New Policy: Trump tolak usulan damai terbaru dari Iran
Trump tolak usulan damai terbaru dari Iran
Pemimpin AS menilai proposal Iran tidak cukup menguntungkan
New Policy – Pada hari Minggu (3/5), Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa ia telah menganalisis usulan damai terbaru yang diajukan oleh Iran untuk mengakhiri konflik antara kedua negara. Namun, Trump menilai proposal tersebut tidak memenuhi syarat untuk diterima. “Usulan itu tidak dapat saya terima. Saya telah meninjau semua poinnya, dan saya yakin tidak bisa menerima,” kata Trump dalam wawancara dengan penyiar dari Kanal TV Israel. Pernyataan itu diucapkan setelah Trump menyebut bahwa operasi militer AS terhadap Israel dalam beberapa minggu terakhir berjalan lancar, menurut laporan resmi.
“Usulan itu tidak dapat saya terima. Saya telah meninjau semua poinnya, dan saya yakin tidak bisa menerima,” kata Trump.
Sebelumnya pada hari yang sama, Al Jazeera melaporkan bahwa Iran telah mengajukan rencana tiga tahap kepada AS sebagai upaya mencapai perdamaian jangka panjang. Rencana ini diberikan oleh sumber yang mengetahui detailnya, dan berisi beberapa komponen penting. Tahap pertama melibatkan penghentian sementara permusuhan antara AS dan Iran dalam waktu 30 hari, serta penerapan gencatan senjata di seluruh wilayah kawasan. Selain itu, proposal ini juga mencakup kesepakatan non-agresi antara kedua negara, yang melibatkan sekutu Iran seperti Suriah, Lebanon, serta negara-negara lain yang berada dalam kawasan Timur Tengah.
Dalam fase kedua, Iran menawarkan pembekuan kegiatan pengayaan uranium hingga 15 tahun. Setelah itu, tingkat pengayaan akan dibatasi hingga 3,6 persen, sesuai dengan prinsip penyimpanan nol (zero storage). Hal ini diharapkan bisa mengurangi kemungkinan penggunaan uranium untuk tujuan nuklir yang mengancam keamanan internasional. Tahap ketiga, yang bersifat jangka panjang, menargetkan dialog strategis antara Iran dan negara-negara Arab serta tetangga kawasan. Tujuannya adalah membangun sistem keamanan bersama yang bisa mengendalikan perang dagang, konflik geopolitik, dan tindakan militer yang berpotensi memicu perang.
Meski proposal Iran terdengar menarik, Trump menilai ada kelemahan dalam penawaran tersebut. Ia mengatakan bahwa langkah-langkah yang diusulkan Iran tidak cukup mengakui kepentingan AS dalam menjaga keamanan kawasan Timur Tengah. “Kita harus bisa menyelesaikan masalah ini secara adil, bukan hanya memberi keuntungan kepada satu pihak,” ujarnya. Trump juga menekankan bahwa AS tetap akan terus mengawasi aktivitas Iran, terutama dalam hal pengayaan uranium, sebagai bagian dari strategi nasionalnya untuk mengurangi ancaman dari negara tersebut.
Pernyataan Trump muncul setelah beberapa minggu konflik antara AS dan Iran memanas. Pertikaian ini dimulai dari sanksi ekonomi yang diterapkan Washington terhadap Tehran, serta tindakan militer yang dilakukan AS di wilayah Suriah dan Irak. Iran menilai bahwa langkah tersebut merupakan bentuk tekanan politik terhadapnya, terutama dalam mengenai program nuklir. Namun, dalam proposal barunya, Iran mengajukan perubahan kebijakan yang diharapkan bisa mengurangi ketegangan secara signifikan.
Menurut sumber internal Iran, usulan tiga tahap ini merupakan hasil diskusi antara para diplomat dan utusan militer. Tujuan utamanya adalah menciptakan kesepakatan yang bisa menjaga kepentingan kedua pihak, tanpa mengorbankan hak dan kebebasan Iran dalam mengembangkan program nuklirnya. Tahap pertama, misalnya, menuntut penghentian segala bentuk kekerasan antar negara dalam waktu singkat, tetapi juga memerlukan konsensus dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut. Ini menjadi tantangan besar karena Iran dan AS memiliki sejarah pertikaian yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Sementara itu, keberhasilan operasi militer AS terhadap Israel menjadi fokus pembicaraan Trump. Ia menegaskan bahwa tindakan militer tersebut telah memberikan hasil yang memuaskan, terutama dalam mengurangi ancaman terhadap negara paling kuat di kawasan tersebut. “Operasi kita berjalan sangat baik, dan Israel tetap menjadi mitra yang sangat penting dalam menjaga stabilitas Timur Tengah,” ujarnya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Trump masih percaya pada kekuatan militer sebagai alat utama dalam memperkuat posisi AS.
Beberapa analis internasional menyebut bahwa usulan Iran ini mungkin bisa menjadi jalan keluar bagi konflik yang sudah berlangsung lama. Namun, Trump menilai bahwa rancangan tersebut tidak cukup menyelesaikan akar masalah. “Iran hanya ingin menunda keputusan kita, bukan benar-benar mengakhiri persaingan,” tutur Trump. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa proposal damai yang diajukan Iran bisa menjadi pengalihan sementara, sehingga AS tetap bisa bergerak untuk memperketat sanksi atau memulai operasi militer kembali.
Kebijakan Iran dalam mengajukan proposal damai juga memperlihatkan upaya untuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara Arab. Meski demikian, negara-negara seperti Arab Saudi dan Mesir masih skeptis karena khawatir akan ancaman dari Iran dalam bentuk kekuasaan politik. Proposal tiga tahap ini diharapkan bisa memberikan jaminan bahwa Iran tidak akan menggunakan kekuatannya untuk mengganggu kawasan Timur Tengah, terutama melalui aliansi dengan negara-negara lain.
Dalam konteks ini, Trump berharap AS bisa mendapatkan keuntungan lebih besar dari kesepakatan tersebut. “Kita harus bisa mendapatkan keuntungan yang seimbang, bukan hanya mengorbankan kepentingan AS untuk mengelola krisis,” katanya. Meski proposal Iran dianggap cukup komprehensif, Trump menginginkan syarat tambahan, seperti pengurangan kekuatan militer Iran di wilayah-wilayah yang dekat dengan AS. Hal ini menjadi titik perbedaan utama antara kedua belah pihak.
Sebagai akhir dari artikel ini, proposal Iran dianggap sebagai upaya untuk memulai dialog dengan AS. Meski Trump menolak, usulan tersebut tetap menjadi referensi penting dalam negosiasi yang kemungkinan akan berlangsung di masa depan. Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
