ESDM Catat Ada 93 Proyek Ekosistem Hidrogen Senilai Rp32 Triliun
Fukushimask.com – Jakarta — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat ada 93 proyek yang sedang berkembang dalam ekosistem hidrogen nasional dengan total nilai investasi mencapai Rp32 triliun. Angka ini mencerminkan komitmen kuat Indonesia dalam transisi energi menuju sumber daya yang lebih bersih dan berkelanjutan. “Kami saat ini memiliki 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Proyek-proyek ini menghasilkan Rp32 triliun investasi yang akan kami kawal bersama,” jelas Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi.
“ESDM catat ada 93 proyek yang menjadi fondasi penting bagi ketahanan energi nasional di masa depan.”
Proyek Dedieselisasi di Berbagai Daerah
Menurut Eniya, proyek-proyek tersebut selaras dengan arahan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk menghadirkan konsep dedieselisasi di berbagai daerah. “Misalnya nanti di Sumba, kami harapkan 2028 bisa COD atau beroperasi penuh,” ujar Eniya. Selain itu, terdapat proyek di Pulau Rengit yang telah bekerja sama dengan PLN untuk program dedieselisasi. Proyek ini merupakan upaya pemerintah membuktikan konsep pemakaian pembangkit listrik tenaga surya di wilayah terpencil dengan menggunakan hidrogen sebagai penyimpanan energinya.
Eniya juga menyoroti peran strategis Pertamina dalam pengembangan hidrogen. “Kami juga melihat Pertamina mulai memakai geotermal untuk menghasilkan hidrogen yang sudah diinisiasi di Ulubelu,” kata Eniya. Langkah ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki berbagai sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen, baik melalui PLTS, panas bumi, maupun sumber lainnya.
Meningkatkan Ketahanan Energi Nasional
ESDM catat ada 93 proyek yang diyakini dapat meningkatkan ketahanan energi Indonesia dari posisi 7 menjadi 8 dari skala 10. Lebih lanjut, Eniya menyampaikan bahwa pengembangan ekosistem hidrogen membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, BUMN, industri, lembaga riset, perguruan tinggi, dan mitra internasional. “Kami ingin menggali sumber energi dari kekuatan kita sendiri, tidak bergantung kepada orang lain,” ucap Eniya.
Kolaborasi multisektor ini menjadi kunci keberhasilan pengembangan hidrogen di Indonesia. Dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, Indonesia dapat membangun ekosistem yang kuat dan berkelanjutan. Pemerintah, melalui ESDM, terus mendorong sinergi antara sektor publik dan swasta untuk mempercepat adopsi teknologi hidrogen.
Peluncuran Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel
Dalam kesempatan tersebut, pemerintah juga meluncurkan Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel atau Bus H2 DDF. Kendaraan ini merupakan hasil modifikasi armada bus bermesin diesel milik Perum DAMRI menjadi kendaraan yang menggunakan kombinasi bahan bakar solar dan hidrogen. Program ini menjadi langkah awal menuju penerapan transportasi hidrogen yang lebih rendah karbon dan berkelanjutan.
Pengembangan Bus H2 DDF bertujuan untuk mengurangi penggunaan BBM solar, menggantikan sebagian penggunaan solar dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, menurunkan emisi gas buang, membangun ekosistem transportasi hidrogen rendah karbon, serta mempersiapkan pengembangan kendaraan menuju tahap komersial. “Ini nantinya bukan hanya di bus, melainkan mobil penumpang, dan juga drone atau alat angkat yaitu forklift, juga adanya kompor gas hidrogen,” kata Eniya.
Luncuran pilot bus ini menandai dimulainya era baru dalam transportasi publik di Indonesia. Dengan menggunakan kombinasi solar dan hidrogen, bus ini dapat mengurangi emisi gas rumah kaca secara signifikan. Selain itu, teknologi ini juga membuka peluang untuk pengembangan kendaraan listrik dan hidrogen lainnya di masa depan.
Masa Depan Hidrogen di Indonesia
Dengan 93 proyek yang tersebar di seluruh Indonesia, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin dalam pengembangan hidrogen di Asia Tenggara. ESDM catat ada 93 proyek yang tidak hanya mencakup transportasi, tetapi juga pembangkit listrik, industri, dan rumah tangga. Melalui kolaborasi yang kuat dan dukungan kebijakan yang tepat, Indonesia dapat mewujudkan visi menjadi negara yang mandiri energi dan berkelanjutan.

