Key Strategy BRIN: Kemitraan Swasta untuk Empat Kebun Raya
Key Strategy – Sebagai Key Strategy utama, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah mengimplementasikan model kemitraan dengan sektor swasta dalam mengelola empat kawasan konservasi tumbuhan eks-situ di Indonesia. Pendekatan ini bertujuan memperkuat empat pilar fundamental: konservasi alam, penelitian ilmiah, edukasi masyarakat, serta pelayanan publik yang lebih berkualitas. Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa langkah ini merupakan respons strategis terhadap dinamika perubahan global yang semakin kompleks dan menuntut inovasi berkelanjutan.
Menurut penjelasan Arif Satria yang disampaikan di Bogor, Jawa Barat pada hari Jumat, penguatan hubungan antara pemerintah dan swasta atau yang dikenal sebagai public-private partnership (PPP) menjadi salah satu fondasi penting. Key Strategy ini tidak hanya membantu menghadapi tantangan global, tetapi juga mendorong pembangunan yang berbasis pada inovasi teknologi dan kreativitas. Keempat kebun raya yang menjadi fokus pengelolaan tersebut adalah Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Bali.
Implementasi Key Strategy dalam Kemitraan Publik-Swasta
Arif Satria menekankan bahwa sektor swasta memegang peranan sangat krusial dalam memajukan industri nasional secara keseluruhan. Melalui skema kemitraan yang telah diterapkan, BRIN tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai lembaga penelitian dan konservasi keanekaragaman hayati. Sementara itu, PT Mitra Natura Raya (MNR) bertanggung jawab penuh atas aspek pelayanan publik dan pengembangan wisata di keempat kawasan tersebut. Key Strategy ini memungkinkan sinergi optimal antara kedua sektor.
Salah satu strategi utama dalam menghadapi masifnya perubahan global adalah penguatan kemitraan publik-swasta atau Public-Private Partnership (PPP). Sektor swasta memiliki peran krusial dalam memajukan industri nasional, kata Arif.
Pengelolaan oleh pihak swasta mencakup berbagai aspek operasional mulai dari manajemen pengunjung, pelayanan keramahtamahan, diversifikasi produk wisata kreatif, kebersihan lingkungan, pemasaran digital, hingga pemeliharaan fasilitas umum. Skema ini memberikan keuntungan ganda bagi aparatur sipil negara (ASN) periset di BRIN yang kini dapat lebih fokus pada tugas-tugas inti penelitian dan konservasi tanpa terbebani oleh operasional harian fungsi wisata.
Revitalisasi Melalui Pendekatan Key Strategy
Sejak kemitraan ini mulai berjalan pada tahun 2020, telah terjadi transformasi signifikan di keempat kebun raya. Setidaknya 13 taman tematik telah direvitalisasi dan diresmikan sebagai bagian dari upaya mengoptimalkan aset negara sekaligus mendukung fungsi konservasi. Modernisasi juga dilakukan melalui pengembangan dua program unggulan, yaitu Kultura dan Immerzoa. Key Strategy ini telah terbukti meningkatkan daya tarik wisata sambil mempertahankan fungsi ilmiah.
Program Kultura mengemas edukasi budaya Indonesia secara bergantian di setiap kawasan kebun raya, sementara Immerzoa memanfaatkan teknologi visual imersif untuk menyampaikan edukasi mengenai siklus hidup tumbuhan dan hewan kepada pengunjung. Kedua program ini menunjukkan bagaimana inovasi kreatif dapat berjalan beriringan dengan kepentingan riset dan konservasi. Implementasi Key Strategy ini telah menghasilkan peningkatan kunjungan dan kepuasan pengunjung.
Kesuksesan kemitraan Kebun Raya ini memiliki proporsi yang seimbang antara optimalisasi aset, pengembangan bisnis kreatif wisata, serta menjaga marwah Kebun Raya yang erat dengan komunitas akademik dan isu lingkungan, kata Marga Anggrianto, Managing Director PT Mitra Natura Raya.
Pengakuan atas Key Strategy BRIN
Model kemitraan ini telah mendapatkan pengakuan formal dari Kementerian Keuangan dengan terdaftarnya MNR sebagai Mitra Instansi Pengelola (MIP) dalam pengelolaan aset negara. Selain itu, skema PPP dalam pengelolaan kebun raya Indonesia dipaparkan dalam forum internasional bergengsi, yaitu International Congress on Education in Botanical Gardens (ICEBG) 2025 yang diselenggarakan di Seoul, Korea Selatan. Key Strategy BRIN ini menjadi contoh terbaik kolaborasi publik-swasta.
Model pengelolaan ini juga menjadi objek penelitian dalam makalah berjudul “Evaluating Public-Private Partnerships in Indonesian Botanical Gardens: Implications for Conservation and Edu-tourism” yang dipublikasikan dalam Proceedings of the 9th Asia Euro Conference 2026. Prestasi lainnya diraih pada tahun 2026 ketika kebun raya Indonesia di bawah pengelolaan operasional MNR menerima penghargaan bidang pariwisata dalam ajang ASEAN Tourism Awards 2026 di Filipina.
Marga Anggrianto menilai berbagai pengakuan tersebut menunjukkan bahwa kemitraan pemerintah-swasta dapat menjadi salah satu model tata kelola kolaboratif dalam mengoptimalkan aset negara tanpa mengabaikan fungsi konservasi, penelitian, edukasi, wisata ilmiah, dan jasa lingkungan. Melalui skema ini, aset kebun raya tetap menjadi milik negara, kegiatan riset terus berjalan, sementara pengelolaannya juga memberikan manfaat ekonomi dan edukasi bagi masyarakat luas. Key Strategy BRIN ini telah membuktikan efektivitasnya dalam transformasi pengelolaan kebun raya nasional.
