Pembasahan Gambut di Kalsel Dipercepat untuk Menekan Risiko Karhutla
Fukushimask.com – Pemerintah memulai langkah pembasahan pada sekitar 1.650 hektare lahan gambut yang rentan mengalami kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Selatan. Upaya ini ditempuh dengan menaikkan muka air Sungai Martapura agar kawasan gambut kembali memiliki kelembapan yang cukup dan tidak mudah terbakar.
Program tersebut menjadi bagian dari penanganan kawasan seluas kurang lebih 10.000 hektare dengan kondisi lahan yang beragam. Pengendalian karhutla dilakukan melalui kerja bersama lintas sektor, dengan fokus pada pencegahan kebakaran sebelum api meluas di wilayah rawan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa pembasahan dilakukan bersama Balai Wilayah Sungai atau BWS. Kenaikan debit air Sungai Martapura diarahkan untuk membantu menggenangi kembali area gambut yang membutuhkan suplai air.
“Jadi kita telah bekerja sama dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) menaikkan air Sungai Martapura untuk merendam lahan ini kembali,” ujar Hanif seusai apel penanganan karhutla di Kabupaten Banjar, Minggu.
Menjaga Air Tetap Tersedia di Lahan Gambut
Lahan gambut memerlukan pengelolaan air yang konsisten karena karakteristiknya berbeda dari tanah mineral biasa. Saat kandungan air menurun, permukaan gambut dapat menjadi lebih kering dan meningkatkan kerentanan terhadap api. Karena itu, pembasahan diposisikan sebagai langkah penting untuk menjaga kondisi lahan tetap lembap.
Pendekatan yang digunakan di Kalimantan Selatan melanjutkan pola penanganan di kawasan Guntung Damar dan Liang Anggang. Inti dari strategi tersebut adalah memastikan air tersedia untuk mempertahankan kelembapan tanah di lokasi-lokasi yang memiliki risiko kebakaran lebih tinggi.
Pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada respons ketika titik api sudah muncul. Pemantauan kondisi air, kesiapan personel, serta dukungan peralatan lapangan menjadi unsur yang saling berkaitan. Pembasahan gambut memberi ruang bagi petugas untuk mengurangi kemungkinan api berkembang pada lapisan tanah yang sulit ditangani apabila telah terbakar.
Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan unsur TNI, Polri, dan unit usaha yang beroperasi di Kalimantan Selatan. Keterlibatan berbagai pihak dimaksudkan untuk memperluas jangkauan operasi di lapangan sekaligus memperkuat kemampuan penanganan pada wilayah yang dinilai rawan.
Puluhan Mobil Tangki Dikerahkan
Dukungan kendaraan pengangkut air juga disiapkan untuk mendukung operasi pembasahan. Korem 101/Antasari mengerahkan 15 mobil tangki, sementara sektor swasta menambah sekitar 30 unit kendaraan. Kehadiran armada ini diharapkan membantu distribusi air ke lokasi yang membutuhkan penanganan cepat.
Mobil tangki berperan penting ketika akses air langsung tidak tersedia di seluruh titik kerja. Peralatan tersebut dapat digunakan untuk mendukung pembasahan di area yang sulit dijangkau atau untuk memperkuat kebutuhan air dalam operasi pencegahan kebakaran.
Koordinasi menjadi faktor utama karena penanganan karhutla melibatkan kondisi lapangan yang dapat berubah. Ketersediaan kendaraan, personel, dan pengaturan lokasi operasi perlu disesuaikan dengan kebutuhan aktual di setiap kawasan. Dengan pola kerja bersama, sumber daya yang tersedia dapat diarahkan ke area yang paling membutuhkan perhatian.
Antisipasi Kebakaran di Lahan Persawahan
Selain gambut, pemerintah juga menyiapkan langkah pencegahan di lahan persawahan yang telah dipanen maupun yang mengalami gagal panen. Sisa tanaman akan dibalik menggunakan peralatan pertanian agar tidak menumpuk di permukaan tanah.
Pengolahan sisa tanaman tersebut ditujukan untuk mengurangi material yang berpotensi menjadi bahan bakar kebakaran. Jika residu vegetasi dibiarkan mengering dan menumpuk, risiko api menyebar dapat meningkat, terutama pada kondisi cuaca yang mendukung terjadinya kebakaran lahan.
Penanganan di lahan pertanian ditargetkan dapat dituntaskan dalam waktu satu minggu. Target tersebut berjalan beriringan dengan kegiatan pembasahan gambut dan kesiapan unsur lapangan dalam mengawasi wilayah yang masuk kategori rawan.
Langkah ini memperlihatkan bahwa pencegahan karhutla mencakup lebih dari satu jenis bentang lahan. Gambut membutuhkan pengaturan tinggi muka air, sementara areal persawahan pascapanen memerlukan pengelolaan sisa tanaman. Kedua pendekatan itu diarahkan pada tujuan yang sama, yakni mengurangi sumber risiko sebelum api muncul.
Rujukan bagi Wilayah Rawan Lain
Hanif berharap seluruh rangkaian penanganan dapat berlangsung secara terpadu selama sepekan ke depan. Pelaksanaannya akan menyesuaikan perkembangan kondisi di lapangan serta kebutuhan pengendalian kebakaran di Kalimantan Selatan.
Keberhasilan koordinasi di daerah ini juga diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain yang menghadapi ancaman serupa. Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan disebut sebagai daerah yang dapat mengambil pelajaran dari penguatan kolaborasi lintas unsur dalam upaya pengendalian karhutla.
Bagi masyarakat di sekitar kawasan rawan, pencegahan tetap menjadi bagian penting dari perlindungan bersama. Pembasahan lahan, kesiapsiagaan petugas, pemanfaatan peralatan, dan pengelolaan sisa tanaman akan lebih efektif apabila didukung kepedulian untuk mencegah aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Dengan menjaga lahan gambut tetap basah dan mengurangi penumpukan material mudah terbakar di area pertanian, upaya pengendalian karhutla di Kalimantan Selatan diharapkan dapat berjalan lebih terarah. Fokusnya bukan hanya menangani api ketika telah terjadi, melainkan menekan peluang kebakaran berulang sejak dari sumber risikonya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kemenko Pangan basahi 1 650 ha lahan?
Kemenko Pangan basahi 1 650 ha lahan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kemenko Pangan basahi 1 650 ha lahan matter?
Kemenko Pangan basahi 1 650 ha lahan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

