Peringatan Ketat dari ITB: Risiko Gempa Besar NTT Mirip Bencana 1992
Fukushimask.com – Wilayah Nusa Tenggara Timur menghadapi ancaman serius yang dapat menelan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur dalam skala besar. Prof. Irwan Meilano, seorang Guru Besar dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung, menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang baru saja mengguncang Kabupaten Nagekeo pada hari Sabtu. Peristiwa ini dikhawatirkan akan meniru pola bencana dahsyat yang melanda Flores pada tahun 1992 silam.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar ilmiah. Berdasarkan analisis mendalam, terdapat kemiripan signifikan baik dari segi lokasi episentrum maupun mekanisme pelepasan energi tektonik. Gempa yang terjadi Sabtu pagi ini merupakan gempa dangkal dengan kedalaman hiposenter sekitar 15 kilometer di bawah permukaan laut. Titik pusat getaran ini berada di perairan laut yang berjarak kurang dari 30 kilometer ke arah timur laut dari daratan Nagekeo. Jarak episentrum gempa terkini ini juga sangat dekat, yakni kurang dari 40 kilometer dari pusat gempa Flores tahun 1992 yang berkekuatan 7,9.
Struktur Geologi yang Menyimpan Energi Potensial
Kawasan sumber gempa ini terletak pada struktur tektonik kompleks yang dikenal sebagai Flores Back-Arc Thrust atau sasar naik busur belakang Flores. Struktur geologi ini memiliki riwayat kegempaan yang merusak dalam skala besar. Sebelumnya, kawasan ini pernah mengalami gempa berkekuatan M6,6 pada tahun 2009. Selain itu, rangkaian gempa besar yang melanda Lombok pada tahun 2018 juga menunjukkan bahwa struktur ini masih aktif dan menyimpan akumulasi energi yang belum terlepas seluruhnya, sebagaimana dicatat oleh Pusat Studi Gempa Nasional atau Pusgen.
“Apabila kita melihat dari mekanisme gempa serta lokasi gempa, maka gempa ini sangat berdekatan dan memiliki kemiripan dengan kejadian gempa di Flores pada tahun 1992. Waktu itu magnitudonya mencapai 7,9 dan diikuti dengan tsunami yang sangat tinggi. Kenapa? Karena diikuti dengan longsor di bawah laut sehingga tsunaminya tinggi. Mudah-mudahan dalam gempa ini tidak diikuti dengan longsoran bawah laut itu,” ujar Irwan Meilano.
Penting untuk dipahami bahwa potensi tsunami tidak hanya bergantung pada magnitudo gempa, tetapi juga pada mekanisme pergerakan lempeng dan stabilitas dasar laut. Pada peristiwa 1992, longsoran bawah laut menjadi faktor penguat yang membuat gelombang tsunami mencapai ketinggian luar biasa. Saat ini, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG telah mengeluarkan peringatan dini tsunami yang berlaku hingga pukul 07.30 WIB pada hari Sabtu tersebut sebagai langkah preventif.
Pola Gempa Lombok 2018 Berpotensi Terulang
Irwan Meilano juga mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah terhadap pola gempa yang pernah terjadi di Lombok pada tahun 2018. Dalam kejadian tersebut, gempa utama berpotensi memicu rambatan retakan pada segmen tektonik di sebelahnya. Fenomena ini dikenal sebagai efek domino tektonik yang dapat memperluas area kerusakan. Saat ini, puluhan gempa susulan dengan magnitudo signifikan di atas 6,0 masih terus terjadi di wilayah tersebut.
“Belajar dari gempa 2018 maka kewaspadaan itu tidak boleh berkurang. Sangat mungkin bahwa gempa ini kemudian memicu bagian segmen yang berdekatan. Gempa susulan di atas enam masih bisa memberikan dampak merusak yang cukup signifikan,” ujar ahli gempa dan kadaster tersebut.
Kewaspadaan publik sangat diperlukan mengingat gempa susulan berkekuatan di atas 6,0 dapat memberikan dampak merusak yang cukup signifikan. Kerusakan bangunan pendukung yang terjadi secara akumulatif akibat serangkaian gempa ini dapat memperparah situasi, terutama bagi masyarakat yang tinggal di daerah rawan longsor atau dekat pesisir pantai.
Empat Kombinasi Fatal Penyebab Kerusakan Masif
Kerusakan masif akibat gempa M7,7 kali ini dipicu oleh empat kombinasi faktor yang fatal. Pertama, magnitudo yang besar dengan kekuatan 7,7. Kedua, kedalaman relatif dangkal antara 10 hingga 15 kilometer yang membuat getaran terasa lebih kuat di permukaan. Ketiga, posisi episentrum yang dekat dengan permukiman penduduk. Keempat, potensi amplifikasi guncangan akibat kondisi tanah setempat dan kualitas bangunan yang belum memadai.
Irwan mendorong tim tanggap darurat dan pemerintah daerah untuk memprioritaskan asesmen keandalan bangunan strategis. Bangunan sekolah, fasilitas kesehatan, serta gedung pemerintahan menjadi fokus utama guna menopang penanganan korban dan percepatan pemulihan pasca bencana. Infrastruktur ini harus mampu berfungsi optimal saat dibutuhkan.
“Kemungkinan besar gempa ini bisa mengakibatkan dampak kerusakan yang cukup signifikan pada infrastruktur strategis. Kami memberikan perhatian sangat serius terutama pada bangunan sekolah dan fasilitas kesehatan. Ini kita sangat berharap bisa recover dalam waktu yang singkat,” kata Irwan menambahkan.
Sebagai wilayah yang terletak di cincin api Pasifik, NTT memiliki karakteristik geologi yang unik dan kompleks. Pemahaman mendalam tentang struktur tektonik lokal menjadi kunci dalam mitigasi bencana. Masyarakat perlu terus meningkatkan kesiapsiagaan melalui edukasi rutin dan simulasi bencana yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dan lembaga penelitian seperti ITB dan Pusgen akan memperkuat sistem peringatan dini dan respons darurat di masa depan.
Langkah-langkah konkret seperti penguatan infrastruktur kritis, pembangunan shelter darurat, dan pemetaan zona rawan bencana harus segera diimplementasikan. Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan aspek teknis, sosial, dan lingkungan, NTT dapat membangun ketahanan yang lebih baik terhadap ancaman gempa bumi dan tsunami di masa mendatang.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is ITB peringatkan potensi bahaya gempa NTT 7?
ITB peringatkan potensi bahaya gempa NTT 7 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does ITB peringatkan potensi bahaya gempa NTT 7 matter?
ITB peringatkan potensi bahaya gempa NTT 7 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

