Dunia

Important Visit: WHO: Kasus baru Ebola capai tingkat tertinggi sejak wabah dimulai

WHO: Kasus Ebola Baru di Kongo Tercatat sebagai Angka Tertinggi Sejak Pandemi Dimulai Important Visit - Brazzaville, Republik Demokratik Kongo (RD Kongo)

Desk Dunia
Published July 4, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

WHO: Kasus Ebola Baru di Kongo Tercatat sebagai Angka Tertinggi Sejak Pandemi Dimulai

Important Visit – Brazzaville, Republik Demokratik Kongo (RD Kongo) – Jumlah kasus baru infeksi Ebola mencapai level tertinggi sejak wabah pertama kali muncul, menurut pernyataan Mohamed Yakub Janabi, direktur wilayah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Afrika, pada Jumat (3/7). Dalam siaran pers daring, Janabi menjelaskan bahwa wabah ini merupakan episod terbesar dari varian Bundibugyo Ebola yang tercatat dalam sejarah, dengan situasi yang masih kritis. Penyebaran penyakit terus terjadi di dua provinsi utama, yaitu Ituri dan Kivu Utara, yang terletak di bagian timur RD Kongo.

Wabah Memperumit Upaya Kontrol

Pierre Akilimali, ahli WHO di RD Kongo, menegaskan bahwa wabah ini meluas ke daerah-daerah yang rawan konflik dan memiliki aktivitas kelompok bersenjata. Faktor ini menyulitkan upaya mendeteksi infeksi serta mengawasi kontak yang terinfeksi. Akilimali mengungkapkan bahwa beberapa wilayah terdampak di Ituri adalah zona pertambangan, di mana mobilitas penduduk tinggi karena kegiatan ekonomi mengurangi kemungkinan isolasi dini. “Kehadiran warga dari luar daerah meningkatkan risiko penularan,” katanya, sambil menambahkan bahwa lebih dari 75% dari total kematian berasal dari masyarakat umum, bukan dari fasilitas kesehatan.

“Wabah ini adalah yang terbesar dari Bundibugyo Ebola sejak pencatatan dimulai, dan dampaknya terasa sangat nyata. Meski upaya pengendalian telah dilakukan, penularan terus terjadi secara lokal,” ujar Akilimali.

Sampai Rabu (1/7), jumlah kasus terkonfirmasi mencapai 1.460, dengan 432 di antaranya berujung pada kematian. Tingkat kematian mencapai sekitar 31 persen, menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 3 pasien tidak bertahan hingga diterima perawatan. Akilimali menjelaskan bahwa 36 zona kesehatan di tiga provinsi telah terkena wabah, dengan sebagian besar infeksi berada di wilayah Ituri. “Masyarakat di sana masih mengalami kesulitan mengakses layanan medis, sehingga sejumlah korban tidak terdeteksi secara tepat waktu,” tambahnya.

Perkembangan di Uganda

Sementara itu, di Uganda, jumlah kasus yang dilaporkan hingga Kamis (2/7) adalah 20, termasuk 15 kasus yang berasal dari luar negeri. Lima dari kasus lokal terdeteksi saat warga menjalani isolasi, dan hingga saat ini belum ada indikasi penyebaran di lingkungan masyarakat. Benjamin Sensasi, ahli WHO di Uganda, menyoroti bahwa pengendalian infeksi telah berjalan baik di negara itu, terutama karena sistem karantina yang diterapkan.

“Uganda berhasil memutus rantai penularan lokal, dan saat ini fokus kita adalah memastikan tidak ada kebocoran dari daerah terjangkau ke wilayah lain,” kata Sensasi.

Kedua negara, RD Kongo dan Uganda, telah sepakat membentuk mekanisme respons lintas perbatasan. Kesepakatan ini berupa nota kesepahaman (MoU) yang akan digunakan untuk berbagi data pengawasan sehat serta meningkatkan kapasitas skrining di titik-titik masuk. “Kerja sama ini sangat penting untuk mencegah penyebaran ke wilayah lain,” tambah Sensasi, yang menyoroti koordinasi antar-negara sebagai langkah kritis dalam menghadapi wabah.

