Topics Covered: Jateng perkuat posisi Candi Borobudur sebagai pusat religi dunia
Jateng perkuat posisi Candi Borobudur sebagai pusat religi dunia
Topics Covered – Di Semarang, Jawa Tengah, Pemerintah Provinsi Jateng berkerjasama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sedang mengambil langkah strategis untuk memperkuat Candi Borobudur serta tiga situs candi lainnya, yaitu Prambanan, Mendut, dan Pawon, sebagai pusat keagamaan internasional. Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen menyampaikan bahwa perbaikan perjanjian kerja sama (MoU) pengelolaan empat candi ini mulai masuk ke fase final. Tujuan utama dari upaya ini adalah memastikan candi-candi tersebut menjadi tempat ibadah utama bagi umat Hindu dan Buddha di seluruh dunia, sekaligus meningkatkan pariwisata yang berkelanjutan. Menurut Taj Yasin, revisi MoU sangat penting karena masa berlaku kesepakatan sebelumnya yang berlangsung dari 2021 hingga 2026 segera berakhir. Ia menekankan bahwa perjanjian baru harus lebih konkret dalam mewujudkan kegiatan ibadah dan mendorong akses yang lebih mudah bagi pengunjung. “Kami mendorong perpanjangan MoU ini. Kami juga sedang mengeksplorasi berbagai potensi untuk meningkatkan daya tarik wisata di empat lokasi candi,” ujarnya, saat menerima kunjungan Tim Koordinasi Kemenko Perekonomian.
Langkah Strategis untuk Mendorong Pariwisata Berkelanjutan
Dalam pertemuan tersebut, Taj Yasin menggarisbawahi perlunya pendekatan holistik dalam pengembangan keempat candi. Ia menyarankan agar fokus tidak hanya terbatas pada area utama, tetapi juga mencakup situs-situs candi lain di Jateng yang berpotensi. Sebagai contoh, candi di kawasan Tawangmangu (Karanganyar) dan Wonosobo dipertimbangkan untuk diintegrasikan ke dalam satu program promosi wisata. “Dengan menggabungkan candi-candi tersebut, narasi promosi Jawa Tengah akan menjadi lebih kuat di tingkat global,” kata pria yang akrab disapa Gus Yasin. Hal ini diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung dari luar negeri, sekaligus mendorong kerja sama lintas daerah dalam membangun ekosistem religi yang lebih solid.
Pengembangan Pariwisata dan Potensi Pasar Internasional
Keputusan untuk memperbarui MoU juga terkait dengan kesiapan Jateng memanfaatkan kembali Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang yang telah kembali beroperasi untuk rute internasional. Dengan adanya penerbangan langsung dari Singapura dan Malaysia, waktu tempuh wisatawan yang tertarik dengan perjalanan spiritual menuju Jateng diperkirakan akan berkurang, sehingga memudahkan aksesibilitas. “Pengembangan infrastruktur penerbangan ini menjadi bagian penting dari strategi menarik pengunjung dari mancanegara,” tambah Gus Yasin. Selain itu, ia menyoroti potensi pasar yang semakin besar dari Thailand, berdasarkan masukan pengelola kawasan. Menurutnya, tren wisata religi di negara tersebut semakin meningkat karena para orang tua mengajak anak muda untuk melakukan ziarah spiritual ke Candi Borobudur.
“Pangsa pasar wisata religi dan ziarah Hindu-Buddha secara global sangat besar. Fokus kita ke depan adalah memastikan Candi Borobudur dan sekitarnya benar-benar memberikan manfaat nyata bagi ekonomi rakyat,” kata Herfan Brilianto Mursabdo, Asisten Deputi Pengembangan Pariwisata Kemenko Perekonomian, dalam diskusi yang sama.
Herfan menyetujui upaya Jateng dalam mendorong integrasi candi-candi sebagai satu kesatuan keagamaan. Ia menjelaskan bahwa Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian saat ini tengah menyempurnakan MoU agar kegiatan keagamaan tidak mengganggu pelestarian nilai budaya dan kesejahteraan masyarakat setempat. “Kami ingin memastikan bahwa pengembangan candi tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberdayakan komunitas sekitarnya melalui kegiatan ekonomi lokal,” tambah Herfan. Kementerian ini juga menekankan pentingnya keseimbangan antara aksesibilitas spiritual dan keberlanjutan lingkungan, yang menjadi tantangan utama dalam pengelolaan candi-candi tersebut.
Menurut Herfan, keberadaan MoU yang kuat dapat menjadi penggerak utama dalam mengelola candi-candi sebagai sumber daya budaya yang bernilai tinggi. Ia mengungkapkan bahwa kesepakatan baru harus mencakup peningkatan fasilitas, pengelolaan sumber daya manusia, serta promosi yang lebih masif. “Pariwisata religi bukan hanya tentang wisata, tetapi juga tentang pengembangan ekonomi melalui aktivitas spiritual yang berkelanjutan,” katanya. Poin ini sejalan dengan visi Jateng yang ingin membangun hubungan keagamaan dengan destinasi serupa di berbagai negara, seperti Candi Borobudur dan tempat ziarah lainnya di Asia Tenggara.
Upaya Meningkatkan Visibilitas keagamaan Jateng
Herfan Brilianto Mursabdo menjelaskan bahwa kegiatan perbaruan MoU bukan hanya untuk meningkatkan pengunjung, tetapi juga untuk memastikan bahwa nilai-nilai keagamaan tetap dijaga. Ia menyebutkan bahwa pemerintah pusat sedang fokus pada penyempurnaan perjanjian agar kegiatan ibadah dan ziarah bisa berjalan harmonis dengan pelestarian situs budaya. “Kami juga ingin memastikan bahwa keberadaan candi-candi ini berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat lokal,” ujarnya. Selain itu, Herfan menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah provinsi dan pusat untuk menciptakan kebijakan yang inklusif, baik dari segi agama maupun ekonomi.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian khusus dalam pembahasan adalah integrasi candi-candi Jateng ke dalam paket promosi nasional. Gus Yasin menjelaskan bahwa langkah ini akan membuka peluang lebih besar bagi wisatawan internasional untuk mengakses candi-candi yang terkenal. “Dengan menggabungkan semua daya tarik keagamaan di Jateng, kita bisa menyaingi destinasi serupa di luar negeri,” katanya. Ia menilai bahwa pengembangan pariwisata berkelanjutan sangat berpeluang meningkatkan perekonomian daerah, terutama melalui pendapatan dari biaya pengelolaan dan penginapan.
Kesiapan Menghadapi Perjalanan Spiritual Global
Menurut Taj Yasin, keberhasilan upaya ini bergantung pada kesiapan Jateng dalam memenuhi kebutuhan pengunjung religi. Ia menyatakan bahwa keempat candi tersebut harus dikelola dengan sistem yang terpadu, mulai dari pengaturan jadwal ibadah hingga fasilitas pendukung. “Pembaruan MoU ini akan menjadi fondasi untuk menghadirkan pengalaman spiritual yang optimal bagi wisatawan,” ujarnya. Pembaruan ini juga diharapkan meningkatkan daya tarik candi-candi Jateng sebagai destinasi unik yang menggabungkan sejarah, arsitektur, dan nilai keagamaan. Dengan adanya fasilitas baru, di antaranya aksesibilitas yang lebih baik dan pengelolaan yang lebih profesional, Jateng siap menarik perhatian wisatawan dari berbagai belahan dunia.
Sebagai contoh, kembalinya oper
