InJourney Airports sebut kesiapan optimalisasi Bandara Husein lancar

15 hours ago  ·  3 min read
By Richard Wilson
4E25E6C2-8444-4F5C-B8A2-ED963993372D

InJourney Airports Siap Optimalisasi Bandara Husein Sastranegara Bandung

InJourney Airports sebut kesiapan optimalisasi Bandara – Jakarta – PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) yang kini beroperasi di bawah nama InJourney Airports menyatakan bahwa seluruh persiapan untuk optimalisasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung sedang berjalan sesuai rencana. Proses ini bertujuan agar bandara tersebut dapat kembali melayani penerbangan pesawat jet dalam waktu yang tidak lama lagi. Koordinasi intensif terus dilakukan dengan berbagai pihak terkait demi memastikan keberhasilan program ini.

Jadwal dan Skenario Operasional

Kementerian Perhubungan telah menetapkan dua skenario berbeda untuk memulai kembali layanan penerbangan jet di bandara ini. Skenario pertama menargetkan dimulainya layanan pesawat jet pada tanggal 17 Agustus 2026. Sementara itu, skenario kedua menargetkan pencapaian operasional penuh pada 17 September 2026. Kedua tanggal tersebut telah ditetapkan sebagai tonggak penting dalam proses reaktivasi bandara.

Dalam keterangannya di Jakarta pada hari Minggu tanggal 12 Juli, Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F Laisa menjelaskan bahwa kedua skenario telah disiapkan dengan matang. Skenario pertama ditargetkan mulai melayani pesawat jet pada 17 Agustus 2026, sedangkan skenario kedua ditargetkan mencapai operasional penuh pada 17 September 2026.

Persiapan Infrastruktur dan Fasilitas

Fokus utama persiapan saat ini adalah pemenuhan seluruh aspek kesiapan operasional sesuai ketentuan yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Dari segi keselamatan, telah tersedia kendaraan siaga Foam Tender yang berfungsi untuk pertolongan keadaan darurat. Selain itu, fasilitas pendukung dan penunjang Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) Kategori 7 juga telah dipenuhi.

Pada aspek keamanan, dilakukan peningkatan fasilitas Screening Check Point (SCP). Peningkatan ini meliputi pemasangan mesin x-ray, walkthrough metal detector (WMTD), dan handheld metal detector (HHTD). Di sisi udara, pekerjaan juga dilakukan untuk meningkatkan daya dukung runway, taxiway, dan apron agar mampu menampung aktivitas penerbangan yang lebih besar.

Kami telah menyiapkan dua skenario. Skenario pertama ditargetkan mulai melayani pesawat jet pada 17 Agustus 2026, sedangkan skenario kedua ditargetkan mencapai operasional penuh pada 17 September 2026, kata Lukman F Laisa.

Partisipasi Maskapai Penerbangan

InJourney Airports telah menyampaikan rencana operasi dan pelayanan kepada berbagai maskapai penerbangan. Sejalan dengan hal tersebut, sebanyak enam maskapai telah mengajukan permohonan secara resmi untuk dapat beroperasi di Bandara Husein Sastranegara. Setiap maskapai memiliki rute yang berbeda dari dan ke Bandung.

Citilink akan melayani rute Kualanamu, Denpasar, dan Surabaya. Super Air Jet menawarkan delapan rute, yaitu Kualanamu, Denpasar, Pekanbaru, Makassar, Batam, Padang, Balikpapan, dan Pontianak. Garuda Indonesia akan melayani rute Denpasar, sementara Transnusa melayani Kuala Lumpur, Johor Bahru, dan Lampung. Scoot akan melayani rute Singapura, dan Wings Air melayani rute Lampung serta Palembang.

Manajemen Slot dan Efisiensi Operasional

InJourney Airports akan mengatur dan memastikan ketersediaan slot time penerbangan, termasuk waktu take off dan landing, di bandara untuk mengakomodasi permintaan penerbangan sesuai kapasitas yang tersedia. Kemenhub telah menyelesaikan kajian operasional dan safety assessment sebagai dasar pelaksanaan reaktivasi bandar udara. Pemenuhan kesiapan operasional menjadi tanggung jawab PT Angkasa Pura Indonesia sebagai operator bandar udara.

Seluruh proses tersebut harus tetap mengedepankan prinsip keselamatan, keamanan, pelayanan, dan kepatuhan terhadap regulasi penerbangan sipil. Pada skenario pertama, bandara direncanakan melayani penerbangan menggunakan pesawat jet dengan operasi minimal, penerbangan bisnis, dan penerbangan charter dengan dukungan kesiapan infrastruktur dasar. Skenario kedua menargetkan pelayanan pesawat jet kategori Boeing 737-800 dan Airbus A320 melalui penerapan sistem slot management.

Dari aspek keselamatan penerbangan, Ditjen Hubud juga mendorong PT Angkasa Pura Indonesia untuk segera memenuhi persyaratan PKP-PK Kategori 7. Pemenuhan kebutuhan tersebut dapat dilakukan melalui mobilisasi kendaraan Aircraft Rescue and Fire Fighting (ARFF) dari Bandara Kertajati setelah selesainya operasional pemulangan jemaah haji, disertai penguatan personel PKP-PK. Kebutuhan peralatan pendukung lainnya diharapkan dapat dipenuhi melalui optimalisasi dan mobilisasi aset yang telah tersedia tanpa pengadaan baru, sehingga proses reaktivasi dapat berlangsung lebih efisien.

MORE FROM THIS CATEGORY