Strategi Penting: AS ancam sanksi sekunder bagi pendukung Iran
AS Ancam Sanksi Sekunder bagi Pendukung Iran
Washington – Departemen Keuangan Amerika Serikat memberikan peringatan menyeluruh kepada seluruh institusi keuangan global, menyatakan kemampuan untuk menerapkan sanksi sekunder terhadap pihak yang terus mendukung operasi Iran, meski perundingan langsung antara kedua negara masih terhenti. Kebijakan ini bertujuan mempertahankan tekanan ekonomi maksimal terhadap Iran, dengan penekanan pada langkah agresif yang akan diambil jika ada entitas yang tidak mematuhi aturan.
Langkah Agresif dalam Tekanan Ekonomi
Dalam pernyataan yang diunggah ke platform X, Departemen Keuangan AS meminta lembaga keuangan memahami bahwa mereka akan memanfaatkan semua instrumen yang dimiliki, termasuk sanksi sekunder, terhadap pihak asing yang terus mendukung tindakan Iran. Sanksi ini diarahkan pada lembaga keuangan yang dinyatakan secara aktif memfasilitasi kegiatan Iran, seperti penyaluran bahan bakar nuklir atau operasi militer.
“Lembaga keuangan harus menyadari bahwa Departemen Keuangan AS akan memanfaatkan seluruh instrumen dan kewenangan yang tersedia serta siap menjatuhkan sanksi sekunder terhadap lembaga keuangan asing yang terus mendukung aktivitas Iran,”
Penutupan Izin Penjualan Minyak Iran
Izin sementara untuk menjual minyak Iran yang tersisa di laut akan berakhir dalam beberapa hari, menurut pengumuman resmi. Pengecualian ini berlaku selama 30 hari sejak 20 Maret, memungkinkan ekspor sekitar 140 juta barel minyak. Kebijakan ini ditujukan untuk mendinginkan kenaikan harga energi global yang dipicu oleh perang AS-Israel terhadap Iran.
Pengecualian yang berlaku hingga 19 April juga dipengaruhi respons Iran yang menutup Selat Hormuz dan menargetkan infrastruktur energi di wilayah sekutu Arab Teluk. Tindakan tersebut memicu kenaikan harga minyak secara signifikan, menjadi faktor utama tekanan ekonomi yang dijalankan pemerintah AS.
Perundingan Berakhir Tanpa Kesepakatan
Perundingan langsung intensif antara AS dan Iran yang berlangsung maraton akhirnya ditutup tanpa mencapai kesepakatan permanen. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pembicaraan akan dilanjutkan di Pakistan dalam dua hari ke depan, meskipun belum ada pengumuman resmi mengenai rencana tersebut.
