Wamenko Pangan: Ribuan personel atasi karhutla tiga wilayah di Kalsel

8 hours ago  ·  4 min read
By Joseph Wilson - fukushimask.com

Perang Total Melawan Api: 300 Pompa Air dan Ribuan Personel Dikerahkan di Tiga Titik Kritis Banjarbaru

Fukushimask.com – Kota Banjarbaru, ibu kota Kalimantan Selatan, kini menjadi episentrum operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melibatkan skala personel belum pernah terjadi sebelumnya di provinsi tersebut. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan telah mengaktifkan ribuan personel lintas instansi untuk memadamkan api di tiga kawasan prioritas. Peninjauan langsung dilakukan pada Senin di lapangan, di mana Wamenko Pangan menyaksikan secara dekat bagaimana mesin-mesin pompa air bekerja tanpa henti di tengah lahan gambut yang terus mengancam.

“Penanganan dilakukan secara sistematis melalui pembagian wilayah berdasarkan karakteristik lahan dan kondisi kebakaran yang terjadi di lapangan.”

Pernyataan tersebut disampaikan Hanif Faisol Nurofiq saat berada di lokasi operasi. Ia menekankan bahwa pendekatan yang diterapkan bukan sekadar memadamkan titik api secara reaktif, melainkan membaca karakter setiap hamparan lahan untuk menentukan metode yang paling tepat. Strategi ini menjadi krusial karena kebakaran di atas tanah gambut memiliki perilaku yang sangat berbeda dibandingkan kebakaran di lahan mineral atau vegetasi kering biasa.

Tiga Zona Prioritas dan Karakteristik Lahan yang Berbeda

Operasi pemadaman difokuskan pada tiga wilayah di Banjarbaru: Guntung Damar, Hutan Lindung Liang Anggang, serta kawasan Pengayuan. Masing-masing zona memiliki profil risiko tersendiri. Di Guntung Damar dan Hutan Lindung Liang Anggang, tantangan utama berasal dari lapisan gambut yang menyimpan bahan organik mudah terbakar hingga beberapa meter di bawah permukaan tanah. Sekali api menembus lapisan tersebut, pemadaman konvensional dengan air dari atas tidak lagi memadai. Karena itu, metode yang dipilih adalah pembasahan intensif menggunakan mesin pompa air berkapasitas besar, dengan tujuan menjaga kelembapan tanah agar api tidak kembali menyala setelah tampak padam.

“Di Guntung Damar dan Hutan Lindung Liang Anggang, lahan gambut menjadi tantangan utama sehingga pemadaman dilakukan melalui metode pembasahan menggunakan mesin pompa air. Metode tersebut untuk membantu menjaga kondisi lahan tetap basah dan mencegah api kembali muncul.”

Skala pengerahan peralatan di kedua lokasi gambut tersebut sangat masif. Pada malam sebelum peninjauan, 50 unit pompa air tambahan berkapasitas empat inci baru saja tiba dan langsung dioperasikan. Sebelumnya, sekitar 50 pompa lain sudah lebih dulu bekerja di kawasan yang sama. Secara kumulatif, dukungan peralatan terus diperkuat hingga total mencapai sekitar 300 unit pompa air yang beroperasi serentak. Rincian asal unit tersebut mencakup 100 pompa dari Pemprov Kalsel, 50 dari Kementerian Pertahanan, dan 50 dari Kementerian Pertanian, dengan sisanya berasal dari berbagai sumber pendukung lainnya.

Sistem Pergantian Tim untuk Operasional Tanpa Henti

Angka 300 pompa bukan sekadar statistik logistik. Setiap unit membutuhkan sekitar enam personel agar dapat berfungsi secara optimal. Artinya, ratusan pompa yang beroperasi bersamaan menuntut ribuan orang yang bekerja dalam sistem pergantian tim (shift) agar pemadaman dan pembasahan lahan tidak pernah terhenti, bahkan di tengah malam. Wamenko Pangan menjelaskan bahwa personel dikerahkan secara bergantian sesuai kebutuhan lapangan, memastikan bahwa aliran air ke titik-titik kritis tidak pernah terputus.

“Setiap unit pompa membutuhkan sekitar enam orang agar dapat beroperasi secara optimal. Dengan pengerahan ratusan unit pompa, personel yang terlibat dikerahkan secara bergantian untuk memastikan kegiatan pemadaman dan pembasahan lahan tetap berjalan secara berkelanjutan.”

Mekanisme pergantian tim ini menjadi tulang punggung operasi. Tanpa rotasi personel yang terencana, kelelahan akan menurunkan efektivitas pemadaman pada jam-jam kritis ketika api justru cenderung meluas di malam hari karena suhu turun dan angin berubah arah. Dengan sistem shift, tekanan air ke lahan gambut tetap konstan selama 24 jam.

Pengayuan: Dua Sub-Zona, Satu Tujuan

Berbeda dengan dua kawasan gambut sebelumnya, penanganan di kawasan Pengayuan dipecah menjadi dua sub-zona berdasarkan orientasi geografis. Zona utara ditangani secara teknis oleh Pemerintah Kota Banjarbaru dengan dukungan penuh dari Pemprov Kalsel, sementara zona selatan menjadi tanggung jawab Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Selatan. Pembagian ini memungkinkan setiap tim fokus pada medan yang mereka pahami tanpa tumpang-tindih komando.

Untuk mendukung kedua sub-zona Pengayuan, sebanyak 30 unit pompa dikerahkan. Dari jumlah tersebut, 26 unit berasal dari dukungan masyarakat yang berperan sebagai mitra pemerintah dalam penanganan bencana, sedangkan empat unit lainnya merupakan bantuan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). Kolaborasi antara sektor publik, komunitas lokal, dan industri perkebunan ini menunjukkan bahwa penanganan karhutla di Kalimantan Selatan tidak lagi bergantung pada satu entitas saja.

“Operasi penanganan karhutla khusus di Pengayuan didukung sekitar 350 personel yang dikerahkan untuk memperkuat upaya pemadaman di lapangan sesuai pembagian wilayah dan kebutuhan penanganan pada masing-masing subzona.”

Angka 350 personel khusus untuk Pengayuan, ditambah ribuan personel di dua kawasan gambut lainnya, menempatkan operasi kali ini sebagai salah satu pengerahan sumber daya manusia terbesar dalam sejarah penanganan karhutla di Kalimantan Selatan. Koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan sektor swasta dalam satu komando terpadu menjadi faktor yang membedakan operasi ini dari respons karhutla di tahun-tahun sebelumnya, ketika fragmentasi kewenangan kerap memperlambat waktu respons.

Bagi masyarakat Banjarbaru dan sekitarnya, keberhasilan operasi ini akan menentukan apakah musim kebakaran tahun ini dapat diakhiri sebelum api menyebar ke kawasan permukiman dan infrastruktur. Lahan gambut, sekali terbakar, melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar dan menghasilkan kabut asap yang berdampak pada kualitas udara lintas provinsi. Dengan ratusan pompa yang bekerja tanpa henti dan ribuan personel yang bergantian menjaga garis depan, pemerintah berharap api dapat dipadamkan secara permanen sebelum memasuki fase sulit yang biasanya terjadi ketika musim kemarau mencapai puncaknya.

Frequently Asked Questions

What is Wamenko Pangan?

Wamenko Pangan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Wamenko Pangan matter?

Wamenko Pangan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category