Kemenhub: LRT Jabodebek ke Bogor Masih dalam Tahap Kajian
Key Discussion – Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengungkapkan bahwa rencana ekstensi layanan Lintas Raya Terpadu (LRT) Jabodebek hingga Kota Bogor masih berada dalam fase pengkajian. Proyek ini dilakukan oleh PT Kereta Api Indonesia (Persero) dan PT Adhi Karya (Persero) sebagai langkah awal sebelum ditetapkan secara resmi. Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub, Allan Tandiono, menjelaskan bahwa saat ini, kedua perusahaan tersebut sedang mengevaluasi berbagai aspek terkait perluasan jaringan tersebut. “LRT Jabodebek ke Bogor saat ini PT KAI dan PT Adhi Karya sedang lakukan kajian,” kata Allan saat diwawancara di Jakarta, pada hari Minggu.
Menurut Allan, perluasan LRT Jabodebek ke Bogor telah memiliki dasar hukum yang jelas. Peraturan Presiden (Perpres) yang diterbitkan pada 2015 menjadi acuan utama untuk mengawali proyek ini. “Terkait perpanjangan ini sudah ada Perpres-nya di tahun 2015,” ujarnya. Dalam perpres tersebut, Kemenhub telah menetapkan kerangka kerja yang memungkinkan pengembangan infrastruktur transportasi massal ini. Namun, meski memiliki dasar hukum, Allan mengakui bahwa Kemenhub belum bisa memberikan detail lebih lanjut mengenai realisasi proyek karena masih menunggu laporan akhir dari kedua perusahaan pelaksana.
Kemenhub kini fokus pada penerimaan rencana pendanaan dan desain jaringan yang akan ditawarkan oleh PT KAI dan PT Adhi Karya. “Dan kita menunggu rencana dari PT KAI maupun PT Adhi Karya terkait kelanjutannya, skema pendanaannya seperti apa,” jelas Allan. Ia menambahkan bahwa studi yang sedang dijalankan mencakup evaluasi berbagai kemungkinan biaya, jadwal pengoperasian, serta dampak sosial dan ekonomi yang akan ditimbulkan. Proyek ini diharapkan bisa memberikan solusi transportasi efisien untuk wilayah Jabodetabek, terutama untuk mengatasi kemacetan di jalur utama.
PT KAI: Rencana Perpanjangan Rute Sudah Masuk ke Master Plan
Sebelumnya, PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menyatakan bahwa perluasan rute LRT Jabodebek hingga Bogor menjadi bagian dari rencana jangka panjang perusahaan. Rencana ini, menurut perusahaan, sudah tercantum dalam master plan pengembangan yang ditetapkan sejak lama. Direktur Portfolio Management dan Teknologi Informasi PT KAI, I Gede Darmayusa, mengonfirmasi bahwa proyek tersebut memang sedang dibahas. “Secara master plan, dulu memang sudah ada rencana sampai Bogor,” ujarnya saat di Stasiun LRT Dukuh Atas, Jumat (22/5).
“Kami dengan DJKA (Kemenhub) tentunya sedang mengkaji kembali potensi bisnis, potensi TOD, dan lain sebagainya sehingga biaya yang besar itu bisa kita justifikasi dengan peningkatan penumpang,”
Menurut Gede, studi yang dilakukan mencakup berbagai aspek penting, seperti potensi bisnis, penentuan rute yang optimal, serta pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD). Aspek-aspek ini dianggap krusial untuk memastikan proyek bisa berjalan secara efektif dan berkelanjutan. Selain itu, evaluasi juga mencakup infrastruktur pendukung seperti stasiun, jembatan, dan terowongan yang diperlukan untuk menghubungkan Jabodebek dengan Kota Bogor.
