Profil Dirgayuza, Asisten Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan
New Policy – Pada hari Rabu, 8 Oktober, Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik Dirgayuza Setiawan sebagai Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisis Kebijakan. Penunjukan ini diumumkan melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33/M Tahun 2025, yang menetapkan masa tugas Dirgayuza selama periode 2024–2029. Sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem komunikasi strategis di lingkungan Istana Kepresidenan, Dirgayuza diberikan tanggung jawab untuk mengelola narasi kebijakan serta memastikan komunikasi yang efektif dan berdampak luas.
Latar Belakang Pribadi
Dirgayuza Setiawan lahir di Jakarta pada 15 Mei 1989, menjadikannya seorang profesional berusia 36 tahun saat ini. Ia merupakan anak dari pasangan Kapten CDM. Dr. Boyke Setiawan, mantan pelatih terjun payung militer, dan Jasmin Kartiasa Prawirabisma, atlet nasional terjun payung. Meski lahir dari keluarga yang berkecimpung dalam dunia militer, Dirgayuza justru menunjukkan minatnya pada bidang kebijakan dan komunikasi sejak dini.
Kehidupan karier Dirgayuza terus berkembang seiring waktu. Ia mulai terlibat dalam lingkaran politik dan pemerintahan sejak masih muda, seperti menjadi anggota organisasi sayap Gerindra. Dalam kampanye 2014, Dirgayuza dikenal sebagai salah satu “Jedi Knight” muda yang dianggap penting dalam strategi kampanye Prabowo Subianto. Ia juga pernah menjabat sebagai kepala penulis naskah pidato presiden pada tahun 2019, menunjukkan perannya dalam membangun narasi politik yang kuat.
Pendidikan dan Pengalaman Karier
Sebelum memasuki dunia pemerintahan, Dirgayuza mengenyam pengalaman di sektor swasta dan BUMN. Ia pernah bekerja sebagai konsultan di McKinsey Indonesia dari 2017 hingga 2020, serta menjabat Wakil Direktur Utama PT Agro Industri Nasional (2020–2022). Selain itu, Dirgayuza juga duduk di posisi strategis sebagai Direktur Pengembangan Usaha dan Pemasaran PT Angkasa Transportindo Selaras (2022) dan Direktur Pengembangan serta Pengendalian Usaha PT RNI (Persero) atau ID FOOD (2023–sekarang). Di sela kesibukannya, ia aktif sebagai Adjunct Fellow di Pusat Kajian Masyarakat Digital Universitas Gadjah Mada (UGM).
Dalam bidang akademik, Dirgayuza memulai studi Sarjana (Bachelor of Arts) di University of Melbourne, Australia, dengan fokus pada Media Communications dan Political Science. Prestasi akademiknya mengantarkan ia menjadi Wakil Presiden Persatuan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) dan delegasi Indonesia dalam Y8 Summit tahun 2013 sebagai Head of State. Selama masa belajar, ia juga pernah terpilih sebagai anggota parlemen magang di Parlemen Victoria (2011) dan masuk nominasi penerima penghargaan Australian Alumni Awards (2012).
Dirgayuza terus berkembang secara profesional setelah lulus dari Melbourne. Ia mengikuti Executive Program in International Business/Commerce di Tsinghua University, Tiongkok, pada 2013. Setelah itu, ia melanjutkan studi Master of Social Science of the Internet (MSc) di Oxford University, Inggris, dari 2015 hingga 2016. Di sana, ia fokus pada riset mengenai media digital, regulasi internet, dan perlindungan anak di dunia maya. Dari catatan OII Oxford, ia telah menerbitkan sekitar 11 buku praktis tentang teknologi dan satu karya berjudul buku tentang filsafat politik.
Keterlibatan dalam Organisasi Politik
Dalam ranah politik, Dirgayuza aktif sejak masa muda. Ia menjadi anggota Parlemen Muda Indonesia (2012) dan dipercaya sebagai Ketua Departemen Kemahasiswaan dan Pelajar Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) tahun yang sama. Posisi tersebut memperkuat keterlibatannya dalam kegiatan kader dan pembangunan ideologi partai. Selain itu, Dirgayuza juga pernah menjabat sebagai Head of Social Media & Infopub Partai Gerindra (2017–2020), memastikan komunikasi partai tetap relevan di tengah dinamika media sosial.
Dalam dunia kebijakan, Dirgayuza pernah menjadi Ketua Tim Tenaga Ahli di Kementerian Kelautan dan Perikanan (2021–2022), menunjukkan kapasitasnya dalam menganalisis isu strategis. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi, seperti Oxford Indonesia Society dan Diplomasi Pemuda Indonesia. Keahliannya di bidang politik dan teknologi terus diuji melalui berbagai tanggung jawab yang diberikan oleh lembaga-lembaga nasional maupun internasional.
Di sela-sela aktifitasnya, Dirgayuza menulis karya-karya yang memperkaya perbendaharaan pengetahuan publik. Beberapa buku yang diterbitkannya antara lain “Nilai-Nilai Pendekar Pejuang, Prabowo: Rekam Foto Sang Patriot” (2015), “Paradoks Indonesia dan Solusinya” (2022), “Indonesia Menang” (2018), “Kepemimpinan Militer” (2021), “Strategi Transformasi Bangsa: Menuju Indonesia Emas 2045” (2023), serta “100 Ide Untuk Presiden Dan DPR Baru” (2023). Karya-karya tersebut mencerminkan visinya tentang kebijakan yang harmonis dan berkelanjutan.
Usai dilantik sebagai asisten presiden, Dirgayuza mengungkapkan rasa syukur atas amanah baru. “Mari kita sama-sama wujudkan Indonesia yang kita dambakan, dengan tutur narasi yang berisi dan kebijakan-kebijakan yang dipertimbangkan dan diputuskan dengan bijaksana,” tulisnya dalam unggahan Instagram, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan perubahan positif melalui komunikasi yang kuat dan kebijakan yang strategis.
Kehadiran Dirgayuza di Istana Kepresidenan diharapkan memberikan kontribusi signifikan dalam membangun citra Indonesia di tingkat global. Pengalaman yang luas di berbagai sektor, dari media sosial hingga kebijakan, menjadikannya pilihan tepat untuk mengelola isu-isu strategis dan memastikan komunikasi pemerintah tetap konsisten. Dengan latar belakang akademik yang solid dan pengalaman praktis di berbagai institusi, Dirgayuza dianggap mampu menggabungkan teori dengan implementasi kebijakan yang relevan.
Penutup
Dirgayuza Setiawan atau kerap disapa Yuza, terus menunjukkan perannya sebagai penulis, analis, dan komunikator yang berpengaruh. Dari bursa menteri Prabowo-Gibran 2024 hingga posisi strategis di perusahaan-perusahaan besar, ia selalu mampu menemukan jalan untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa. Dengan pengalaman yang meliputi pendidikan, kar
