Key Strategy: CORE: Pemerintah perlu percepat investasi Danantara di sektor energi
Key Strategy: Pemerintah Percepat Investasi Danantara di Sektor Energi
Krisis Energi Global Memacu Kebutuhan Investasi
Key Strategy – Dari Jakarta, Center of Reform on Economics (CORE) menyatakan bahwa pemerintah harus mempercepat pengoperasian Badan Pengelola Investasi Danantara (Danantara) sebagai upaya meningkatkan investasi di bidang energi, terutama energi terbarukan. Langkah ini diperlukan untuk menghadapi tekanan krisis energi global yang saat ini terjadi, dengan fluktuasi harga minyak yang cukup signifikan. Laporan Brief Report: Quarterly Economic Review Q1-2026, yang diterbitkan oleh CORE, menekankan bahwa momentum kenaikan harga energi akibat konflik di Selat Hormuz bisa dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk memperkuat ketahanan kebutuhan energi nasional.
“Key Strategy mengharuskan pemerintah memanfaatkan situasi krisis energi saat ini sebagai pemicu percepatan pembangunan infrastruktur penunjang distribusi energi ke masyarakat,” menurut rekomendasi laporan tersebut.
Kebutuhan Diversifikasi Sumber Energi
CORE menggarisbawahi bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan investasi di sektor hulu energi, namun progres sektor hilir masih tertinggal. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan antara produksi dan distribusi energi, yang berpotensi memperparah ketergantungan pada impor, terutama liquefied petroleum gas (LPG). Dengan Key Strategy, percepatan investasi di sektor hilir dinilai kritis untuk meningkatkan kapasitas pasokan energi dan mengurangi dampak ekspor minyak yang terus berlangsung.
Danantara, sebagai lembaga yang bertugas mendorong investasi energi, memiliki peran strategis dalam mendorong transisi energi nasional. Laporan CORE menyarankan bahwa lembaga ini bisa menjadi penopang utama dalam menerapkan Key Strategy, dengan fokus pada proyek energi terbarukan yang mampu mengurangi risiko ketergantungan pada sumber daya tradisional. Salah satu contoh adalah pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), yang memiliki potensi besar di wilayah Indonesia.
Dampak Eksternal pada Ekonomi Negara
Key Strategy dalam laporan CORE juga menyoroti dampak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terhadap pasar energi global. Harga minyak dunia melonjak hingga 112 dolar AS per barel pada kuartal I-2026, jauh di atas asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) dalam APBN 2026, yang hanya 70 dolar AS per barel. Kenaikan ini berdampak langsung pada anggaran pemerintah, karena memaksa peningkatan subsidi dan kompensasi energi.
Pada Februari 2026, realisasi belanja subsidi energi mencapai Rp51,5 triliun, meningkat 382,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Selain itu, cadangan devisa negara turun menjadi 151,9 miliar dolar AS, sementara capital outflow mencapai 1,1 miliar dolar AS di bulan Maret. Key Strategy juga menyoroti peningkatan imbal hasil surat berharga negara (SBN) ke level 7,5 persen, dengan spread terhadap US Treasury melebar hingga 243 basis poin.
Simulasi CORE: Defisit APBN Berpotensi Meluas
Dalam simulasi ekonomi yang dilakukan CORE, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berpotensi meningkat signifikan jika harga minyak tetap stabil di sekitar 100 dolar AS per barel. Dari baseline Rp689 triliun atau 2,68 persen terhadap PDB, defisit bisa mencapai Rp801 triliun. Jika harga minyak naik ke 112 dolar AS per barel, defisit tersebut bisa terus berkembang hingga Rp914 triliun atau 3,55 persen terhadap PDB. Ini menunjukkan bahwa krisis energi global tidak hanya memengaruhi sektor produksi, tetapi juga menekan keuangan pemerintah secara menyeluruh.
Key Strategy menegaskan bahwa kenaikan harga energi bisa memicu dampak berantai pada perekonomian. Biaya subsidi yang meningkat akan mengurangi dana yang tersedia untuk sektor-sektor lain, seperti pendidikan dan kesehatan. Jika tidak ada intervensi tepat waktu, tekanan ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Oleh karena itu, pemerintah diminta segera mengoptimalkan peran Danantara dalam Key Strategy untuk mempercepat investasi energi terbarukan dan mengurangi risiko dari krisis yang sedang berlangsung.
Langkah Strategis untuk Masa Depan Energi
Key Strategy juga menekankan pentingnya perencanaan jangka panjang dalam mengubah struktur energi nasional menjadi lebih berkelanjutan. Hal ini melibatkan peningkatan infrastruktur distribusi yang efisien, penelitian dan pengembangan teknologi hijau, serta peningkatan keterlibatan sektor swasta. Dengan pendekatan ini, Indonesia bisa memperkuat kapasitas energi dan mengurangi ketergantungan pada impor, terutama saat harga minyak cenderung naik.
Danantara dianggap sebagai mitra kritis dalam Key Strategy ini. Pemerintah perlu memastikan lembaga tersebut tidak hanya menjadi fasilitator investasi, tetapi juga pendorong inovasi dalam sektor energi. CORE mengusulkan bahwa perluasan jaringan distribusi energi, terutama listrik tenaga surya dan angin, akan mempercepat transisi ke sistem energi yang lebih ketat dan berkelanjutan. Dengan Key Strategy, ketahanan energi nasional bisa tercapai, sekaligus mengurangi risiko ekonomi yang diakibatkan oleh krisis global.
