Ironi Energi di Tanah Pasundan: 80 Ribu Warga Jabar Masih Gelap di Tengah Hamparan Pembangkit Nasional
Fukushimask.com – KDM – Di sebuah provinsi yang memasok listrik ke sebagian besar Pulau Jawa melalui deretan pembangkit listrik tenaga air berskala raksasa, masih ada puluhan ribu rumah tangga yang menyalakan lilin setiap malam. Itulah realitas yang diakui terbuka oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat ia berdiri di hadapan ribuan warga pada peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, Senin, di halaman Gedung Sate, Bandung.
Dedi menyebut sisa 80.000 jiwa penduduk Jawa Barat yang belum tersentuh jaringan listrik pada tahun 2026 sebagai “ironi besar” bagi provinsi yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pasokan energi nasional. PLTA Jatiluhur, Jatigede, Cirata, dan Saguling berdiri di wilayahnya, ditambah potensi panas bumi yang belum sepenuhnya dikembangkan. Namun, kata dia, keberadaan infrastruktur pembangkit itu tidak otomatis menerangi setiap sudut kampung di lereng-lereng pegunungan Priangan dan Sukapura.
“Kami menyampaikan permohonan maaf, 81 tahun Indonesia merdeka kami belum bisa ‘memerdekakan’ seluruh rakyat Jawa Barat. Masih ada 80 ribu rakyat Jabar yang sampai hari ini belum memiliki akses listrik sehingga ketika malam dia kegelapan.”
Penurunan Drastis dari 500 Ribu ke 80 Ribu
Angka 80.000 itu sendiri merupakan hasil dari intervensi kebijakan yang agresif. Ketika Dedi Mulyadi mengemban jabatan gubernur pada awal 2025, data menunjukkan lebih dari 500.000 warga Jawa Barat masih berada di luar jangkauan jaringan kelistrikan. Dalam waktu kurang dari dua tahun, angka tersebut ditekan hingga tersisa kurang dari seperlima dari jumlah semula. Ia mengakui pencapaian itu, tetapi menegaskan bahwa sisa 80.000 jiwa tidak boleh dibiarkan menjadi beban yang berlarut-larut.
“Ada sebuah ironi ketika kita memiliki energi yang besar, tapi rakyat kita bahkan yang dekat di pembangkit itu tidak memiliki listrik. Seluruh ironi itu harus kita selesaikan secara bersama dan 2027 akan kami selesaikan.”
Komitmen menuntaskan seluruh sisa pada 2027 berarti pemerintah provinsi harus menyelesaikan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi ke wilayah-wilayah yang secara geografis paling sulit dijangkau. Sebagian besar dari 80.000 jiwa tersebut tinggal di kawasan perbukitan dan pegunungan di Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Garut, serta beberapa titik di perbatasan selatan Jawa Barat, di mana medan curam membuat biaya pembangunan jaringan per rumah tangga jauh melampaui rata-rata nasional.
Reorientasi Anggaran dan Infrastruktur Jalan
Dedi menjelaskan bahwa strategi penyelesaian bukan sekadar menambah tiang listrik, melainkan mencakup reorientasi sistem keuangan Pemprov Jabar bersama DPRD dan instansi vertikal. Fokus anggaran akan digeser agar pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat — listrik, jalan, air bersih — menjadi prioritas utama di atas program-program lain yang bersifat elektoral atau simbolik.
Infrastruktur jalan menuju wilayah pinggiran disebut sebagai prasyarat teknis. Tanpa akses jalan yang memadai, mobilisasi material konstruksi jaringan listrik ke daerah terpencil menjadi tidak ekonomis atau bahkan mustahil. Ia menargetkan skema realokasi anggaran dalam dua tahun fiskal untuk menuntaskan krisis jaringan listrik sekaligus memperbaiki jalan-jalan di daerah berliku.
“Pemerintah itu enggak boleh abai pada layanan dasar. Infrastruktur menuju jalan besar di daerah berliku seperti Sukabumi, Cianjur, Garut secara bertahap harus terselesaikan.”
Langkah ini juga berimplikasi pada aspek sosial-ekonomi. Rumah tangga tanpa listrik tidak dapat mengakses penerangan untuk kegiatan produktif malam hari, penyimpanan pangan yang aman, atau konektivitas digital. Anak-anak di wilayah tersebut terpaksa belajar dengan cahaya terbatas, sementara pelaku usaha mikro kehilangan jam operasional produktif. Penyelesaian masalah ini, oleh karena itu, bukan semata proyek teknis, melainkan intervensi pemerataan yang menyentuh kualitas hidup secara langsung.
Konteks Perayaan Kemerdekaan
Pernyataan Dedi disampaikan di tengah rangkaian peringatan HUT ke-81 RI tingkat Jawa Barat yang dipusatkan di Gedung Sate. Acara meliputi kirab bendera merah putih, upacara penaikan dan penurunan bendera, serta defile pasukan gabungan dari berbagai unsur. Kehadiran ribuan warga yang memadati halaman Gedung Sate menjadi latar yang kontras bagi pengakuan terbuka soal ketimpangan akses energi.
Sebagai bagian dari perayaan, Pemprov Jabar juga menyediakan makanan dan minuman dari pelaku UMKM setempat dengan porsi untuk sekitar 10.000 orang. Kehadiran pelaku usaha kecil di acara resmi ini sekaligus menjadi pengingat bahwa ekonomi lokal di Jawa Barat bergantung pada stabilitas infrastruktur dasar, termasuk listrik, untuk beroperasi secara berkelanjutan.
Target 2027 yang diumumkan Dedi Mulyadi kini menjadi tolok ukur publik. Jika tercapai, Jawa Barat akan menjadi salah satu provinsi pertama di Indonesia yang mendeklarasikan akses listrik universal bagi seluruh warganya. Jika tidak, ironi yang ia sebutkan akan terus bergema di setiap malam di pelosok Priangan dan Sukapura.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is KDM?
KDM is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does KDM matter?
KDM matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

