Jadi Pembeli Utama Minyak Iran – China Minta AS-Israel Setop Serang Teheran

Jadi Pembeli Utama Minyak Iran, China Minta AS-Israel Setop Serang

Konflik yang Memicu Kekhawatiran Pasar Energi Global

Ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat semakin memuncak setelah Iran mengancam memblokade Selat Hormuz, jalur distribusi minyak utama dunia. Situasi ini memperbesar kekhawatiran di pasar energi global, terutama karena ancaman yang dapat mengganggu pasokan minyak internasional. Dalam konteks ini, China, sebagai pembeli utama minyak Iran, mengambil sikap tegas dengan mengutuk serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Menurut pernyataan resmi, Beijing menyebut tindakan serangan tersebut sebagai hal yang tidak dapat diterima. Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menekankan perlunya penghentian aksi militer secepat mungkin dan kembalinya negosiasi ke jalur dialog. Pernyataan ini dilakukan dalam wawancara telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, di mana Wang Yi menyebut serangan itu sebagai “pembunuhan terang-terangan terhadap seorang pemimpin berdaulat” serta hasutan untuk pergantian rezim yang dinilai “tidak dapat diterima”.

“Serangan terhadap Iran adalah agresi terang-terangan terhadap sebuah negara berdaulat,” kata kantor berita Xinhua.

Insiden serangan terjadi pada Sabtu (28/2/2026), menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Presiden AS, Donald Trump, menggembar-gemburkan rakyat Iran untuk memanfaatkan momentum ini dan “mengambil alih” pemerintahan. Tindakan yang dilakukan Washington dan Tel Aviv ini memicu reaksi tajam dari Beijing.

Kementerian Luar Negeri China mengimbau warga negaranya di Iran untuk segera meninggalkan negara tersebut melalui empat jalur darat ke Azerbaijan, Armenia, Turki, dan Irak. Di sisi lain, Kedutaan Besar China di Israel menyarankan warganya untuk mengungsi ke wilayah aman di dalam negeri atau keluar ke Mesir melalui perbatasan Taba. Sejumlah warga China juga mengalami luka-luka akibat serangan dan sebagian masih terjebak.

Konflik ini juga berdampak pada operasional penerbangan. Operator maskapai berbasis Hong Kong, Cathay Group, menghentikan layanan di Timur Tengah, mengganggu penerbangan penumpang ke dan dari Dubai serta Riyadh. Maskapai tersebut juga mengalihkan rute penerbangan yang biasanya melewati kawasan terdampak. Di tengah situasi kritis, data dari Kpler menunjukkan pergeseran signifikan dalam impor minyak China.

Dari laporan Kpler tahun 2025, China membeli lebih dari 80 persen minyak Iran yang diekspor. Namun, dalam beberapa minggu terakhir sebelum eskalasi terbaru, China mulai mengurangi ketergantungan pada sumber daya tersebut. Data menunjukkan pembongkaran minyak mentah Iran di pelabuhan China turun menjadi 1,138 juta barel per hari, dibandingkan 1,38 juta barel per hari tahun lalu. Sementara itu, minyak Rusia meningkat menjadi 2,07 juta barel per hari, mengindikasikan pergeseran pasokan yang diakui oleh Beijing.

Jejak Intervensi AS yang Dibongkar Kedubes Iran

Sebagai tambahan, Kedubes Iran mengungkap 9 jejak kelam intervensi AS sejak tahun 1953, menyoroti peran Amerika dalam memperumit hubungan geopolitik region. Komentar ini memperkuat kritik global terhadap tindakan AS dalam mempercepat konflik antara Iran dan negara-negara Barat.