Dalam proses pengkajian, PT KAI menekankan pentingnya keterlibatan pihak-pihak terkait untuk memastikan keberhasilan proyek. “Kajian ini melibatkan berbagai instansi, mulai dari perencanaan teknis hingga aspek finansial,” tambah Gede. Ia menjelaskan bahwa pengembangan TOD di kawasan sepanjang rute akan membawa dampak signifikan, baik dalam meningkatkan aksesibilitas maupun memperkuat ekonomi daerah. Namun, hingga saat ini, PT KAI belum mengungkapkan detail spesifik mengenai skema pendanaan atau estimasi biaya yang diperlukan.
Tahapan Kajian dan Harapan untuk Percepatan
Proses pengkajian LRT Jabodebek ke Bogor dianggap sebagai langkah kritis sebelum proyek dapat dilanjutkan. Allan Tandiono menyatakan bahwa Kemenhub terus memantau kemajuan pekerjaan dari kedua perusahaan, namun belum bisa memberikan kesimpulan akhir. “Kita masih menunggu hasil kajian mereka, karena semua aspek harus diverifikasi secara menyeluruh,” ujar Allan. Ia menekankan bahwa perpanjangan jaringan ini tidak hanya sekadar pembangunan fisik, tetapi juga melibatkan perencanaan matang untuk menjamin kelayakan ekonomi dan keberlanjutan.
Menurut Allan, pengembangan LRT Jabodebek ke Bogor diharapkan bisa memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Proyek ini diperkirakan akan mengurangi tekanan lalu lintas di wilayah Jabodetabek dan meningkatkan efisiensi transportasi. “Dengan adanya LRT hingga Bogor, aksesibilitas akan lebih baik, terutama bagi warga yang tinggal di sepanjang jalur tersebut,” jelasnya. Meski begitu, Allan menyatakan bahwa penyelesaian kajian membutuhkan waktu yang relatif lama, terutama karena harus melibatkan analisis yang mendalam.
PT Adhi Karya, sebagai salah satu mitra utama, juga berperan aktif dalam proses ini. Perusahaan yang menggarap proyek infrastruktur tersebut menyatakan bahwa mereka sedang menyiapkan berbagai skenario pendanaan untuk menyesuaikan dengan kemampuan keuangan pemerintah daerah maupun swasta. “Kami sedang mengembangkan beberapa model pendanaan, termasuk kemungkinan kerja sama dengan investor,” ungkap salah satu perwakilan dari perusahaan tersebut. Namun, Gede mengakui bahwa hingga saat ini, model pendanaan yang paling ideal belum ditemukan.
Pengembangan LRT ke Bogor juga diharapkan bisa menjadi model keberhasilan untuk proyek transportasi massal lainnya di Indonesia. Dengan teknologi dan sistem yang sudah teruji di Jabodebek, perluasan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menghubungkan berbagai kota strategis. “Ini bisa menjadi case study bagi proyek jaringan LRT di daerah lain, karena sudah ada dasar hukum dan rencana yang matang,” tambah Gede. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ada banyak tantangan yang perlu diatasi, terutama dalam hal koordinasi antarinstansi dan kesiapan pihak terkait.
Kemenhub menyatakan bahwa proyek ini akan menjadi bagian dari big picture pengembangan infrastruktur transportasi di Indonesia. Dengan menyelesaikan kajian secara tepat waktu, pemerintah berharap proyek ini bisa dimulai dalam beberapa tahun ke depan. “Kita sedang berusaha agar semua proses bisa berjalan lancar, termasuk menyusun mekanisme pendanaan yang realistis,” kata Allan. Ia juga mengungkapkan bahwa ada potensi keterlibatan pihak swasta dalam membiayai proyek ini, terutama melalui skema kerja sama pemerintah dan swasta (KPSS).
Dengan proyek LRT Jabodebek ke Bogor, Kemenhub berharap bisa meningkatkan kualitas hidup warga Jabodetabek. “Ini bukan hanya tentang transportasi, tapi juga tentang pemberdayaan ekonomi dan pengurangan polusi udara,” imbuh Allan. Meski proses masih dalam tahap kajian, Kemenhub sudah memperlihatkan komitmen untuk mendorong percepatan proyek ini. “Kita terus berkoordinasi dengan PT KAI
