Announced: Rubio: Pasukan AS di Selat Hormuz tidak akan menembak lebih dulu
Rubio: Pasukan AS di Selat Hormuz Tidak Akan Menembak Lebih Dulu
Announced – Washington – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio, Selasa (5/5) menyampaikan pernyataan bahwa pasukan militer AS yang beroperasi di Selat Hormuz akan memprioritaskan pertahanan sebelum melakukan serangan. “Project Freedom bukanlah operasi ofensif, melainkan bentuk pertahanan,” kata Rubio kepada para jurnalis. Ia menjelaskan bahwa kebijakan ini menunjukkan komitmen AS untuk menghindari eskalasi konflik sebelum pihak musuh melakukan tindakan serangan terlebih dahulu.
“Artinya sangat sederhana, tidak ada penembakan kecuali kami ditembak lebih dulu,” tambah Rubio. Ia menegaskan bahwa kebijakan defensif ini bertujuan untuk melindungi pasukan dan perahu militer AS dari ancaman, sekaligus menunjukkan kehati-hatian dalam menangani situasi di wilayah yang menjadi jalur vital bagi perdagangan global.
Sebelumnya, pada Jumat (4/5), Presiden AS Donald Trump mengumumkan kebijakan Project Freedom sebagai langkah untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Tujuan operasi ini adalah memastikan kelancaran arus kapal-kapal dagang Amerika Serikat yang melintasi wilayah strategis tersebut. Namun, kebijakan ini segera ditemani oleh tindakan represif dari Iran, yang menurut laporan penyiar IRIB pada Senin (4/5) secara aktif mencegah pasukan AS memasuki Selat Hormuz dengan menyerang sebuah kapal perang menggunakan dua rudal.
Pasukan AS, melalui US Central Command, membantah laporan tersebut dan menyatakan bahwa serangan Iran terhadap kapal perang AS tidak terjadi. “Kami tidak mengalami serangan dari pihak Iran hari itu,” jelas komando militer AS. Meski demikian, Rubio mengungkapkan bahwa pasukan AS tetap siap untuk menanggapi ancaman apa pun yang muncul, terutama dari kapal cepat atau rudal yang dapat membahayakan keberadaan mereka.
Keputusan AS untuk memperbarui postur militer di Selat Hormuz terus berlanjut, meskipun konflik dengan Iran telah berakhir sejak 28 Februari. Menurut Trump, dalam surat yang dikirimkan kepada Kongres pada Jumat (5/5), permusuhan yang dijalani AS terhadap Iran sejak awal telah berakhir. Namun, Pentagon tetap mempertahankan kehadiran militer karena ancaman dari Iran masih dianggap relevan.
Rubio juga menyatakan bahwa operasi defensif Project Freedom akan menjadi tanda berakhirnya Operasi Epic Fury, yang sebelumnya memicu ketegangan di wilayah tersebut. “Kami telah menetapkan akhir dari Operasi Epic Fury,” ujarnya, menunjukkan bahwa langkah ini mencerminkan kesepakatan antara AS dan Iran untuk mengurangi risiko konflik. Meski demikian, kesepakatan tersebut tidak sepenuhnya mengakhiri semua aktivitas militer, karena Iran dan AS masih mempertahankan kehadiran pasukan masing-masing di Selat Hormuz.
Permusuhan dan Gencatan Senjata
Operasi Epic Fury sendiri dimulai pada 28 Februari sebagai respons terhadap serangan Iran yang dituduh menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Serangan tersebut dilakukan bersama oleh AS dan Israel, dan menjadi momen kritis dalam perang dagang antara dua pihak. Pada 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu sebagai upaya untuk menciptakan ruang dialog dan menenangkan keadaan.
Tujuan gencatan senjata ini adalah memberi waktu kepada Iran untuk menyusun proposal terpadu yang dapat memperkuat hubungan bilateral. Meski demikian, perundingan lanjutan di Islamabad, tempat pertemuan antara kedua negara, berakhir tanpa kesepakatan. Trump, sebagai pihak yang memperpanjang penghentian permusuhan, mengungkapkan bahwa keputusan ini dilakukan untuk memastikan Iran memiliki kesempatan memadai dalam merumuskan strategi yang lebih baik.
Situasi Selat Hormuz kembali menjadi fokus perhatian global, terutama karena wilayah tersebut menjadi jalur utama minyak dan gas yang mengalir dari Timur Tengah ke dunia luar. Rubio menekankan bahwa pasukan AS di sana tidak hanya bertugas melindungi kepentingan ekonomi, tetapi juga sebagai penjaga stabilitas regional. “Kami ingin menunjukkan bahwa AS tetap aktif dalam menjaga keamanan, tanpa mengorbankan kehidupan atau perahu-perahu kami,” jelasnya.
Respons dan Persiapan Pasukan
Kebijakan defensif AS di Selat Hormuz juga mencakup persiapan untuk menghadapi ancaman dari segala arah. Menurut Rubio, pasukan militer AS akan mempertahankan kesiapan tanggap darurat, terutama dalam menghadapi kekuatan militer Iran yang dikenal gesit. “Kami akan merespons dengan cepat jika ada tindakan serangan terhadap kami,” tegasnya.
Selain itu, AS juga bersiap untuk menembak jatuh drone atau rudal yang terdeteksi mengancam operasi militer mereka. Kebijakan ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua ancaman, baik langsung maupun tidak langsung, dapat ditegakkan dengan cara yang paling efektif. Rubio menekankan bahwa tindakan-tindakan ini tidak terjadi secara spontan, tetapi berdasarkan evaluasi risiko yang matang.
Terlepas dari kebijakan defensif, keberadaan pasukan AS di Selat Hormuz tetap menjadi sinyal kuat bahwa negara tersebut tidak akan menyerah dalam mempertahankan kepentingan strategisnya. Meski tidak akan menembak lebih dulu, pasukan AS siap menyerang dalam kondisi yang dianggap memicu ancaman serius. Rubio menyatakan bahwa kebijakan ini mencerminkan keseimbangan antara pertahanan dan kemampuan ofensif, yang merupakan kunci dalam menangani situasi yang penuh risiko.
Kebijakan Project Freedom, yang dirancang sebagai bentuk dukungan untuk kapal-kapal dagang AS, juga mencerminkan upaya untuk menegaskan peran AS sebagai penjaga keamanan global. Dalam konteks ini, Rubio mengatakan bahwa operasi tersebut adalah bagian dari strategi lebih luas untuk memastikan pasokan energi tetap mengalir tanpa hambatan. “Kami tidak hanya ingin melindungi minyak, tetapi juga menunjukkan komitmen kami terhadap perdamaian,” tuturnya.
Dengan berakhirnya permusuhan yang diumumkan Trump, pasukan AS dan Iran diberi kesempatan untuk menjajaki kerja sama yang lebih baik. Namun, Rubio menegaskan bahwa keberhasilan gencatan senjata tergantung pada kemampuan kedua belah pihak untuk mematuhi kesepakatan. “Kami harapkan Iran tetap mematuhi komitmen ini, agar situasi di Selat Hormuz bisa lebih tenang,” ujarnya. Meski demikian, pasukan AS tetap bersiaga, karena ancaman dari Iran tidak sepenuhnya hilang.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
