Main Agenda: Araghchi tegaskan Iran tak akan menyerah pada ancaman
Araghchi tegaskan Iran tak akan menyerah pada ancaman
Main Agenda – Pada pertemuan Menteri Luar Negeri kelompok BRICS 2026 yang berlangsung di India, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak akan mengakui solusi militer sebagai jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Ia menegaskan, negara ini tetap berkomitmen pada pendekatan diplomatik meskipun terus-menerus menghadapi tekanan dari pihak luar. Menurut laporan Kantor Berita Fars, Araghchi mengungkapkan bahwa Iran telah menjadi target serangan brutal dan ilegal dua kali dalam kurun waktu kurang dari setahun oleh Amerika Serikat dan Israel.
Peran BRICS dalam situasi konflik
Pertemuan yang diusung dengan tema “Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan” dilakukan di tengah ketegangan antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, yang telah memicu berbagai peristiwa militer sejak 28 Februari. Gencatan senjata antara kedua pihak, yang dimediasi oleh Pakistan, mulai berlaku pada 8 April, meskipun negosiasi di Islamabad belum mencapai kesepakatan permanen. Dalam konteks ini, Araghchi menekankan bahwa Iran tetap menjadi pihak yang tidak terkalahkan, dan setiap kali dihadapkan pada tekanan, negara ini justru muncul lebih kuat serta bersatu.
“Sekarang harus jelas bagi semua orang bahwa Iran tidak terkalahkan. Setiap kali berada di bawah tekanan, negara ini justru semakin kokoh dan bersemangat dalam menjaga kebebasannya,” ujar Araghchi.
Araghchi juga mempertegas bahwa Iran siap menghadapi ancaman dengan kekuatan penuh, sekaligus menegaskan kembali komitmennya pada diplomasi sebagai alat utama dalam menyelesaikan konflik. Ia mengatakan, sebagaimana yang sering diucapkan sebelumnya, tidak ada solusi militer yang dapat memecahkan masalah apa pun terkait Iran. “Kami, rakyat Iran, tidak akan menyerah pada tekanan atau ancaman apa pun, tetapi kami akan merespons secara bijak dan terukur,” tambahnya.
Kesiapan Iran untuk bertindak
Dalam menyambut tantangan saat ini, Araghchi menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran telah bersiap memberikan respons yang tegas dan menghancurkan terhadap para agresor asing. Meskipun demikian, ia menekankan bahwa rakyat Iran lebih memilih perdamaian dan tidak menginginkan perang. “Dalam situasi yang memalukan ini, kami bukanlah pihak yang menyerang, melainkan korban dan pihak yang haknya dilanggar,” jelasnya.
Ketegangan regional semakin memanas setelah serangan militer yang dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap Iran. Peristiwa ini memicu respons tajam dari pihak Iran, termasuk penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama perdagangan minyak. Meski gencatan senjata telah diterapkan, persaingan militer dan pembatasan maritim masih berlangsung, dengan AS mempertahankan blokade angkatan laut terhadap Iran sejak 13 April. Langkah ini dianggap sebagai upaya untuk memperkuat tekanan ekonomi terhadap negara itu.
Kehadiran Iran dalam BRICS 2026 mencerminkan peran strategis negara ini dalam menjalin kerja sama internasional, terutama di tengah konflik dengan dua pihak besar seperti AS dan Israel. Dalam pertemuan tersebut, Iran juga bersama dengan Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Etiopia, Uni Emirat Arab, dan Indonesia menegaskan komitmen untuk mendorong keberlanjutan hubungan diplomatik dan ekonomi. Araghchi berharap pertemuan ini menjadi platform untuk menguatkan solidaritas antarnegara anggota BRICS, sekaligus menyeimbangkan keseimbangan kekuatan global.
“Seperti yang telah berulang kali saya tekankan, tidak ada solusi militer untuk masalah apa pun yang berkaitan dengan Iran. Kami akan merespons dengan hormat, tetapi juga dengan kekuatan penuh untuk membela kebebasan dan kedaulatan kita,” tegas Araghchi.
Perang dagang, sanksi ekonomi, dan ancaman militer yang terus-menerus dilayangkan terhadap Iran berdampak signifikan pada perekonomian dan stabilitas politik negara tersebut. Namun, Araghchi menyatakan bahwa Iran tetap optimis dan berupaya membangun ketahanan melalui kerja sama internasional. Ia menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi pilar utama dalam memastikan keberlanjutan hubungan dengan negara-negara lain, meskipun lingkungan global terus berubah dinamis.
Kehadiran Iran dalam BRICS 2026 tidak hanya menunjukkan keberpihakannya pada negara-negara berkembang, tetapi juga menegaskan posisi tegas dalam menghadapi tekanan dari pihak-pihak besar. Meski gencatan senjata berlaku, konflik antara AS, Israel, dan Iran tetap memicu ketegangan yang berdampak pada keamanan regional. Dalam suasana ini, Araghchi berharap dialog dan kerja sama antarnegara dapat membantu mendinginkan situasi, sekaligus mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut.
Blokade angkatan laut AS yang berlangsung sejak 13 April dianggap sebagai bagian dari strategi untuk membatasi akses Iran ke pasar internasional. Meski demikian, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah, karena negara ini memiliki persediaan sumber daya dan kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang. “Kami akan terus berjuang dengan kekuatan penuh, sambil mempertahankan komitmen pada perjuangan damai,” ujarnya.
Langkah-langkah untuk membangun keberlanjutan
Tema “Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan” dalam pertemuan BRICS 2026 dipilih untuk menyoroti pentingnya kolaborasi antarnegara dalam mengatasi tantangan bersama. Araghchi menilai pertemuan ini memberikan peluang bagi Iran dan negara-negara lain untuk memperkuat kemitraan, terutama dalam membangun kemampuan berdiri sendiri di tengah tekanan eksternal. Ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan harus dijaga dengan mengedepankan kebijakan yang konsisten dan berorientasi pada masa depan.
Dalam wawancara terpisah, Araghchi menyatakan bahwa konflik saat ini adalah bagian dari perjuangan global untuk mengamankan kepentingan masing-masing negara. Meski Iran menjadi korban serangan, negara ini tetap menekankan bahwa tindakan militer hanya akan memperburuk situasi, dan solusi politik serta diplomatik jauh lebih efektif. “Kami percaya bahwa dialog dan kerja sama adalah jalan terbaik untuk mencapai perdamaian yang abadi,” kata Araghchi.
Kehadiran Iran di BRICS 2026 juga menggambarkan keinginan untuk memperluas pengaruh politik dan ekonomi di tingkat global. Dengan dukungan dari negara-negara anggota lain, Iran berharap dapat memperkuat posisinya dalam membangun keseimbangan kekuatan internasional. Araghchi menambahkan bahwa pihaknya akan terus berjuang untuk menj
