Inflasi AS tinggi, BI pastikan terus jaga rupiah sesuai fundamental

10 hours ago  ·  4 min read
By Richard Wilson - fukushimask.com
WhatsApp-Image-2026-09-30-at-12.19.59-1

BI Perkuat Langkah Stabilkan Rupiah di Tengah Tekanan Inflasi AS

Fukushimask.com – Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga pergerakan nilai tukar rupiah tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi nasional. Langkah tersebut ditempuh ketika pasar keuangan global kembali menghadapi tekanan setelah inflasi Amerika Serikat pada September 2026 tercatat lebih tinggi dari proyeksi pasar.

Pada pembukaan perdagangan Kamis, rupiah melemah 45 poin atau 0,25 persen. Mata uang Indonesia bergerak ke posisi Rp17.948 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.903 per dolar AS. Kendati demikian, pelemahan rupiah secara kuartal berjalan masih terbatas dan searah dengan tren mata uang lain di kawasan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, menyampaikan bahwa bank sentral tetap aktif menjaga kelancaran pasar sekaligus mengurangi gejolak yang tidak sesuai dengan fundamental rupiah.

“Intervensi terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder,” kata Erwin G.Hutapea.

Intervensi di Pasar Valuta dan Surat Berharga

Strategi yang digunakan BI mencakup sejumlah instrumen di pasar keuangan. Transaksi NDF dilakukan di pasar luar negeri, sementara transaksi spot dan DNDF ditempuh di pasar domestik. Pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar dan memperkuat efektivitas kebijakan moneter.

Selain melakukan operasi di pasar, BI mengatur struktur suku bunga pasar uang dengan memastikan likuiditas tetap memadai. Ketersediaan likuiditas penting agar transaksi antarperbankan dan aktivitas pasar uang dapat berlangsung secara teratur, terutama ketika pelaku pasar merespons perubahan sentimen global secara cepat.

Komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar juga terus diperkuat. Langkah ini diperlukan untuk menjaga pemahaman pasar atas arah kebijakan bank sentral serta membantu mencegah respons berlebihan terhadap perkembangan eksternal.

Inflasi AS Memicu Ekspektasi Kebijakan The Fed

Tekanan pasar kali ini dipengaruhi oleh data inflasi Amerika Serikat yang meningkat sekaligus melampaui perkiraan. Inflasi Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) AS secara tahunan mencapai 3,7 persen pada September 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibanding konsensus pasar yang memperkirakan inflasi sebesar 3,6 persen secara tahunan.

Inflasi inti AS juga naik menjadi 2,6 persen secara tahunan, melebihi ekspektasi pasar sebesar 2,5 persen. Data yang lebih tinggi dari proyeksi tersebut memperbesar harapan bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, dapat mengambil kebijakan suku bunga yang lebih agresif.

Ekspektasi kenaikan suku bunga AS biasanya mendorong investor memberi perhatian lebih besar pada aset berdenominasi dolar AS. Situasi itu dapat meningkatkan daya tarik surat utang pemerintah AS dan pada saat yang sama menambah tekanan terhadap arus dana portofolio di negara berkembang.

Erwin menjelaskan bahwa sentimen tersebut sempat memperkuat dolar AS secara signifikan. Indeks dolar AS atau DXY pernah melonjak ke titik tertingginya sejak Mei 2025. Pada periode yang sama, imbal hasil US Treasury bertenor dua tahun sempat meningkat 12 basis poin hingga mencapai 4,90 persen.

“Memburuknya sentimen risk off tersebut mendorong penguatan dolar AS serta tekanan arus keluar dana dari portofolio aset negara emerging markets di tengah kenaikan yield obligasi,” kata Erwin.

Konflik Timur Tengah Tambah Risiko Global

Selain perkembangan inflasi dan suku bunga di Amerika Serikat, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah turut membebani sentimen pasar. Kondisi tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi, yaitu di atas 105 dolar AS per barel, sekaligus meningkatkan risiko fiskal ke depan.

Harga minyak yang tinggi menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi biaya energi, inflasi, dan kebutuhan pembiayaan sejumlah negara. Ketika risiko global meningkat, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset yang dipandang lebih berisiko. Fenomena ini dikenal sebagai sentimen risk off.

Dalam kondisi seperti itu, stabilitas nilai tukar menjadi penting bagi kegiatan ekonomi. Pergerakan rupiah memengaruhi biaya transaksi internasional, khususnya bagi pelaku usaha yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam valuta asing. Karena itu, respons BI diarahkan agar tekanan pasar tidak berkembang menjadi volatilitas yang berlebihan.

Pelemahan Rupiah Masih Terbatas

Meski pasar global bergejolak, pelemahan rupiah secara quarter-to-date tercatat hanya 0,17 persen. Pergerakan tersebut masih sejalan dengan perubahan nilai mata uang regional, sehingga menunjukkan tekanan tidak hanya dialami Indonesia.

Ketahanan eksternal juga ditopang oleh posisi cadangan devisa. Pada akhir September 2026, cadangan devisa Indonesia berada di level 146,3 miliar dolar AS. Ketersediaan cadangan devisa memberi ruang bagi bank sentral untuk menjalankan kebijakan stabilisasi saat pasar mengalami tekanan.

Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan Federal Reserve, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta situasi geopolitik di Timur Tengah. BI menyatakan akan terus berada di pasar untuk memastikan mekanisme pasar tetap bekerja secara baik dan nilai rupiah bergerak sesuai fundamentalnya.

Frequently Asked Questions

What is Inflasi AS tinggi BI pastikan terus?

Inflasi AS tinggi BI pastikan terus is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Inflasi AS tinggi BI pastikan terus matter?

Inflasi AS tinggi BI pastikan terus matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

More from this category

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *