Topics Covered: Indonesia dorong kolaborasi sport tourism di kawasan Asia Tenggara

Indonesia Dorong Kolaborasi Sport Tourism di Kawasan Asia Tenggara

Topics Covered – Dalam pertemuan Southeast Asia Ministerial Meeting in Youth and Sports (SEMMYS) 2026 yang berlangsung di Sanur, Denpasar, Senin (4/5), Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia mengambil peran aktif untuk mendorong sinergi antar negara kawasan Asia Tenggara dalam memperkuat sektor pariwisata olahraga. Pertemuan ini dihadiri oleh para Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) dari negara-negara anggota ASEAN, serta pihak-pihak terkait yang turut berpartisipasi dalam membicarakan strategi pengembangan kegiatan pariwisata olahraga. Tema utama diskusi mencakup peningkatan kerja sama regional untuk mengoptimalkan potensi event olahraga sebagai sarana promosi wisata dan ekonomi.

Strategi Kolaborasi untuk Meningkatkan Daya Tarik Wisata Olahraga

Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga, mengungkapkan bahwa kolaborasi dalam penyelenggaraan event olahraga menjadi kunci untuk mendorong pertumbuhan industri sport tourism. Ia menekankan pentingnya harmonisasi regulasi dan sumber daya antarnegara, agar dapat menciptakan atraksi olahraga yang lebih menarik bagi wisatawan. “Kita perlu membuat event olahraga menjadi lebih dari sekadar kompetisi,” kata Erick, dalam sesi diskusi. “Ini harus diubah menjadi pengalaman yang bisa dinikmati oleh pengunjung dari berbagai belahan dunia.”

Dalam pertemuan tersebut, beberapa rencana kerja sama telah dirumuskan. Salah satunya adalah penyelenggaraan event bersama seperti lari maraton dan balap sepeda, yang diharapkan mampu membangkitkan minat masyarakat untuk menghadiri acara di kawasan tersebut. Erick Thohir menjelaskan bahwa event olahraga seperti ini bisa menjadi titik pertemuan antara kebugaran fisik dan keindahan alam, serta budaya lokal. “Contoh nyata adalah maraton yang diadakan di kota-kota dengan pemandangan alam yang menakjubkan, seperti Bali atau Yogyakarta,” tambahnya.

Menpora se-Asia Tenggara juga menyepakati rencana pemanfaatan teknologi digital dalam promosi event olahraga. Dengan memanfaatkan platform media sosial dan aplikasi khusus, mereka berharap bisa menjangkau audiens yang lebih luas, serta meningkatkan keterlibatan pemuda sebagai target utama. “Teknologi bisa menjadi jembatan antara event dan pengunjung,” ujar salah satu peserta diskusi. “Dengan strategi digital yang tepat, kita bisa mengubah event menjadi atraksi wisata yang unik dan berkelanjutan.”

Manfaat Kolaborasi untuk Perekonomian dan Budaya

Kolaborasi ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan jumlah pengunjung, tetapi juga untuk memperkuat hubungan diplomatik antarnegara. Pariwisata olahraga, atau sport tourism, dikenal sebagai industri yang mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi lokal melalui pembangunan infrastruktur, pelatihan tenaga profesional, dan peningkatan penerimaan wisatawan. “Kita bisa menarik investasi dari luar negeri dengan menawarkan event olahraga yang berskala besar,” kata Erick, yang menambahkan bahwa keberhasilan kolaborasi akan menjadi bukti nyata komitmen Indonesia dalam mendorong ekonomi kreatif.

Pihak-pihak terkait juga menyoroti pentingnya penyelarasan standar penyelenggaraan event, agar dapat memastikan kualitas layanan kepada wisatawan. Hal ini termasuk pengaturan logistik, keamanan, dan pengelolaan infrastruktur olahraga. “Jika kita bisa menyelenggarakan event dengan konsistensi dan keberlanjutan, maka akan lebih mudah membangun citra positif di mata dunia,” kata salah satu peserta dari Malaysia. Diskusi ini juga melibatkan pihak swasta dan organisasi internasional, seperti UNESCO dan Asian Development Bank, yang memberikan masukan tentang keberlanjutan dan dampak lingkungan.

Salah satu rencana utama yang diperkenalkan adalah pengembangan jalur wisata olahraga yang terintegrasi. Misalnya, pengunjung bisa melakukan beberapa event olahraga dalam satu kunjungan, seperti balap sepeda di pulau Sumatra dan lari maraton di pulau Jawa. “Kita juga berencana menyelenggarakan acara budaya yang diselipkan dalam event olahraga, agar pengunjung merasakan keunikan setiap negara,” tambah Erick. Ini diharapkan bisa menciptakan pengalaman yang lebih lengkap bagi para penggemar sport tourism.

Perspektif Pariwisata Olahraga di Asia Tenggara

Menpora dari berbagai negara sepakat bahwa Asia Tenggara memiliki potensi besar untuk menjadi pusat sport tourism global. Dengan kekayaan alam, budaya, dan keberagaman olahraga, kawasan ini bisa menarik wisatawan dari berbagai latar belakang. “Kita memiliki sumber daya alam yang luar biasa, seperti pantai-pantai yang indah dan gunung-gunung yang menantang,” ujar salah satu delegasi dari Singapura. “Jika event olahraga bisa digunakan sebagai sarana promosi, maka Indonesia dan negara-negara tetangga bisa membangun keunggulan bersama.”

Adapun langkah konkret yang diusulkan, antara lain pembentukan konsorsium regional untuk mengelola event olahraga secara bersama. Konsorsium ini akan bertugas mengkoordinasikan rencana kerja sama antar negara, serta menjamin keterlibatan pemuda sebagai pelaku utama. “Pemuda adalah tulang punggung pariwisata masa depan,” kata Erick. “Mereka perlu dilibatkan secara aktif dalam menyelenggarakan event dan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata yang lebih luas.”

Dalam sesi diskusi, para Menpora juga membahas kemungkinan penggunaan kebijakan insentif bagi pelaku usaha pariwisata olahraga. Misalnya, penyedia layanan di kawasan yang dijadikan lokasi event bisa mendapatkan dukungan dari pemerintah, baik berupa dana maupun fasilitas administratif. “Insentif ini akan memastikan minat investasi tetap tinggi, meski kita juga tetap mempertahankan kualitas event,” jelas salah satu pes