Gaya komunikasi agresif disorot – Qodari: Diserang diam saja?
Gaya komunikasi agresif disorot, Qodari: Diserang diam saja?
Gaya komunikasi agresif disorot – Kepala Badan Komunikasi (Bakom) Pemerintah, Muhammad Qodari, memberikan tanggapan terhadap kritik yang diberikan oleh para pengamat pada Selasa (28/4). Kritik tersebut menyebutkan bahwa pengangkatan Qodari dan Hasan Nasbi ke posisi strategis di lembaga tersebut tidak ideal karena dianggap lebih menekankan pendekatan komunikasi yang bersifat konfrontatif. Dalam responsnya, Qodari menjelaskan pentingnya adaptasi gaya komunikasi di tengah perubahan yang terjadi dalam dunia informasi.
Strategi Komunikasi di Tengah Era Disrupsi
Menurut Qodari, dalam era di mana informasi cepat berubah dan menyebar dengan cepat, pendekatan komunikasi yang lebih aktif dan inovatif menjadi krusial. Ia menekankan bahwa komunikasi proaktif dan progresif diperlukan untuk menjawab dinamika media sosial yang saat ini menjadi pusat perhatian masyarakat. “Kita tidak bisa lagi bergantung pada metode komunikasi tradisional,” ujarnya dalam wawancara terkini. “Di tengah kemajuan teknologi, kita harus mengadaptasi cara penyampaian pesan agar lebih efektif dan relevan.”
“Diserang diam saja? Justru kita harus lebih tegas dalam menyampaikan visi dan misi,” kata Qodari.
Qodari menambahkan bahwa perubahan dalam lanskap komunikasi publik memaksa lembaga seperti Bakom untuk memperluas strategi mereka. “Media sosial tidak hanya menjadi alat menyebarkan informasi, tetapi juga tempat di mana berita bisa berubah bentuk dan memengaruhi opini publik secara cepat,” jelasnya. Ia menjelaskan bahwa komunikasi yang agresif atau tegas dibutuhkan untuk mencegah penyebaran berita palsu serta menjaga kredibilitas pemerintah dalam menyampaikan kebijakan.
Kritik dan Perubahan Persepsi
Pengamat yang memberikan kritik menyebutkan bahwa gaya komunikasi yang digunakan oleh Qodari dan Hasan Nasbi lebih cenderung bersifat defensif dibandingkan strategi komunikasi yang menarik dan inklusif. “Mereka terlihat lebih mengedepankan argumentasi yang terkesan menyerang, daripada mendengarkan aspirasi masyarakat,” ungkap salah satu pengamat yang tidak disebutkan nama. Kritik ini muncul setelah keduanya sering digambarkan sebagai figur yang memiliki pendekatan komunikasi yang kaku.
Meski demikian, Qodari berpendapat bahwa gaya komunikasi agresif memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan keinformasian. “Tantangan utama kita adalah bagaimana memastikan pesan yang disampaikan tidak hanya sampai kepada audiens, tetapi juga dianggap sebagai jawaban atas kebutuhan mereka,” katanya. Ia menjelaskan bahwa di tengah persaingan informasi yang ketat, kejelasan dan keberanian dalam menyampaikan pesan menjadi faktor kunci untuk membangun kepercayaan publik.
Menurut Qodari, era disrupsi informasi memaksa lembaga komunikasi publik untuk lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan. “Media sosial memberikan ruang yang luas untuk menyampaikan informasi, tetapi juga membuka peluang bagi misinformasi,” tambahnya. Ia menyoroti bahwa kritik terhadap gaya komunikasi agresif perlu dipertimbangkan dalam konteks kebutuhan untuk mendahului narasi yang mungkin memengaruhi keputusan publik.
Peran Bakom di Tengah Perubahan Teknologi
Qodari juga menggarisbawahi peran Bakom sebagai penyampaian pesan pemerintah yang lebih efektif. “Kita harus membangun komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat,” kata Qodari. Ia menjelaskan bahwa metode komunikasi yang lebih agresif tidak berarti kurang empatik, tetapi justru membantu mempercepat respon terhadap isu-isu yang muncul.
Di sisi lain, para pengamat berpendapat bahwa gaya komunikasi agresif bisa jadi menimbulkan kesan menutupi perspektif lain. “Mereka mungkin terlihat lebih mengunggulkan opini satu pihak, daripada menciptakan dialog yang lebih terbuka,” tulis salah satu analis dalam laporan terbarunya. Namun, Qodari mempertahankan bahwa pendekatan ini penting untuk menjaga konsistensi dalam menyampaikan kebijakan pemerintah.
Qodari juga menyoroti kebutuhan masyarakat yang semakin berubah. “Kini, masyarakat lebih menuntut transparansi dan kecepatan dalam respons mereka,” katanya. Ia menegaskan bahwa komunikasi proaktif dan progresif harus diimbangi dengan kejelasan dalam menyampaikan fakta. “Kita tidak boleh hanya memberi informasi, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya kebenaran dalam berkomunikasi.”
Tantangan dan Peluang di Media Sosial
Di era digital, Qodari mengakui bahwa peran Bakom semakin kompleks. “Media sosial menjadi platform utama bagi interaksi masyarakat, sehingga kita harus lebih mampu mengatur alur informasi di sana,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa komunikasi agresif bukanlah penyebaran kebencian, tetapi lebih pada upaya untuk mendominasi ruang diskusi dan menegaskan kebijakan pemerintah.
Qodari menjelaskan bahwa lembaga komunikasi publik harus memiliki kemampuan untuk memprediksi dan memanfaatkan dinamika yang terjadi di media sosial. “Kita harus bisa lebih cepat dalam merespons, dan lebih konsisten dalam menyampaikan pesan,” katanya. Hal ini penting karena masyarakat kini lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang disampaikan secara terus-menerus.
Dalam diskusi lanjutan, Qodari menyoroti perbedaan antara komunikasi yang agresif dengan pendekatan yang terkesan menyerang. “Komunikasi agresif adalah strategi untuk memastikan informasi yang disampaikan tidak hanya terdengar, tetapi juga diakui oleh masyarakat,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa ini bukan tentang mendominasi, tetapi tentang membangun hubungan yang lebih kuat dengan audiens.
Kritik terhadap gaya komunikasi agresif, menurut Qodari, harus dilihat dalam konteks perubahan yang terjadi. “Kita tidak bisa lagi mengandalkan cara lama, karena masyarakat sekarang lebih cerdas dan aktif dalam mencari informasi,” katanya. Ia menyatakan bahwa di tengah persaingan yang ketat, strategi komunikasi yang lebih tegas diperlukan untuk memastikan kebijakan pemerintah tetap relevan dan terpercaya.
Sumber: Cahya Sari, Chairul Fajri, Hilary Pasulu
