IDAI ingatkan risiko Hantavirus pada anak dengan penyakit penyerta

IDAI Ingatkan Risiko Hantavirus pada Anak dengan Kondisi Medis Tambahan

IDAI ingatkan risiko Hantavirus pada anak – Hantavirus kembali mendapat perhatian setelah muncul kasus penularan di luar negeri, sementara Indonesia pernah mencatat infeksi serupa sebelumnya. Dalam gelar wicara daring yang diadakan oleh IDAI sebagai bagian dari UKK Infeksi Penyakit Tropik, dokter spesialis Dominicus Husada mengingatkan bahwa anak-anak yang memiliki penyakit penyerta lebih rentan mengalami komplikasi serius jika terinfeksi. (Putri Hanifa/Rizky Bagus Dhermawan/Nabila Anisya Charisty)

Penularan Hantavirus, yang sebelumnya dianggap sebagai ancaman terbatas pada wilayah tertentu, kini menyebar ke daerah lain. Menurut data yang tercatat, virus ini dapat menyebabkan gejala seperti demam, kelelahan, dan kesulitan bernapas. Meski kasus di luar negeri menunjukkan peningkatan, IDAI menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh lengah. Sejak beberapa tahun silam, negara ini juga melaporkan sejumlah infeksi yang serupa, terutama di daerah dengan lingkungan yang kurang bersih.

Dokter Husada menekankan bahwa perlu dilakukan upaya pencegahan lebih intensif, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak. “Anak yang memiliki kondisi medis tambahan, seperti penyakit jantung atau diabetes, lebih berisiko mengalami penyakit berat akibat Hantavirus jika tidak segera diperlakukan,” ujarnya dalam sesi webinar Jumat (8/5) lalu. Ia menambahkan bahwa risiko ini terutama meningkat karena sistem imun anak yang masih berkembang bisa terganggu oleh penyakit penyerta.

“Anak-anak dengan penyakit penyerta lebih rentan mengalami kondisi berat bila terinfeksi Hantavirus. Mereka perlu mendapat perhatian khusus karena gejala yang muncul bisa lebih cepat memburuk,” kata dokter Husada dalam sesi yang diikuti oleh ribuan orang.

Hantavirus, yang termasuk dalam kelompok virus yang dapat menyebar melalui kontak dengan serangga atau hewan pengerat, khususnya tikus, merupakan ancaman yang tidak boleh diabaikan. Menurut informasi yang dihimpun, virus ini menyebar melalui udara yang terkontaminasi air liur, kotoran, atau urine tikus yang terhirup. Sebagai langkah pencegahan, IDAI menyarankan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar rumah dan menghindari sentuhan langsung dengan hewan pengerat.

Kasus Hantavirus di luar negeri, terutama di negara-negara Asia dan Eropa, memicu perhatian khusus dari para ahli kesehatan. Di Indonesia, kondisi ini lebih sering ditemukan di daerah pedesaan, terutama saat musim hujan tiba. Selama periode tersebut, tikus dan hewan pengerat lainnya lebih aktif, meningkatkan peluang penularan. Anak-anak yang tinggal di lingkungan yang kurang terawat, seperti rumah yang berlumpur atau tempat penampungan, menjadi korban potensial.

Dokter Husada juga mengingatkan bahwa gejala awal Hantavirus sering kali mirip dengan penyakit lain, sehingga memicu kesalahpahaman. “Seringkali, orang tua tidak menyadari bahwa anak mereka sedang terinfeksi hingga gejala memburuk,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya observasi yang teliti, terutama pada anak yang sebelumnya memiliki riwayat penyakit kronis. Kondisi ini bisa memperparah gejala Hantavirus, seperti gangguan pernapasan atau kelainan jantung.

Pencegahan dan Peran Edukasi

Untuk mencegah penyebaran Hantavirus, IDAI menyarankan berbagai langkah praktis. Pertama, menjaga kebersihan rumah dan sekitarnya dengan membersihkan tempat-tempat yang sering dikunjungi hewan pengerat. Kedua, menghindari makanan yang terkontaminasi serangga atau kotoran hewan. Selain itu, memastikan anak-anak terus menerus menjalani pola hidup sehat dan mendapatkan imunisasi rutin bisa menjadi upaya preventif efektif.

Menurut dokter Husada, penyuluhan tentang Hantavirus juga sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. “Banyak orang tidak tahu bahwa virus ini bisa memengaruhi anak-anak yang sudah memiliki penyakit penyerta. Edukasi mempercepat respons dini,” katanya. Ia menjelaskan bahwa pengetahuan tentang tanda-tanda dan gejala Hantavirus bisa membantu orang tua mengetahui kapan harus segera membawa anak ke dokter.

IDAI berupaya memperkuat sistem deteksi dini melalui kolaborasi dengan lembaga kesehatan daerah dan pusat penelitian. Sebagai langkah preventif, mereka juga menggencarkan kampanye kesadaran masyarakat, terutama di daerah yang rentan terhadap virus ini. “Kita perlu membangun kebiasaan hidup bersih dan waspada terhadap hewan pengerat, terlebih di lingkungan rumah tangga,” tegasnya.

Dalam sesi webinar tersebut, dokter Husada juga membahas pentingnya kerja sama antara keluarga dan lembaga kesehatan. “Edukasi kepada orang tua adalah kunci, karena mereka yang bertanggung jawab atas kesehatan anak. Mereka perlu memahami bahwa anak dengan penyakit penyerta memerlukan perlindungan tambahan saat menghadapi infeksi,” imbuhnya.

Kebutuhan akan deteksi dini juga ditekankan karena Hantavirus bisa menyebar cepat jika tidak diatasi segera. “Anak-anak yang terinfeksi bisa mengalami gejala seperti demam tinggi, kelelahan berlebihan, dan kesulitan bernapas dalam waktu singkat. Jika tidak diatasi, kondisi bisa memburuk menjadi penyakit pernapasan akut atau bahkan kegagalan organ,” jelas dokter Husada. Ia meminta masyarakat terus memantau kesehatan anak, terutama selama musim hujan dan setelah tinggal di area yang rentan.

Menurut para ahli, anak-anak dengan penyakit penyerta seperti asma, diabetes, atau penyakit jantung memerlukan penanganan khusus. Karena tubuh mereka lebih rentan terhadap infeksi, risiko mengalami komplikasi seperti hantavirus bisa lebih tinggi. “Hantavirus tidak hanya menyerang anak yang sehat, tapi juga mereka yang sedang sakit,” kata dokter Husada. Ia mengingatkan bahwa kebersihan lingkungan sekitar dan kejagaan pola hidup anak sangat berperan dalam mencegah penyebaran virus ini.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran, IDAI juga berencana mengadakan pelatihan khusus bagi tenaga kesehatan dan masyarakat. “Kita perlu menyiapkan sistem yang lebih cepat dan akurat dalam mengenali gejala Hantavirus, terutama pada anak-anak yang sudah memiliki kondisi medis tambahan,” katanya. Ia berharap bahwa dengan upaya ini, penyebaran Hantavirus bisa dikurangi secara signifikan.