Inovasi Mahasiswa UNG Olah Tulang Sotong untuk Produk Kebersihan Tangan
Fukushimask.com – Hasil samping perikanan yang kerap belum dimanfaatkan secara maksimal kini menjadi bahan penelitian mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo (UNG). Tulang sotong dari spesies Sepia sp diolah menjadi kitosan, lalu digunakan dalam formulasi semprotan pembersih tangan atau hand sanitizer.
Gagasan tersebut dikembangkan oleh Febriyanti Rasyid dari Fakultas Urusan Maritim dan Teknologi Perikanan UNG bersama Asri Silvana Naiu dan Lukman Mile. Penelitian mereka menempatkan tulang sotong bukan sekadar limbah hasil perikanan, melainkan bahan yang dapat diberi nilai tambah melalui proses ilmiah.
“Kami memanfaatkan tulang Sotong yang diolah menjadi kitosan atau senyawa yang menarik perhatian dalam pengembangan berbagai produk, termasuk produk kebersihan,” kata Mahasiswa Fakultas Urusan Maritim dan Teknologi Perikanan UNG Febriyanti Rasyid di Gorontalo, Selasa.
Kitosan sebagai bahan aktif
Kitosan merupakan senyawa yang diperoleh melalui pengolahan bahan tertentu yang mengandung kitin. Dalam riset ini, tulang sotong menjadi sumber kitosan non-krustasea yang kemudian dimasukkan sebagai bahan aktif ke dalam produk pembersih tangan berbentuk semprotan.
Fokus pengujian tidak hanya berada pada penyusunan formula produk, tetapi juga pada kemampuan kitosan dalam menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli atau E. coli. Mikroorganisme tersebut dapat memicu gangguan kesehatan apabila jenis yang bersifat patogen masuk ke tubuh melalui jalur yang memungkinkan terjadinya infeksi.
Penggunaan bahan aktif dari sumber laut memperlihatkan bahwa inovasi kebersihan tangan dapat dikaji dari beragam bahan alami. Namun, hasil pengujian laboratorium pada tahap penelitian perlu dipahami secara proporsional: pengembangan produk untuk penggunaan yang lebih luas tetap membutuhkan penelitian lanjutan serta pengujian keamanan yang memadai.
Tiga tahap pengolahan tulang sotong
Untuk mendapatkan kitosan, tim peneliti menjalankan tiga tahapan pengolahan utama pada tulang sotong. Tahap pertama ialah deproteinasi untuk mengurangi kandungan protein. Berikutnya dilakukan demineralisasi, lalu deasetilasi hingga diperoleh kitosan yang dapat digunakan dalam penyusunan formula pembersih tangan.
Proses tersebut menjadi bagian penting karena bahan awal dari hasil samping perikanan tidak dapat langsung digunakan sebagai komponen produk. Pengolahan bertahap diperlukan agar material yang dihasilkan dapat diuji karakteristiknya dan dimanfaatkan dalam formulasi yang lebih terukur.
Kitosan hasil olahan kemudian dibuat dalam tiga tingkat konsentrasi, yakni 5 persen untuk P1, 10 persen untuk P2, dan 15 persen untuk P3. Setiap formula dievaluasi melalui pengujian pH, viskositas, serta aktivitas antibakteri terhadap E. coli.
Konsentrasi lebih tinggi menunjukkan aktivitas antibakteri meningkat
Hasil pengujian memperlihatkan kecenderungan peningkatan aktivitas antibakteri ketika konsentrasi kitosan dinaikkan. Artinya, formula dengan kandungan kitosan yang lebih besar menunjukkan kemampuan penghambatan bakteri yang lebih tinggi dalam pengujian yang dilakukan.
Temuan ini memberi gambaran awal tentang potensi tulang sotong sebagai sumber bahan aktif untuk produk semprot kebersihan tangan. Selain mengkaji efektivitas antibakteri, pengujian pH dan viskositas juga relevan untuk melihat karakter dasar formula, termasuk kenyamanan penggunaan dan bentuk fisik produk.
Penelitian tersebut belum berhenti pada upaya membuat satu produk kebersihan. Riset ini juga membuka ruang diskusi mengenai pemanfaatan sumber daya perikanan secara lebih menyeluruh, terutama terhadap bagian-bagian hasil tangkapan atau pengolahan yang belum memperoleh nilai ekonomi optimal.
Peluang pemanfaatan hasil samping perikanan
Selama ini, bahan dari sektor perikanan sering dipandang hanya dari hasil utamanya. Padahal, bagian samping dari komoditas laut dapat menjadi objek penelitian untuk berbagai kebutuhan, termasuk pengembangan bahan bernilai tambah. Tulang sotong dalam riset mahasiswa UNG menunjukkan salah satu kemungkinan tersebut.
Pemanfaatan kitosan yang berasal dari sotong turut memperluas pilihan sumber alami di luar bahan krustasea. Keberagaman sumber bahan penting untuk dikaji karena setiap jenis material dapat memiliki karakteristik yang berbeda dan berpotensi digunakan dalam aplikasi tertentu setelah melalui pengolahan yang tepat.
Pengembangan bahan berbasis hasil samping perikanan juga berkaitan dengan cara melihat sumber daya laut secara lebih efisien. Nilai suatu komoditas tidak hanya dapat berasal dari bagian yang lazim dikonsumsi atau diperdagangkan, tetapi juga dari peluang inovasi yang muncul melalui penelitian, pengujian, dan formulasi produk.
“Dengan penelitian lanjutan dan pengujian keamanan yang memadai, kitosan tulang Sotong berpeluang dikembangkan lebih jauh sebagai bahan bernilai tambah dalam industri berbasis sumber daya perikanan,” ucap Febriyanti.
Bagi pembaca, riset ini menjadi contoh bahwa inovasi produk sehari-hari dapat berangkat dari bahan yang sederhana dan dekat dengan aktivitas ekonomi lokal. Nilai pentingnya terletak pada proses ilmiah yang mengubah hasil samping menjadi bahan yang dapat diuji kegunaannya, bukan semata-mata pada produk akhir.
Ke depan, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menilai keamanan, kestabilan formula, serta peluang penerapannya pada skala yang lebih besar. Meski demikian, pengujian awal terhadap kitosan dari tulang sotong telah menunjukkan potensi bahan tersebut sebagai komponen spray hand sanitizer dengan aktivitas antibakteri terhadap E. coli di laboratorium.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Mahasiswa UNG manfaatkan tulang Sotong jadi?
Mahasiswa UNG manfaatkan tulang Sotong jadi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Mahasiswa UNG manfaatkan tulang Sotong jadi matter?
Mahasiswa UNG manfaatkan tulang Sotong jadi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

