Main Agenda: Sulteng perkuat literasi keuangan untuk generasi muda

Sulteng perkuat literasi keuangan untuk generasi muda

Main Agenda – Kota Palu, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu tempat yang sedang giat membangun kesadaran finansial generasi muda melalui kerja sama dengan Hanna Asa Indonesia. Lembaga edukasi ini berperan aktif dalam memberikan pelatihan dan wawasan mengenai pengelolaan uang serta inklusi keuangan, yang dianggap krusial dalam menghadapi tantangan ekonomi masa kini. Dukungan dari Pemerintah Kota Palu sangat berperan dalam mendorong program edukasi ini untuk terus berkembang, khususnya di kalangan remaja dan pemuda.

Kolaborasi antara pemerintah dan lembaga edukasi

Kerja sama antara pihak pemerintah dan Hanna Asa Indonesia menekankan pentingnya pendidikan keuangan sebagai fondasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Mardiyah, pendiri Hanna Asa Indonesia, mengungkapkan bahwa dukungan dari Wali Kota Palu Hadianto Rasyid sangat membantu dalam menjalankan program yang bertujuan membentuk masyarakat yang lebih bijak dalam menghadapi persoalan finansial. “Kami sudah intens berkomunikasi dengan Pak Wali Kota sejak dua tahun lalu, dan beliau sangat mendukung setiap kegiatan edukasi keuangan yang kami lakukan,” jelas Mardiyah setelah bertemu dengan Rasyid di Palu, Senin (12/5).

“Pertemuan hari ini adalah kesempatan bagus untuk menyelaraskan langkah-langkah yang akan dilaksanakan, terutama dalam menjangkau generasi muda,” tambah Mardiyah.

Dalam pertemuan tersebut, Mardiyah dan Rasyid membahas berbagai agenda, termasuk pelaksanaan kegiatan Smart Financial Journey yang akan diadakan pada Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan ini diharapkan dapat melibatkan ratusan peserta muda di Sulawesi Tengah untuk belajar cara mengelola dana secara optimal. Selain itu, mereka juga merancang program edukasi yang akan diadakan di Jakarta pada 12 Juni 2026 sebagai langkah strategis untuk memperluas jangkauan sosialisasi.

Target program dan tantangan finansial

Mardiyah menekankan bahwa program ini bertujuan mengatasi masalah yang sering dialami oleh generasi muda, seperti pendapatan yang tidak stabil, kurangnya dana darurat, dan risiko terjerat pinjaman online ilegal. “Dengan meningkatkan pemahaman mereka tentang keuangan, kita bisa membantu mereka mengambil keputusan yang lebih bijak,” ujarnya. Ia juga menyebutkan bahwa survei 2025 dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia sebesar 66,46 persen, sementara tingkat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen. Angka ini menunjukkan bahwa masih ada kebutuhan untuk meningkatkan kesadaran keuangan, terutama di kalangan pemuda.

Menurut Mardiyah, kegiatan edukasi seperti Smart Financial Journey dirancang agar peserta memahami konsep pengelolaan keuangan yang lebih baik, termasuk penggunaan teknologi dan manajemen dana secara bijak. Program ini tidak hanya diadakan secara langsung, tetapi juga akan disiarkan melalui media sosial untuk menjangkau lebih banyak orang. “Dengan menggabungkan metode langsung dan digital, kita bisa mencapai audiens yang lebih luas,” katanya.

Visi Palu sebagai contoh yang baik

Kota Palu ingin menjadi contoh untuk wilayah Indonesia Timur dalam mendorong literasi keuangan. Mardiyah menyebutkan bahwa langkah ini tidak hanya membantu individu, tetapi juga meningkatkan ekonomi secara keseluruhan. “Kami berharap Palu bisa menjadi kota yang menunjukkan bagaimana edukasi keuangan dapat berdampak positif,” tegasnya. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk menciptakan masyarakat yang mandiri dan produktif.

