Topics Covered: DKI pelajari strategi Cannes bangun ekonomi kreatif berbasis event
DKI pelajari strategi Cannes bangun ekonomi kreatif berbasis event
Topics Covered – Jakarta menjadi sorotan dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif melalui penyelenggaraan acara internasional. Pemprov DKI Jakarta sedang menggali pendekatan yang diterapkan Kota Cannes, Prancis, sebagai referensi utama. Kota Prancis tersebut telah mampu menjadikan sektor pariwisata dan industri kreatif sebagai motor pertumbuhan ekonomi yang signifikan, terutama melalui festival film internasional yang menarik sekitar 45 ribu peserta setiap tahun. Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menilai kota Cannes sebagai contoh luar biasa dalam mengubah pengelolaan acara menjadi pendorong utama perekonomian. “Cannes mampu menjadi kota yang hidup dari industri event,” ujarnya, Minggu. Menurut Rano, 40 persen pendapatan ekonomi kota tersebut berasal dari pariwisata, dan ia berharap Jakarta bisa mengikuti jejak serupa.
Pertemuan Strategis antara DKI Jakarta dan Cannes
Langkah DKI Jakarta ini merupakan hasil dari pertemuan antara Rano dengan delegasi Pemprov DKI bersama Wakil Wali Kota Cannes, Thomas Pariente, yang berlangsung di Cannes pada Kamis (14/5). Selama pertemuan tersebut, Rano mengungkapkan keinginan untuk kolaborasi dengan kota Prancis tersebut agar Jakarta dapat memperluas pasar konten dan meningkatkan kapasitas penyelenggaraan kegiatan internasional. “Kita perlu menggali peluang pasar yang luas, termasuk pelatihan bagi penyelenggara acara agar Jakarta bisa berkembang seperti Cannes,” tutur Rano. Ia menekankan pentingnya membangun talenta di bidang manajemen acara, yang menjadi salah satu kekuatan Cannes dalam menggerakkan ekonomi kreatif.
“Cannes luar biasa. Mereka punya universitas negeri hingga jenjang doktoral yang memungkinkan lulusannya memiliki jejaring dengan event-event internasional. Suatu saat Jakarta juga harus bisa,” kata Rano.
Dalam pertemuan tersebut, Thomas Pariente memberikan penjelasan tentang peran acara internasional dalam perekonomian Cannes. Ia menyebutkan bahwa Cannes Film Festival, yang diadakan oleh The French Association of the International Film Festival di bawah kepemimpinan Iris Knobloch, memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian kota. Selama 12 hari pelaksanaan festival, perputaran ekonomi mencapai sekitar 216 juta euro atau setara Rp4,4 triliun. Selain itu, kota Cannes juga dikenal sebagai pusat perfilman yang terus menggerakkan sektor pariwisata, media, serta industri hospitality.
Dampak Ekonomi Festival Film Cannes
Thomas Pariente menjelaskan bahwa keberhasilan Cannes tidak hanya terletak pada festival film, tetapi juga pada strategi pengelolaan acara lain yang beragam. Kota tersebut secara rutin menyelenggarakan berbagai kegiatan internasional, seperti MIPTV dan MIPCOM untuk industri televisi, festival kapal pesiar dan perahu, hingga konferensi industri kreatif lainnya. Di samping itu, setiap Juni, Cannes mengadakan festival musik selama lima hari yang menarik sekitar 15 ribu pengunjung, menghasilkan dampak ekonomi hingga 160 juta euro atau setara Rp3,2 triliun. “Kita harus belajar bagaimana Cannes memadukan berbagai jenis acara untuk memperkuat daya saing kota sebagai pusat ekonomi kreatif,” katanya.
Kota Cannes juga memanfaatkan infrastruktur yang terencana untuk mendukung penyelenggaraan acara. Salah satu venue utamanya adalah Palais des Festivals et des Congrès, yang berperan penting dalam menjaga konsistensi acara internasional. Selain itu, sistem pendukung dari pemerintah setempat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan industri kreatif. Pemprov DKI Jakarta, dengan mengambil contoh ini, berharap dapat mengembangkan kerangka kerja yang sama untuk membangun ekonomi kreatif yang lebih mandiri.
Langkah Lain dalam Mendorong Ekonomi Kreatif
Menurut Thomas Pariente, Cannes tidak hanya fokus pada festival film, tetapi juga menyelenggarakan acara kreatif lain yang menjangkau berbagai bidang. Misalnya, acara MIPTV dan MIPCOM yang menarik perhatian para pemain industri telenovela dan produksi media, serta festival musik dan konferensi yang berlangsung secara berkala. “Kita harus menciptakan ekosistem yang melibatkan banyak sektor, bukan hanya satu jenis acara,” ujarnya. Dengan demikian, Cannes mampu memperkaya sektor ekonomi kreatif melalui berbagai inisiatif yang saling terkait.
Rano Karno menyatakan bahwa dalam mencapai tujuan tersebut, DKI Jakarta perlu membangun kapasitas internal, termasuk pelatihan dan pendidikan kreatif. “Talent yang dibentuk di Jakarta harus memiliki kemampuan untuk mengelola acara secara profesional,” tambahnya. Ia juga menyoroti pentingnya memanfaatkan peluang ekspor konten lokal, yang merupakan salah satu strategi Cannes. Dengan menggabungkan pengalaman dari kota Prancis tersebut, DKI Jakarta diharapkan dapat menghadirkan inovasi yang relevan untuk meningkatkan daya tarik internasional.
Dalam jangka panjang, Rano yakin bahwa perubahan ekonomi kreatif di Jakarta memerlukan persiapan matang, termasuk kerja sama dengan institusi pendidikan dan pelaku industri di luar kota. “Kita perlu meniru cara Cannes mengintegrasikan pendidikan tinggi dengan industri event,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa penyelenggaraan acara tidak hanya bergantung pada kerja keras tim, tetapi juga pada sistem pendidikan yang mendukung ketersediaan sumber daya manusia berkualitas. Dengan memperkuat hubungan ini, DKI Jakarta bisa mengoptimalkan potensi ekonomi kreatif yang sekarang sedang dijajaki.
Kota Cannes, yang dikenal sebagai salah satu kota terbaik dalam menggelar acara internasional, memberikan contoh nyata bagaimana acara bisa menjadi penggerak utama perekonomian. Mulai dari festival film hingga festival musik, setiap kegiatan yang diselenggarakan di kota tersebut berkontribusi secara langsung pada pendapatan lokal dan pengembangan industri kreatif. Dengan belajar dari pengalaman Cannes, DKI Jakarta diharapkan dapat membangun model yang sesuai dengan konteks lokal, sehingga ekonomi kreatif bisa menjadi bagian integral dari pembangunan kota.
Pertemuan antara Rano Karno dan Thomas Pariente tidak hanya membahas potensi ekonomi kreatif, tetapi juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan pihak eksternal. Rano mengakui bahwa Indonesia perlu meniru pola yang dilakukan Cannes dalam menghadirkan acara kreatif yang bernilai tinggi. “Kita harus memiliki kerangka yang bisa mendukung kegiatan internasional secara berkelanjutan,” katanya. Dengan memperluas kerja sama ini, DKI Jakarta bisa mempercepat proses transformasi ekonomi yang lebih inklusif dan berdaya saing.
