapangan sepak bola, serta jalan desa turut terendam. Di desa yang sama, sekitar empat hektare kebun milik warga juga dilaporkan tergenang, yang berpotensi mengganggu hasil panen dan mata pencaharian petani setempat.
Desa Kasimbar mencatat sekitar 40 KK terdampak, dengan masjid dan bangunan sekolah ikut terendam air. Sementara itu, Desa Kasimbar Selatan mengalami dampak serupa pada skala yang hampir identik, yakni sekitar 40 KK terdampak dan satu sekolah yang bangunannya tergenang banjir. Desa Kasimbar Induk juga termasuk dalam daftar wilayah yang dilanda luapan air, meskipun rincian jumlah KK di desa tersebut tidak diuraikan secara terpisah dalam keterangan resmi.
Tanpa Pengungsian, Warga Tetap di Rumah
Salah satu aspek yang membedakan peristiwa ini dari banjir-banjir sebelumnya di wilayah yang sama adalah tidak adanya pengungsian. Moh Rivai menegaskan bahwa seluruh warga terdampak memilih bertahan di rumah masing-masing. Keputusan ini kemungkinan dipengaruhi oleh tingkat ketinggian genangan yang belum mencapai ambang berbahaya, serta ketersediaan jalur evakuasi yang masih dapat diakses jika situasi memburuk.
“Sejauh ini tidak ada warga mengungsi,” ujar Moh Rivai.
Kendati demikian, ketiadaan pengungsian tidak berarti risiko telah sepenuhnya tereliminasi. Warga yang tetap berada di rumah tergenang tetap menghadapi potensi bahaya seperti arus air yang berubah arah, kerusakan struktur bangunan, serta risiko kesehatan akibat paparan air kotor dalam jangka waktu tertentu.
Respons Penanganan dan Koordinasi Lintas Sektor
Hingga laporan terakhir, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Parigi Moutong masih berada di lapangan untuk melakukan asesmen cepat atau kaji cepat terhadap skala kerusakan dan kebutuhan mendesak warga. Langkah penanggulangan tidak berjalan secara tunggal oleh satu instansi; koordinasi lintas sektor telah diaktifkan guna memastikan penanganan yang terpadu dan efisien.
“Pemerintah segera melakukan normalisasi sungai dan menyalurkan bantuan logistik. Kami sedang berkoordinasi dengan instansi terkait yakni Dinas Pekerjaan Umum (PU) dan Balai Wilayah Sungai (BWS),” kata Moh Rivai.
Normalisasi sungai yang dimaksud mencakup pembersihan sedimen, sampah, dan material lain yang menyumbat aliran air, sehingga kapasitas sungai kembali optimal dan risiko limpasan berulang dapat ditekan. Keterlibatan Balai Wilayah Sungai menunjukkan bahwa penanganan tidak hanya bersifat darurat jangka pendek, tetapi juga menyentuh aspek teknis pengelolaan badan air dalam skala yang lebih luas.
Implikasi dan Catatan untuk Warga
Terendamnya fasilitas pendidikan dan tempat ibadah di tiga desa sekaligus berarti aktivitas belajar-mengajar serta kegiatan keagamaan akan terganggu setidaknya hingga air surut dan bangunan dinyatakan aman. Petani di Kasimbar Palapi yang kebunnya tergenang empat hektare perlu waspada terhadap kerusakan tanaman dan kontaminasi tanah oleh sedimen sungai. Jalan desa yang terendam juga menghambat mobilitas warga dan distribusi logistik, sehingga pemulihan infrastruktur jalan menjadi prioritas setelah penanganan darurat.
Warga di kawasan bantaran sungai Kasimbar diimbau tetap memantau perkembangan cuaca dan ketinggian air, serta menyiapkan dokumen penting dan kebutuhan pokok di tempat yang lebih tinggi sebagai langkah antisipatif. BPBD Parigi Moutong diharapkan memperbarui informasi secara berkala agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat tanpa menunggu instruksi formal.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Hujan deras 115 KK di Parigi?
Hujan deras 115 KK di Parigi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Hujan deras 115 KK di Parigi matter?
Hujan deras 115 KK di Parigi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

