Komisi VII DPR Tekankan Industrialisasi RI Dibangun Secara Konsisten
Special Plan – Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI Yoyok Riyo Sudibyo menyampaikan pendapat bahwa kebijakan industrialisasi Indonesia telah dijalankan secara terus menerus dan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan daya saing industri nasional. Dalam pernyataannya yang dikonfirmasi Rabu di Jakarta, ia menyoroti peran pemerintah dalam mengampanyekan kebijakan tersebut, khususnya di sektor otomotif. Fasilitas User Specific Duty Free Scheme (USDFS), yang telah berlaku sejak 2008, menjadi contoh nyata upaya pemerintah untuk mendukung industri melalui pengurangan beban impor bahan baku dan komponen. Menurut Yoyok, fasilitas ini telah menghasilkan impor sekitar 8,25 juta ton dengan nilai mencapai 800 miliar dolar AS, dimana kebanyakan manfaatnya dinikmati oleh perusahaan di bidang otomotif.
Kebijakan USDFS dan Kontribusi pada Pertumbuhan Otomotif
Penggunaan USDFS dinilai efektif dalam menjaga konsistensi industri otomotif Indonesia. Yoyok menyebutkan bahwa kebijakan ini bukan hanya mengurangi biaya produksi, tetapi juga membantu perusahaan memperkuat posisi pasar mereka di tingkat nasional. Selain itu, ia menambahkan bahwa dialog antara produsen, perusahaan Jepang, dan serikat pekerja berhasil mencegah ancaman pemutusan hubungan kerja, sekaligus memastikan kelangsungan usaha sektor tersebut. “Pertumbuhan produksi, ekspor, dan investasi menunjukkan bahwa kebijakan industrialisasi selama ini menghasilkan dampak yang nyata,” ujar Yoyok, yang mengapresiasi ekosistem industri yang stabil.
Menurut Yoyok, pertumbuhan industri otomotif menunjukkan tren positif. Pada kuartal I 2026, produksi kendaraan roda empat meningkat sekitar 14 persen secara tahunan. Angka tersebut memperkuat bahwa industri lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang pesat. Pada 2025, ekspor komponen otomotif ke lebih dari 100 negara mencapai nilai lebih dari 7 miliar dolar AS, yang menunjukkan keberhasilan Indonesia dalam menarik pasar internasional. “Ini bukan hanya hasil dari kebijakan jangka pendek, tetapi juga penanaman konsep jangka panjang dalam pembangunan industri,” tambahnya.
Strategi Pemerintah dan Keberhasilan yang Diraih
Yoyok menegaskan bahwa pemerintah harus terus mengawasi kebijakan industrialisasi agar tetap responsif terhadap perubahan dan tantangan di lapangan. “Konsistensi kebijakan adalah kunci untuk memastikan industri tidak mengalami keterpurukan, terutama dalam menghadapi persaingan global,” kata legislator dari fraksi Partai Demokrat tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa perlu ada pengawasan lebih ketat terhadap investor asing untuk memastikan mereka tidak hanya mengambil keuntungan, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kapasitas lokal.
Dalam wawancara terpisah, Anton Kumonty, Ketua Harian Gaikindo, menyatakan dukungan pemerintah terhadap industri kendaraan bermotor telah memberikan kepastian bagi investor. “Komitmen ini menunjukkan bahwa pemerintah melihat investor sebagai mitra strategis, bukan sekadar pengguna jasa,” ungkap Anton. Ia menambahkan bahwa kebijakan seperti USDFS dan dialog terus-menerus antara pihak pemerintah, produsen, serta perusahaan Jepang telah meningkatkan ketahanan sektor otomotif.
Anton menyoroti bahwa fasilitas USDFS tidak hanya mendorong produksi dalam negeri, tetapi juga membantu perusahaan mengurangi biaya produksi hingga mencapai tingkat kompetitif. “Dengan menghilangkan bea masuk pada bahan baku yang belum bisa diproduksi di Indonesia, kita memastikan industri tetap bergerak maju,” jelasnya. Selain itu, ia menegaskan bahwa kebijakan adaptif dalam regulasi dan insentif telah memberikan dampak signifikan terhadap keberlanjutan investasi. Anton berharap pemerintah dapat melanjutkan pendekatan yang sama untuk memastikan industri tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.
Pertumbuhan Pasar dan Kebutuhan Stimulus Ekstra
Anton juga mengusulkan agar pemerintah memberikan stimulus lebih luas untuk berbagai jenis kendaraan, termasuk kendaraan konvensional, hibrida, listrik, dan berbahan bakar alternatif. “Dengan menjangkau semua jenis kendaraan, kita bisa menjaga pertumbuhan pasar otomotif Indonesia,” katanya. Ia menilai kebijakan yang fokus pada satu jenis teknologi mungkin mengabaikan potensi sektor lain yang juga berkontribusi pada perekonomian.
USDFS, menurut Anton, adalah salah satu kebijakan yang paling berpengaruh dalam mendorong industri otomotif. “Fasilitas ini memungkinkan perusahaan mengimpor bahan baku yang mahal, sehingga mereka bisa memproduksi barang dengan biaya lebih rendah,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kebijakan ini perlu terus diperluas untuk mencakup sektor lain yang belum sepenuhnya mendapat bantuan. Anton juga mengingatkan bahwa pelaku industri harus berkolaborasi dengan pemerintah untuk menciptakan kebijakan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Yoyok menyetujui usulan Anton, karena ia melihat bahwa industri otomotif tidak hanya perlu dukungan dari kebijakan, tetapi juga inisiatif kreatif dari pihak terkait. “Kita harus berpikir lebih luas, tidak hanya fokus pada satu bagian industri,” katanya. Ia menekankan bahwa industri harus dikembangkan secara holistik, termasuk dalam hal infrastruktur, sumber daya manusia, dan pemasaran. Yoyok berharap pemerintah bisa memperkuat koordinasi antar kementerian untuk menciptakan lingkungan industri yang lebih stabil dan menarik.
Langkah Maju dalam Masa Depan
Menurut Yoyok, industri otomotif Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu sektor utama perekonomian nasional. “Dengan pertumbuhan ekspor ke lebih dari 100 negara, kita bisa yakin bahwa industri ini tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga mendapat pengakuan internasional,” katanya. Ia juga menilai bahwa pemerintah perlu memperhatikan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan, karena industri otomotif memiliki dampak signifikan terhadap emisi karbon.
Anton Kumonty menambahkan bahwa selain USDFS, kebijakan lain seperti insentif pajak dan pembatasan impor bahan baku yang tidak perlu juga memberikan dampak positif. “Kita harus memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan,” ujarnya. Ia menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah dan industri adalah kunci keberhasilan dalam jangka panjang.
Dalam kesimpulan, Komisi VII DPR menegaskan bahwa industrialisasi Indonesia harus terus dikembangkan secara konsisten. Kebijakan yang sudah diterapkan, seperti USDFS, menunjukkan kemajuan yang signifikan, tetapi perlu disertai dengan langkah-langkah baru untuk menjamin pertumbuhan berkelanjutan. Yoyok dan Anton sepakat bahwa pemerintah harus tetap aktif dalam mengawasi dan mengoptimalkan kebijakan tersebut, agar industri nasional tidak tertinggal dalam menghadapi persaingan global.
