Api Gambut yang Tak Kunjung Padam: Setiap Hektare Lepas 300 Ton Karbon ke Langit
Fukushimask.com – Pakar – Sejak puncak musim kemarau Agustus 2026, kobaran api yang melahap hamparan gambut di Kalimantan dan Sumatera belum juga surut. Skala kerusakan yang ditimbulkan jauh melampaui sekadar bencana asap musiman. Setiap hektare lahan gambut yang terbakar memuntahkan hingga 300 ton karbon ke atmosfer dalam waktu singkat—sebuah angka yang setara dengan emisi tahunan puluhan ribu kendaraan bermotor. Dampaknya tidak berhenti di batas provinsi atau negara; ia mempercepat laju pemanasan global dan mengubah keseimbangan iklim secara permanen.
Dr. Elham Sumarga, pakar ekologi dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung, menegaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar insiden cuaca tahunan, melainkan krisis ekologis berulang yang dipicu oleh kombinasi dua faktor struktural: anomali iklim El Niño yang memperpanjang kekeringan, serta pengeringan masif jutaan hektare lahan gambut yang telah berlangsung puluhan tahun.
“Per hektare lahan gambut yang terbakar, melepaskan hingga 300 ton karbon ke atmosfer, yang mempercepat laju perubahan iklim global.”
Mekanisme Api di Bawah Tanah
Yang membedakan kebakaran gambut dari kebakaran hutan mineral biasa adalah fenomena subsurface smoldering—pembakaran yang berlangsung di bawah permukaan tanah. Akumulasi bahan organik kering di dalam lapisan gambut menyala perlahan namun terus-menerus, tanpa perlu oksigen permukaan dalam jumlah besar. Karakteristik ini membuat api nyaris mustahil dipadamkan dengan cara konvensional. Air yang disiram dari udara atau darat hanya menembus beberapa sentimeter sebelum menguap, sementara bara di kedalaman beberapa meter tetap menyala dan terus menghasilkan asap pekat.
Akibatnya, kabut asap yang dihasilkan tidak hanya membubung di atas wilayah kebakaran, tetapi terbawa angin lintas negara. Pada gelombang kebakaran terkini, partikulat PM 2.5 telah menyeberang ke Malaysia dan Singapura, memicu krisis pernapasan massal, penghentian penerbangan internasional, serta penutupan sekolah selama berhari-hari. Habitat satwa liar yang dilindungi turut hancur di jalur api.
Orangutan dan Satwa yang Terjebak Api
Di Kalimantan, populasi orangutan—mahluk yang sebagian besar hidup di kanopi hutan—terdesak ke titik-titik sempit ketika api menyapu lantai hutan. Beberapa dokumentasi visual memperlihatkan satwa yang ikut terbakar karena tidak mampu melarikan diri dari kobaran yang bergerak cepat di bawah dan di atas permukaan tanah sekaligus.
“Orangutan di Kalimantan banyak yang terdesak dan terjebak akibat kebakaran. Beberapa foto bahkan menampilkan satwa liar yang ikut terbakar karena tidak mampu bertahan dari kebakaran yang hebat.”
Akar Masalah: Pengeringan dan Bahan Bakar Organik
Elham menjelaskan bahwa dalam kondisi alaminya, lahan gambut selalu tergenang air dan tidak pernah menjadi bahan bakar. Namun, jaringan kanal drainase yang dibangun untuk perkebunan dan pertanian telah menguras air dari jutaan hektare gambut. Tanpa kelembaban, lapisan organik setebal beberapa meter berubah menjadi tumpukan bahan bakar yang siap menyala kapan pun ada percikan api.
“Jika wilayah gambut masih dalam kondisi alaminya yang selalu tergenang air, tidak akan menjadi masalah. Namun, ketika airnya dikeluarkan, bahan organik yang kering tersebut berubah menjadi akumulasi bahan bakar di hamparan yang sangat luas.”
Artinya, selama infrastruktur pengeringan tetap beroperasi, setiap musim kemarau—terutama yang diperparah oleh El Niño—akan mengulang siklus kebakaran yang sama. Tanpa intervensi struktural, krisis ini bersifat siklikal dan akan terus berulang.
Dampak Jangka Panjang: Penurunan Tanah dan Banjir Permanen
Di luar emisi karbon dan asap, pengeringan gambut memicu proses land subsidence—penurunan lapisan tanah secara permanen. Setiap kali gambut terbakar atau mengering total, volumenya menyusut dan tidak pernah pulih sepenuhnya. Pemodelan hidrologis yang dikembangkan di ITB mengindikasikan bahwa akumulasi penurunan ini berisiko menciptakan genangan air dan banjir permanen dalam horizon waktu 50 hingga 100 tahun ke depan. Wilayah yang hari ini terbakar bisa menjadi rawa banjir yang tak terkendali pada generasi mendatang.
Tiga Langkah Strategis untuk Memutus Siklus
Sebagai respons atas krisis ini, ITB merumuskan tiga pilar solusi berkelanjutan:
Pertama, restorasi pembasahan (rewetting) dan pembangunan sekat kanal (canal blocking) secara masif. Tujuannya menahan air di dalam lahan gambut sehingga kelembaban alami pulih dan bahan bakar organik tidak lagi tersedia bagi api. Sekat kanal yang dibangun melintang pada jaringan drainase lama mampu menaikkan muka air tanah dalam hitungan minggu.
Kedua, penerapan paludikultur. Alih-alih mengeringkan lahan untuk komoditas konvensional, masyarakat dialihkan ke budidaya tanaman ramah genangan seperti pohon jelutung, sagu, dan purun. Dengan pendekatan ini, aktivitas ekonomi tetap berjalan tanpa mengorbankan fungsi hidrologis gambut.
Ketiga, penegakan hukum dan evaluasi konsesi. Regulasi pembukaan lahan tanpa bakar harus diperketat, sementara moratorium izin konsesi pada gambut dengan kedalaman lebih dari tiga meter perlu diperkuat. Konsesi yang sudah berjalan harus dievaluasi ulang untuk memastikan tidak ada aktivitas yang mengeringkan lapisan gambut secara sistematis.
“Di sinilah fungsi utama pemodelan. Kita bisa menginvestigasi skenario what-if untuk mengambil keputusan antisipasi dan prevensi agar kebakaran yang lebih hebat di masa depan tidak terjadi.”
Kolaborasi Lintas Sektor: Tidak Ada yang Bisa Sendirian
Penanganan karhutla di Indonesia menuntut koordinasi yang melampaui satu kementerian atau satu lembaga. Pemerintah pusat dan daerah, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), akademisi, serta pemegang izin konsesi harus bergerak dalam satu arah. Kebakaran gambut tidak mengenal batas administratif; asapnya menyeberang negara, emisinya mengglobal, dan dampaknya lintas generasi.
“Semua pihak harus bergerak bersama secara sinergis. Kebakaran hutan adalah masalah yang tidak bisa dilokalisasi, sehingga penanganannya membutuhkan kesadaran bersama, perbaikan regulasi, serta ketegasan penegakan hukum demi menjaga keberlanjutan ekosistem.”
Selama api di bawah tanah masih menyala dan kanal drainase masih mengalirkan air keluar dari hamparan gambut, setiap musim kemarau berikutnya akan menjadi ujian ulang bagi komitmen kolektif. Tiga ratus ton karbon per hektare bukan sekadar angka statistik—ia adalah utang iklim yang dibayar oleh atmosfer, oleh paru-paru warga di tiga negara, dan oleh populasi satwa yang tidak memiliki suara untuk menuntut perlindungan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pakar?
Pakar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pakar matter?
Pakar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

