Polisi Bawa Senyum Kembali ke Wajah Anak-Anak Pengungsi Gempa di Manggarai
Fukushimask.com – Di tengah tenda-tenda pengungsian yang berdiri di Barangkolong, Desa Mata Air, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sekelompok anak yang baru beberapa hari lalu diguncang gempa bumi kini kembali tertawa lepas. Mereka mengikuti berbagai sesi permainan dan pendampingan interaktif yang dirancang khusus untuk mencairkan ketegangan psikologis pascabencana. Kegiatan pemulihan trauma atau trauma healing ini digelar pada Minggu pagi, dimulai tepat pukul 09.00 WITA, dan menjadi bagian dari respons kemanusiaan aparat keamanan terhadap dampak bencana alam di wilayah tersebut.
Operasi yang Dipimpin Langsung di Lapangan
Sepuluh personel dari Satuan Tugas (Satgas) SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT diterjunkan ke lokasi pengungsian untuk menjalankan misi pendampingan edukatif dan motivatif. AKP Roy Ronaldo Dansu, selaku Komandan Kompi Satgas SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT, memimpin langsung jalannya seluruh rangkaian kegiatan di lapangan. Kehadiran personel berseragam di tengah anak-anak pengungsi bukan sekadar formalitas; mereka hadir sebagai figur yang mampu membangun rasa aman kembali di benak generasi muda yang baru mengalami trauma akibat guncangan bumi.
Komitmen di Balik Seragam
Kombes Pol. Hasripuddin, Komandan Satgas SAR Korps Brimob Polri BKO Polda NTT, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan wujud nyata komitmen institusi kepolisian untuk tidak hanya menangani aspek fisik pascabencana, tetapi juga menyentuh dimensi psikologis para korban. Ia menekankan bahwa penanganan bencana yang utuh tidak berhenti pada tahap evakuasi dan distribusi logistik dasar seperti makanan, air bersih, dan selimut.
“Pascabencana, anak-anak membutuhkan perhatian dan pendampingan agar tetap memiliki semangat serta kembali merasa aman. Melalui kegiatan trauma healing ini, kami berupaya menghadirkan suasana yang menyenangkan sekaligus memberikan edukasi dan motivasi.”
Penjelasan tersebut menggarisbawahi satu prinsip penting dalam manajemen bencana modern: pemulihan mental korban, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, memiliki urgensi yang setara dengan pemenuhan kebutuhan fisik. Tanpa intervensi psikologis yang tepat waktu, anak-anak yang menyaksikan rumah mereka runtuh atau merasakan getaran kuat berkepanjangan berisiko mengalami gangguan kecemasan, mimpi buruk berulang, hingga hambatan dalam proses belajar dan sosial di masa depan.
Respons Hangat dari Warga Pengungsi
Para orang tua dan warga sekitar Posko Pengungsian Barangkolong menyambut kehadiran petugas dengan antusiasme tinggi. Anak-anak yang semula tampak cemas dan pendiam perlahan-lahan terbuka mengikuti setiap sesi yang dirancang petugas. Permainan kelompok, aktivitas kreatif, serta interaksi langsung menjadi medium untuk mengalihkan fokus dari rasa takut menuju rasa gembira dan rasa aman. Bagi banyak keluarga pengungsi di Manggarai, momen ketika anak kembali tersenyum menjadi penanda bahwa proses pemulihan benar-benar dimulai.
“Melihat anak-anak kembali tersenyum dan bersemangat menjadi bagian penting dari proses pemulihan pascabencana. Kami akan terus bersinergi memberikan pelayanan serta pendampingan bagi masyarakat terdampak.”
Konteks Gempa dan Kebutuhan Berkelanjutan
Kabupaten Manggarai, yang terletak di Pulau Flores, secara geografis berada di zona seismik aktif akibat pertemuan lempeng tektonik di kawasan Nusa Tenggara Timur. Guncangan gempa yang mengguncang wilayah Reok dan sekitarnya memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke titik-titik aman. Dalam situasi pengungsian yang berkepanjangan, anak-anak kehilangan rutinitas harian, akses ke sekolah, serta lingkungan bermain yang familiar. Kondisi ini memperbesar kerentanan psikologis mereka dan menjadikan intervensi seperti trauma healing bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan mendesak.
Keberadaan Satgas SAR Korps Brimob Polri di wilayah NTT bukan hanya untuk operasi penyelamatan saat bencana terjadi, tetapi juga untuk fase pemulihan yang berlangsung setelah guncangan terakhir reda. Dengan menerjunkan personel terlatih ke posko pengungsian, kepolisian memastikan bahwa dimensi kemanusiaan dari tugas mereka tetap menjadi prioritas utama. Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat menjadi kunci agar tidak ada satu pun kelompok rentan yang tertinggal dalam proses pemulihan pascabencana.
Kegiatan di Barangkolong pada Minggu pagi itu menjadi pengingat bahwa pemulihan dari bencana bukan hanya soal membangun kembali rumah atau menyalurkan bantuan material. Ia juga soal memastikan bahwa seorang anak di tenda pengungsian dapat kembali tertawa tanpa bayang-bayang ketakutan, dan bahwa rasa aman yang sempat dirampas oleh gempa bumi dapat dipulihkan perlahan melalui kehadiran, perhatian, dan pendampingan yang konsisten.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Polri gelar trauma healing bagi anak?
Polri gelar trauma healing bagi anak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Polri gelar trauma healing bagi anak matter?
Polri gelar trauma healing bagi anak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