Dari sisi pemerintah, Hadianto Rasyid menegaskan bahwa peningkatan kesadaran keuangan menjadi bagian penting dari pembangunan wilayah. “Masyarakat yang memiliki pemahaman keuangan yang baik akan lebih mudah mengelola penghasilan, menabung, dan berinvestasi,” jelas Rasyid. Ia menambahkan bahwa kolaborasi dengan Hanna Asa Indonesia merupakan langkah strategis untuk mengatasi masalah ekonomi yang semakin kompleks.

“Kita harus memastikan generasi muda memiliki kemampuan mengelola uang sejak dini, sehingga mereka tidak mudah terjebak dalam kesulitan finansial,” kata Rasyid.

Kegiatan Smart Financial Journey yang akan diadakan pada 23 Mei 2026 menjadi salah satu poin utama dalam rencana kerja sama. Program ini dirancang untuk memberikan pemahaman tentang pengelolaan keuangan, keterampilan menabung, dan cara menghindari risiko keuangan yang tinggi. Mardiyah menyatakan bahwa peserta akan diberikan materi yang praktis dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari, seperti penggunaan aplikasi keuangan, pengelolaan utang, dan cara merencanakan keuangan pribadi.

Perspektif jangka panjang

Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada kegiatan jangka pendek, tetapi juga mencakup rencana pengembangan jangka panjang. Mardiyah menyebutkan bahwa Hanna Asa Indonesia berkomitmen untuk terus memberikan pelatihan keuangan di berbagai tingkatan, mulai dari tingkat dasar hingga tingkat lanjutan. “Kami ingin membentuk masyarakat yang tidak hanya mampu mengelola uang, tetapi juga berpikir kritis mengenai investasi dan manajemen risiko,” katanya.

Di sisi lain, Rasyid menekankan bahwa pemerintah daerah akan terus memperkuat sinergi dengan lembaga seperti Hanna Asa Indonesia. “Kolaborasi ini harus berkelanjutan agar hasilnya bisa dirasakan oleh lebih banyak kalangan,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya menyelaraskan program edukasi dengan kebutuhan masyarakat lokal, sehingga lebih efektif dalam meningkatkan partisipasi dan pemahaman.

Pada masa kini, di tengah ketidakpastian ekonomi seperti inflasi yang meningkat, kenaikan biaya hidup, dan persaingan kerja, keuangan menjadi aspek yang sangat kritis. Generasi muda membutuhkan wawasan untuk menghadapi situasi tersebut, terutama dalam memperbaiki kualitas hidup mereka melalui manajemen dana yang lebih baik. Mardiyah menegaskan bahwa program ini akan membantu membangun fondasi keuangan yang kuat, yang dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah.

Mengatasi masalah yang relevan

Berdasarkan survei 2025, ternyata masih banyak masyarakat yang belum memiliki pengetahuan memadai tentang keuangan. Misalnya, sebagian besar pemuda masih merasa kesulitan dalam menabung, mengatur pengeluaran, atau memahami produk keuangan. Hal ini bisa menjadi alasan mengapa program seperti Smart Financial Journey harus dijalankan secara berkelanjutan.

Mardiyah menjelaskan bahwa lembaga edukasinya tidak hanya menyediakan materi pelatihan, tetapi juga memberikan sarana untuk berinteraksi langsung dengan ahli keuangan. “Kita perlu memastikan peserta merasa nyaman dalam mengajukan pertanyaan dan berdiskusi,” katanya. Dengan pendekatan ini, peserta akan lebih mudah memahami konsep-konsep yang kompleks, seperti investasi, asuransi, dan pengelolaan utang.

Kolaborasi antara Pemerintah Kota Palu dan Hanna Asa Indonesia juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia Timur. “Kita harus menciptakan lingkungan yang mendukung literasi keuangan, sehingga generasi muda tidak hanya memahami, tetapi juga mamp