Latest Program: Kemdiktisaintek gelar lomba video pendek untuk cegah kekerasan seksual
Kemdiktisaintek Luncurkan Lomba Video Pendek untuk Mencegah Kekerasan Seksual
Latest Program – Jakarta – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meluncurkan kompetisi video pendek dengan tema “Kampus Aman, Bebas dari Kekerasan” sebagai bagian dari upaya sosialisasi program Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di lingkungan Perguruan Tinggi (PPKPT). Kompetisi ini diharapkan menjadi ajang bagi civitas akademika untuk mengekspresikan semangat kampus yang sehat, inklusif, serta berkeadilan. Dengan partisipasi aktif dari mahasiswa, dosen, tenaga pendidik, dan seluruh warga kampus, kegiatan ini bertujuan memperkuat kesadaran tentang pentingnya lingkungan belajar yang aman.
Kompetisi ini juga merupakan bentuk implementasi Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 yang membahas tata cara pengelolaan perilaku bermartabat di lingkungan pendidikan tinggi. Sebagai penanggung jawab program, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, menekankan bahwa universitas harus menjadi tempat yang nyaman bagi seluruh anggota masyarakat akademik, baik secara fisik maupun emosional. “Dalam bidang pendidikan, kampus tidak hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga wadah yang menginspirasi nilai-nilai sosial yang baik,” ujarnya dalam siaran pers di Jakarta, Senin.
Kampus harus hadir sebagai ruang yang aman dan memberi perlindungan bagi seluruh warga kampus. Kami mendorong partisipasi aktif civitas akademika untuk menyuarakan pesan kuat tentang kehidupan yang bebas dari kekerasan.
Dalam pernyataannya, Khairul Munadi menambahkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif terhadap tindakan-tindakan yang merendahkan martabat. Dengan video pendek sebagai media, peserta diharapkan dapat menyampaikan pesan yang relevan, mencakup berbagai bentuk kekerasan seperti pelecehan, diskriminasi, dan kejadian lainnya yang merugikan. “Kami percaya bahwa kreativitas dalam bentuk video bisa menjadi alat efektif untuk menyebarkan kesadaran masyarakat,” tuturnya.
Kompetisi ini memiliki keunikan karena melibatkan berbagai pihak dalam dunia akademik, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan memperkenalkan narasi visual yang kuat, peserta bisa menggambarkan realitas kampus sehari-hari, sekaligus mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi dalam mencegah kekerasan. Tidak hanya sebagai alat promosi, lomba ini juga bertujuan memperkuat komitmen civitas akademika terhadap pendidikan yang inklusif.
Menurut Khairul Munadi, lomba video pendek ini tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang PPKPT, tetapi juga menjadi sarana untuk membangun budaya akademik yang sehat. “PPKPT bukan sekadar kebijakan, tetapi juga prinsip yang harus ditegakkan dalam setiap interaksi di kampus,” katanya. Ia menambahkan, kegiatan ini sejalan dengan semangat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diharapkan tidak hanya dirayakan secara formal, tetapi juga diterapkan dalam tindakan nyata.
Jadwal dan Partisipasi
Kompetisi ini akan berlangsung dalam beberapa tahapan. Pertama, pada 2 Mei 2026, akan diadakan sosialisasi dan pengumuman resmi lomba. Selanjutnya, dari 2 hingga 17 Mei 2026, peserta diberikan kesempatan mengumpulkan karya mereka. Setelahnya, pada 17–23 Mei 2026, akan dilakukan proses penilaian oleh tim yang ditunjuk. Pada 26 Mei 2026, hasil penilaian akan diumumkan secara terbuka.
Peserta lomba terbuka bagi semua warga kampus, termasuk mahasiswa, dosen, tenaga pendidik, serta lembaga di luar institusi pendidikan tinggi yang terkait langsung dengan lingkungan akademik. “Kami ingin menjangkau berbagai segmen masyarakat agar pesan yang disampaikan bisa lebih luas,” kata Khairul Munadi. Ia menekankan bahwa peserta dianjurkan untuk menampilkan narasi yang memicu emosi dan memperkuat kesadaran publik tentang pentingnya keamanan di kampus.
Kompetisi ini juga diharapkan menjadi ajang pengakuan atas upaya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi. Dengan memanfaatkan media sosial, peserta bisa menyampaikan pesan mereka secara efektif, terutama melalui platform seperti Instagram. “Dengan memanfaatkan teknologi, kami berharap peserta bisa membangun kesadaran masyarakat lebih cepat dan lebih dalam,” ujarnya.
Selain itu, lomba ini juga menjadi penegasan bahwa kekerasan seksual tidak dapat dibiarkan. “Kami bersikeras untuk mencegah segala bentuk kekerasan dalam berbagai bentuk, baik fisik maupun verbal,” tambah Khairul. Ia menegaskan bahwa tindakan-tindakan kekerasan di kampus harus diakhiri, sebab bisa merusak proses belajar-mengajar dan kesejahteraan warga kampus.
Untuk memperkaya konten, Kemdiktisaintek juga menyediakan Buku Saku PPKPT yang bisa diakses melalui tautan ppkpt2025. Buku ini berisi panduan lengkap terkait pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan tinggi, termasuk contoh kasus dan langkah-langkah pencegahan. Dengan adanya buku ini, peserta bisa memperkaya karya mereka dengan data dan konsep yang jelas.
Kompetisi video pendek ini juga diharapkan menjadi media untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya lingkungan yang aman. “Kami percaya bahwa media visual bisa lebih menyentuh daripada teks biasa,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa hasil lomba akan dipublikasikan secara luas, termasuk melalui akun Instagram Ditjen Dikti, agar masyarakat luas dapat mengaksesnya.
