Topics Covered: Bermalam di lumbung harapan demi menjaga senyum petani
Bermalam di lumbung harapan demi menjaga senyum petani
Topics Covered – Dalam suasana hening malam hari, suara tawa terdengar jelas dari sebuah rumah sederhana di Desa Terusan Mulya, Kecamatan Bataguh, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Kelompok kecil yang sedang duduk di depan meja sederhana silih berganti mengucapkan tawa, sebelum akhirnya beralih ke percakapan serius mengenai rencana penyerapan gabah yang akan dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Malam itu, Angga May Chandra, anggota tim Bulog Kantor Cabang Kapuas, bersama rekan-rekannya memutuskan untuk menginap di rumah seorang petani setempat. Sebuah kebiasaan yang sering dilakukan saat menjalankan tugas pengumpulan hasil panen langsung di lapangan.
Kebiasaan ini tidak hanya memudahkan tim, tetapi juga mempererat hubungan dengan masyarakat sekitar. Angga menjelaskan, bermalam di kawasan pertanian Kapuas, khususnya wilayah Terusan Mulya, menjadi strategi untuk memastikan proses pengambilan gabah berjalan lancar. “Dengan tinggal di kawasan pertanian, kami bisa lebih cepat merespons kebutuhan mitra penggilingan,” kata Angga, yang menjabat sebagai Asisten Manajer Pengadaan dan Operasi Bulog Kapuas. Menurutnya, keberhasilan penyerapan gabah bergantung pada koordinasi yang baik antara pihak Bulog dan petani.
Pengumpulan gabah bukanlah sesuatu yang dilakukan dalam satu hari saja. Setiap kegiatan penyerapan, tim biasanya menargetkan sekitar 30 ton hasil panen, sesuai dengan kapasitas penggilingan yang tersedia. “Dalam sehari, kami mampu menyerap sekitar 10 ton gabah, sehingga membutuhkan tiga hari untuk mencapai target 30 ton,” terang Angga. Keterlibatan tim di lapangan memastikan setiap ton gabah tercatat secara akurat dan terkirim tepat waktu.
Proses Penyerapan Gabah yang Terstruktur
Sebelum gabah diangkut ke gudang, ada serangkaian tahapan yang dilakukan untuk memastikan kualitasnya tetap terjaga. Pertama, gabah yang baru dipanen diperiksa secara teliti oleh petugas lapangan. Proses ini melibatkan pengecekan berbagai aspek, seperti kadar air, kotoran, dan konsistensi ukuran butir. Setelah memenuhi standar, gabah baru dikirim ke tempat pengeringan untuk mengurangi kadar air hingga mencapai batas maksimal.
Selanjutnya, gabah diolah di pabrik penggilingan menjadi beras. Di sini, beras diurutkan berdasarkan kualitas, lalu disortir untuk memisahkan butir yang tidak memenuhi standar. Setelah itu, beras dikemas dalam karung dan disimpan di gudang, siap untuk didistribusikan ke pasar atau ke konsumen. “Setiap tahapan ini penting karena memengaruhi kualitas beras akhir,” tambah Angga, yang menekankan bahwa keterlibatan langsung di lapangan menjadi kunci.
“Menginap di kawasan pertanian Kapuas seperti di wilayah Terusan ini biasa kami lakukan agar penyerapan hasil panen bisa maksimal,” ujar Angga May Chandra.
Meski prosesnya terkesan sederhana, angka-angka di baliknya cukup signifikan. Setiap hari, tim Bulog melakukan penyerapan sekitar 10 ton gabah, tetapi untuk memenuhi target 30 ton, diperlukan tiga hari. Hal ini mencerminkan kompleksitas kerja lapangan yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. “Kami tidak hanya menyerap gabah, tetapi juga memastikan bahwa setiap butir beras yang sampai ke masyarakat memiliki kualitas terbaik,” jelas Angga.
Di samping itu, bermalam di lumbung harapan juga memberikan manfaat lain. Petani yang menjadi mitra kerja seringkali mengundang tim untuk makan malam sederhana. Aktivitas ini bukan hanya tentang mengumpulkan hasil panen, tetapi juga menjaga hubungan baik dengan masyarakat. “Makan malam bersama membuat kami lebih memahami kebutuhan mereka,” ujar Angga, yang menjelaskan bahwa interaksi langsung membangun kepercayaan.
Kesabaran dalam Menjaga Kualitas Hasil Panen
Tidak semudah membalikkan telapak tangan, proses penyerapan gabah memerlukan kesabaran dan ketekunan. Angga menyebutkan, setiap kegiatan penyerapan harus dipertimbangkan secara matang agar tidak mengganggu kegiatan sehari-hari petani. “Petani bekerja keras sepanjang musim panen, dan kami ingin membantu mereka dengan sebaik-baiknya,” katanya. Proses ini juga memerlukan komunikasi intensif, terutama saat memastikan waktu pengumpulan yang sesuai dengan jadwal panen.
Bulog Kantor Cabang Kapuas memiliki standar kualitas yang ketat. Gabah yang diambil harus bebas dari kerusakan dan kotoran. “Jika ada gabah yang rusak, kami tidak mengambilnya karena bisa memengaruhi kualitas akhir,” ujar Angga. Proses ini membutuhkan pengawasan ketat selama beberapa hari, termasuk pemeriksaan berkala di lokasi pengeringan dan penggilingan.
“Misalnya dalam sehari mampu menyerap sekitar 10 ton, berarti perlu waktu kurang lebih tiga hari hingga terkumpul 30 ton gabah,” katanya.
Angga menegaskan bahwa tugas mereka bukan hanya mengumpulkan gabah, tetapi juga memastikan bahwa hasil panen petani tidak hilang dalam proses. “Kami berusaha agar setiap butir gabah yang diambil tidak rusak dan tetap memiliki nilai ekonomi yang baik,” katanya. Proses ini membantu petani menghasilkan pendapatan yang layak, sehingga senyuman di wajah mereka tetap terjaga.
Kehadiran tim Bulog di lapangan juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan sekitar. Petani yang terbiasa melihat tim datang dan pergi setiap hari mulai memahami pentingnya kualitas produk pertanian. “Mereka mulai lebih sadar bahwa kualitas gabah mereka berpengaruh langsung ke pasar,” ujar Angga. Hal ini membantu meningkatkan daya saing produk lokal di tingkat nasional.
Dengan bermalam di lumbung harapan, Angga dan timnya tidak hanya menjadi bagian dari proses panen, tetapi juga turut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Setiap langkah yang mereka ambil, mulai dari pemeriksaan kualitas hingga penyortiran, bertujuan agar beras yang sampai ke meja makan masyarakat memiliki kualitas terbaik. Proses ini menggambarkan peran penting tim lapangan dalam memastikan hasil panen petani tidak terbuang begitu saja.
