Meeting Results: Kemarin, penetapan Idul Adha 2026 hingga Bahasa Inggris matpel wajib

Kemarin, Penetapan Idul Adha 2026 hingga Perubahan Kurikulum SD

Meeting Results – Minggu (17/5), sejumlah isu penting mengemuka di Indonesia, yang mencakup penentuan hari raya besar Idul Adha serta perubahan dalam sistem pendidikan. Dua peristiwa utama terjadi secara bersamaan: pemerintah mengumumkan hari raya Idul Adha 1447 Hijriah akan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, sementara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) mengenalkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib untuk siswa Sekolah Dasar (SD) pada tahun ajaran 2027 mendatang. Selain itu, dua acara khusus juga diadakan—Harlah Fatayat NU ke-76 dan perayaan Hari Buku Nasional oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas)—yang masing-masing membawa dampak signifikan bagi masyarakat.

Penetapan Idul Adha 1447 Hijriah

Pada hari Minggu (17/5), Kementerian Agama (Kemenag) RI melalui Sidang Isbat resmi menetapkan bahwa 1 Zulhijah 1447 Hijriah akan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026. Dengan demikian, perayaan Idul Adha akan dimulai pada Rabu, 27 Mei 2026, yang menjadi acuan bagi masyarakat untuk menentukan tanggal penyembelihan dan ibadah haji. Hasil hisab serta pengamatan hilal menjadi dasar pengambilan keputusan ini, di mana seluruh data diolah secara rinci sebelum dinyatakan secara resmi.

“Berdasarkan hasil hisab dan laporan hilal, disepakati bahwa 1 Zulhijah 1447 Hijriah jatuh pada hari Senin, 18 Mei 2026, sehingga hari raya Idul Adha diumumkan pada Rabu, 27 Mei 2026,” ujar Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam jumpa pers di Jakarta.

Komitmen Perpusnas untuk Literasi

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46, Perpusnas menegaskan peran pentingnya literasi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia dan martabat bangsa. Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz menjelaskan bahwa acara HUT kali ini bukan sekadar upacara rutin, tetapi merupakan pernyataan kembali tentang tanggung jawab perpustakaan dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Ia menyoroti bahwa literasi tidak hanya berkaitan dengan membaca, tetapi juga dengan pemahaman terhadap informasi, keterampilan berpikir kritis, dan pengembangan budaya belajar.

“Peringatan HUT ke-46 ini menjadi kesempatan untuk menguatkan komitmen Perpusnas dalam menjadikan literasi sebagai motor penggerak pembangunan bangsa,” tutur Aziz saat menghadiri acara di Jakarta.

Selain itu, Perpusnas juga meluncurkan inisiatif khusus dalam perayaan tersebut, yaitu Literacy Run. Kegiatan ini dirancang untuk mengajak masyarakat lebih dekat dengan kebiasaan membaca sekaligus mendorong gaya hidup sehat. Aziz mengatakan bahwa acara lari tersebut bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat untuk membangun kesadaran akan pentingnya literasi dalam meningkatkan kualitas SDM. “Kami percaya bahwa kegiatan seperti Literacy Run dapat memperkuat eksistensi perpustakaan sebagai tempat pertukaran ide dan pengembangan pengetahuan,” tambahnya.

Perayaan Harlah Fatayat NU dan Perempuan Nahdliyin

Pada hari yang sama, Pimpinan Pusat Fatayat NU mengadakan acara peringatan Harlah ke-76 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Acara ini dianggap sebagai momentum untuk memperkuat peran perempuan Nahdliyin dalam berbagai bidang kehidupan. Sekretaris Umum PP Fatayat NU, Ela Siti Nuryamah, menekankan bahwa kehadiran organisasi tersebut bukan sekadar simbol, tetapi bukti nyata komitmen untuk meningkatkan kualitas perempuan melalui langkah konkret.

“Fatayat hadir untuk memberikan contoh tindakan nyata, baik dalam keagamaan, pendidikan, kesehatan, maupun pemberdayaan ekonomi,” ungkap Ela saat menyampaikan sambutan dalam acara tersebut.

Ia menambahkan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan berkelanjutan. “Dengan menggali potensi perempuan, Fatayat berharap mampu menghasilkan generasi muda yang lebih tangguh dan siap menghadapi tantangan global,” jelasnya. Acara Harlah ini juga diisi dengan berbagai kegiatan, termasuk diskusi tentang peran perempuan dalam pemimpinan dan penguasaan bidang-bidang kritis.

Perubahan Kurikulum SD: Bahasa Inggris sebagai Mata Pelajaran Wajib

Mendikdasmen mengumumkan bahwa mulai tahun ajaran 2027, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib di Sekolah Dasar (SD). Keputusan ini diumumkan dalam acara peluncuran Program Revitalisasi Pendidikan di SMKN 1 Sikur, Lombok Timur, Minggu (17/5). Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, menjelaskan bahwa pengenalan Bahasa Inggris dimulai dari kelas 3 SD, yang bertujuan memastikan siswa memiliki kemampuan komunikasi internasional sejak dini.

“Mulai 2027, Bahasa Inggris menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum SD, dengan harapan dapat meningkatkan keterampilan berbahasa dan mengakses informasi secara global,” kata Mu’ti