Bisnis

Meeting Results: Kemenekraf kembangkan IP film yang angkat ekonomi kreatif daerah

Kemenekraf Menggali Potensi Ekonomi Kreatif Daerah melalui Pengembangan IP Film Foufo Meeting Results - Dalam rangka mendorong pertumbuhan sektor ekonomi

Desk Bisnis
Published July 6, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Kemenekraf Menggali Potensi Ekonomi Kreatif Daerah melalui Pengembangan IP Film Foufo

Meeting Results – Dalam rangka mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif, Menteri Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, berkomitmen mengembangkan kekayaan intelektual (IP) dalam industri film yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal. Langkah ini diharapkan tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga mengubahnya menjadi aset ekonomi yang berdampak luas. Foufo, film karya SKAK Studios dan SinemArt, menjadi salah satu proyek utama yang diusung sebagai contoh konkret dari upaya tersebut. Kemenekraf berperan aktif dalam mendukung pengembangan film ini melalui berbagai mekanisme, termasuk audiensi, kolaborasi strategis, serta penguatan IP secara menyeluruh.

Pengaruh pada Ekonomi Kreatif Daerah

Menurut Riefky, budaya lokal tidak hanya sebagai warisan generasi sebelumnya, tetapi juga bisa menjadi fondasi untuk menciptakan produk ekonomi kreatif yang bermakna. Ia menegaskan bahwa ekonomi kreatif daerah harus diisi dengan inovasi dan teknologi, sehingga mampu menarik minat pasar nasional dan internasional. “Budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dihilirisasi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi, sehingga memberikan manfaat ekonomi,” ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima, Minggu (7/7). Peluncuran Foufo dianggap sebagai bukti nyata bahwa karya-karya lokal memiliki potensi besar untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Foufo dirancang sebagai upaya untuk menggali kearifan lokal melalui narasi yang memadukan bahasa daerah. Film ini menggabungkan elemen budaya regional yang relevan dengan cerita, sehingga tidak hanya menarik penonton lokal, tetapi juga menciptakan kesadaran kolektif terhadap keunikan setiap wilayah. Proyek ini juga menjadi wadah bagi pengembangan ekosistem ekonomi kreatif nasional, dengan melibatkan lebih dari 90 persen talenta lokal, sebagian besar diantaranya merupakan anggota baru dalam industri perfilman. Selain itu, film ini didukung oleh 120 animator dari Hompimpa Animworks Surabaya yang berperan penting dalam menciptakan karakter Foufo.

“Hari ini kita melihat komitmen tersebut telah terwujud menjadi sebuah karya yang siap dinikmati masyarakat. Ini membuktikan bahwa cerita dari daerah mampu menjadi tontonan yang menarik sekaligus memiliki potensi ekonomi,” kata Riefky.

Kemenekraf berharap kolaborasi ini bisa menjadi model bagi proyek serupa di masa depan. Dengan menggabungkan kreativitas dari sineas lokal, program tersebut diharapkan mampu memperkuat jejaring kreatif yang terbuka dan menjangkau lebih banyak audiens. Selain itu, pengembangan Foufo tidak hanya berfokus pada film, tetapi juga mencakup pemanfaatan IP melalui merchandise, serta aktivitas kreatif lainnya yang melibatkan komunitas setempat.

Visi Sutradara dan Pengembangan Kreativitas Lokal

Sutradara Foufo sekaligus pendiri SKAK Studios, Bayu Skak, menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Kemenekraf. Ia menilai, program yang diluncurkan oleh kementerian tersebut selaras dengan misi film ini, yang bertujuan menunjukkan bahwa talenta daerah memiliki peluang sama untuk berkontribusi pada industri perfilman nasional. “Visi Kementerian Ekraf membangun ekonomi kreatif dari daerah sangat selaras dengan apa yang kami lakukan melalui Foufo. Kami ingin membuktikan bahwa kekuatan kreatif tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi juga bisa tercipta di berbagai wilayah,” jelas Bayu.

Dalam proses produksi, Bayu memastikan bahwa keunikan budaya lokal diintegrasikan secara alami ke dalam cerita. Ia menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri para sineas muda untuk mengangkat narasi daerah dalam bentuk karya yang menarik dan profesional. “Kemenekraf telah membantu membuka jejaring hingga fasilitasi produksi di daerah. Ini adalah langkah penting untuk memastikan bahwa ekonomi kreatif bisa berkembang secara merata,” tambahnya.

Kemenekraf juga menekankan peran teknologi dalam memperkuat nilai IP film. Dengan menggunakan platform digital dan pemasaran yang terstruktur, film seperti Foufo bisa mencapai audiens yang lebih luas. Selain itu, pemanfaatan bahasa daerah dalam dialog menjadi pengingat bahwa keberagaman budaya Indonesia tidak hanya terjaga, tetapi juga ditingkatkan menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis. “Kita melihat adanya pergeseran ke arah yang lebih inklusif, di mana kearifan lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dihidupkan kembali melalui media yang modern,” kata Riefky.

Langkah Strategis untuk Penguatan Ekosistem Kreatif

Kemenekraf telah menyusun strategi untuk memastikan karya-karya lokal tidak hanya terkenal di lingkaran pecinta film, tetapi juga mampu menarik investasi dan pendapatan dari sektor pariwisata dan hiburan. Foufo, sebagai proyek pertama, diharapkan menjadi penginspirasi bagi karya-karya serupa yang bisa dikerjakan oleh sineas di daerah lain. “Kita melihat adanya pergeseran ke arah yang lebih inklusif, di mana kearifan lokal tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dihidupkan kembali melalui media yang modern,” jelas Riefky.

Proses produksi Foufo melibatkan komunikasi intensif antara Kemenekraf, SKAK Studios, dan SinemArt. Langkah-langkah seperti audiensi dengan produser, diskusi teknis, serta pengoptimalan sumber daya lokal dianggap kunci untuk menghasilkan film yang bermutu tinggi. Kemenekraf juga menggandeng Hompimpa Animworks Surabaya untuk memastikan desain karakter dan visual film selaras dengan konsep budaya yang ingin disampaikan. “Kami memberikan ruang bagi talenta baru, sehingga mereka bisa memperkenalkan ide-ide unik yang bisa diterima oleh berbagai kalangan,” tambah Bayu.

Dalam masa depan, Kemenekraf berencana memperluas program serupa dengan memanfaatkan potensi IP film dari berbagai wilayah. Proyek Foufo diharapkan menjadi referensi untuk membangun model kolaborasi yang efektif antara pemerintah dan sektor kreatif. “Kita perlu memastikan bahwa ekonomi kreatif bisa berkembang tanpa mengabaikan kearifan lokal, karena itu adalah inti dari kekuatan nasional kita,” ujar Riefky. Dengan kombinasi kreativitas, teknologi, dan kesadaran kolektif, film seperti Foufo bisa menjadi aset penting dalam menggerakkan ekonom

Leave a Comment