Kendala di Daerah Terpencil

Akilimali mengingatkan bahwa provinsi-provinsi seperti Ituri dan Kivu Utara masih menjadi daerah rawan. Daerah tersebut tidak hanya menghadapi tantangan logistik karena jarak yang jauh, tetapi juga keterbatasan sumber daya manusia dan medis. “Kurangnya akses ke fasilitas kesehatan membuat banyak korban tidak ditemukan sebelum terlambat,” jelasnya. Hal ini memperparah situasi karena komunitas lokal sering kali menunda pengobatan karena takut kehilangan penghasilan atau karena kepercayaan yang rendah terhadap sistem kesehatan.

Persentase kematian yang tinggi juga menjadi perhatian. Akilimali menjelaskan bahwa dari 432 korban meninggal, 321 di antaranya terjadi di lingkungan masyarakat, sementara sisanya berada di institusi kesehatan. “Ini membuktikan bahwa warga tidak selalu bisa mencapai fasilitas medis sebelum kondisi mereka memburuk,” katanya. Akibatnya, tingkat kematian tetap tinggi meski upaya vaksinasi dan penanganan segera dilakukan.

Langkah Kolaboratif untuk Pengendalian

MoU yang ditandatangani oleh kedua negara mencakup rencana berbagi informasi mengenai pasien yang terinfeksi serta peningkatan pengawasan di perbatasan. Sensasi menegaskan bahwa mekanisme ini akan membantu mengidentifikasi kasus-kasus baru secara lebih cepat, terutama di daerah yang terisolasi. “Kerja sama antar-negara menjadi kunci dalam memutus penyebaran,” tuturnya.

Persiapan untuk menghadapi wabah ini terus berlangsung. Di RD Kongo, tim medis sedang berupaya memperkuat sistem pemantauan, termasuk menyediakan fasilitas isolasi yang lebih banyak. Di sisi lain, Uganda fokus pada peningkatan kesadaran masyarakat melalui kampanye edukasi tentang gejala dan cara mencegah penularan. Dengan kombinasi upaya lokal dan kolaborasi internasional, harapan untuk mengendalikan wabah semakin tinggi, meski tantangan masih terasa.

Tantangan di Depan

Sensasi menyebutkan bahwa penyebaran virus tidak hanya tergantung pada kecepatan deteksi, tetapi juga pada kesiapan komunitas. “Di beberapa wilayah, warga terbiasa mengabaikan gejala awal karena merasa tidak terancam,” katanya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat harus ditingkatkan, terutama di daerah dengan kepadatan populasi tinggi dan mobilitas penduduk yang aktif.

Janabi menambahkan bahwa WHO akan terus memantau progres penanganan wabah di DRC, serta meninjau kembali strategi untuk meningkatkan efektivitas intervensi. “Kita perlu memperkuat kapasitas respons di tingkat lokal, terutama di daerah yang sulit dijangkau,” katanya. Dengan adanya dukungan dari pemerintah dan organisasi internasional, upaya untuk mengendalikan wabah dapat berjalan lebih lancar.

Dengan angka kasus yang terus naik, risiko wabah menyebar ke wilayah lain masih ada. Akilimali memperingatkan bahwa jika tidak ada tindakan cepat, kematian bisa meningkat lebih lanjut. “Kita harus bersiap menghadapi kemungkinan wabah mengarah ke pembelahan lebih luas,” ujarnya. Kondisi ini menegaskan pentingnya kerja sama antar-negara dan komunitas dalam mengatasi krisis kesehatan yang menjangkau wilayah yang rentan.

Kesimpulan dan Harapan

Sensasi menyatakan bahwa meski hasil awal di Uganda menggembirakan, RD Kongo tetap menjadi pusat utama wabah. “Kami yakin langkah kolaborasi ini akan mengurangi risiko penyebaran ke negara-negara tetangga,” katanya. Janabi menutup pernyataannya dengan mengingatkan bahwa kesadaran dan partisipasi masyarakat tetap menjadi faktor utama dalam keberhasilan pengendalian wabah. “Setiap upaya kecil bisa berdampak besar jika dilakukan secara konsisten,” tegasnya.

Leave a Comment