Bisnis

Key Strategy: Wamenko Pangan dorong Ponorogo perkuat swasembada jagung

Wamenko Pangan Dorong Ponorogo Perkuat Swasembada Jagung Key Strategy - Ponorogo, Jawa Timur – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq

Desk Bisnis
Published July 6, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Wamenko Pangan Dorong Ponorogo Perkuat Swasembada Jagung

Key Strategy – Ponorogo, Jawa Timur – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Nurofiq menekankan pentingnya Pemerintah Kabupaten Ponorogo terus meningkatkan produktivitas jagung serta padi untuk mendukung program swasembada pangan nasional yang telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Dalam pertemuan di Ponorogo, Minggu, Hanif menyatakan bahwa daerah ini memiliki potensi besar menjadi penggerak utama dalam memenuhi kebutuhan pangan nasional, berkat luas lahan pertanian yang mencapai sekitar 35 ribu hektare.

Dengan kemampuan penanaman hampir tiga kali dalam setahun, Ponorogo bisa menyelesaikan dua musim tanam padi dan satu kali jagung di area yang sama. Ini menunjukkan kapasitas lahan daerah untuk menghasilkan berbagai komoditas pertanian secara optimal. “Dengan menerapkan teknologi modern dan melibatkan generasi muda, sektor pertanian bisa lebih efisien dan meningkatkan daya saing hasil panen,” tutur Hanif dalam pernyataannya.

“Keterlibatan teknologi pertanian serta inovasi dari pemuda akan membuka peluang pertumbuhan yang lebih pesat,” ujarnya.

Dalam wawancara, Hanif menambahkan bahwa metode konvensional tidak lagi cukup untuk mencapai tingkat produktivitas yang maksimal. Ia menegaskan bahwa penggunaan teknologi menjadi kunci utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Kebijakan pemerintah yang tidak mengimpor beras dan jagung, menurutnya, harus didukung oleh semua wilayah, termasuk Ponorogo, sebagai bagian dari strategi nasional.

Pada hari sebelumnya, Hanif melakukan panen jagung bersama Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita di lahan Perhutani Kelurahan Ronosentanan, Kecamatan Siman. Wilayah seluas 198 hektare ini dianggap sebagai salah satu pusat produksi jagung utama di kabupaten tersebut. Acara panen menjadi kesempatan untuk melihat langsung keberhasilan usaha pertanian lokal dan membahas langkah-langkah untuk memperkuat hasil panen di masa mendatang.

Kementerian Pangan berkomitmen serius dalam membangun ketahanan pangan, dengan menetapkan target produksi jagung nasional mencapai 16,16 juta ton pipilan kering kadar air 14 persen pada 2025. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang ditetapkan di tingkat petani sebesar Rp5.500 per kilogram diharapkan mendorong pertumbuhan produksi yang berkelanjutan. Di sisi lain, produksi beras nasional telah melampaui kebutuhan konsumsi nasional, mencapai 34,69 juta ton per tahun, dengan angka yang melebihi kisaran 30–32 juta ton.

Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita menjelaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Dalam laporan tahunan, dia menyebutkan bahwa luas panen jagung di 2025 diproyeksikan sekitar 39 ribu hektare dengan produksi 284 ribu ton. Sementara itu, luas lahan tanam padi diperkirakan mencapai 74 ribu hektare dan hasil panen diperkirakan sekitar 436 ribu ton. “Capaian ini menjadikan Ponorogo sebagai lumbung pangan utama di Jawa Timur,” katanya.

“Indeks Ketahanan Pangan kami mencapai 71,22 poin, yang menunjukkan kemajuan signifikan dalam menopang kebutuhan pangan nasional,” tambah Lisdyarita.

Menurut Lisdyarita, pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari usaha keras para petani yang terus berinovasi dalam pengelolaan lahan dan teknik pertanian. Pemerintah daerah berkomitmen untuk mendukung peningkatan produktivitas melalui penguatan sarana produksi, pendampingan petani, serta optimalisasi lahan. Langkah-langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kontribusi Ponorogo terhadap swasembada pangan nasional.

Dalam upaya menghadapi tantangan global, Ponorogo harus menjadi contoh daerah yang mampu menghasilkan pangan secara mandiri. Hanif Faisol Nurofiq mengingatkan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada penerapan inovasi dan pengelolaan sumber daya yang canggih. Ia menekankan bahwa peran generasi muda dalam pertanian menjadi sangat vital, karena mereka mampu mengubah cara berproduksi secara tradisional menjadi lebih modern.

Dalam situasi di mana harga pangan terus naik, daerah seperti Ponorogo perlu mengambil langkah-langkah lebih agresif untuk memastikan kebutuhan pangan dalam negeri terpenuhi. Hanif menyebutkan bahwa pemanfaatan teknologi pertanian, seperti penggunaan alat bantu modern dan sistem irigasi yang efisien, dapat meningkatkan hasil panen tanpa mengorbankan kualitas tanah atau sumber daya alam. “Kita harus memastikan bahwa produktivitas tidak hanya meningkat, tetapi juga berkelanjutan,” imbuhnya.

Produksi jagung dan padi yang optimal juga menjadi penopang ekonomi bagi masyarakat lokal. Dengan menghasilkan komoditas utama tersebut, Ponorogo tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri, tetapi juga mampu memasok ke pasar nasional dan internasional. Hal ini berdampak pada stabilitas ekonomi serta peningkatan kesejahteraan petani.

Dalam wawancara tambahan, Lisdyarita menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan kualitas produksi pertanian. Ini termasuk memperluas akses petani terhadap modal, pelatihan teknis, dan fasilitas pendukung lainnya. “Kita perlu menumbuhkan budaya inovasi dan kolaborasi antara pemerintah, petani, serta lembaga swadaya untuk memastikan swasembada pangan tercapai,” jelasnya.

Hanif Faisol Nurofiq juga menyoroti peran daerah-daerah penghasil pangan dalam membangun ketahanan nasional. Dengan memaksimalkan potensi pertanian, Ponorogo bisa menjadi salah satu daerah yang mendukung kebutuhan bahan pangan di tingkat nasional. Ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi harus menjadi prioritas, agar hasil panen tidak hanya lebih banyak, tetapi juga lebih berkualitas dan lebih ekonomis.

Kebijakan swasembada pangan yang telah dijalankan pemerintah tidak cukup hanya dengan target produksi, tetapi juga perlu didukung oleh kebijakan distribusi dan pemasaran yang efektif. Dalam hal ini, Ponorogo diharapkan menjadi contoh dalam penerapan sistem yang terpadu antara produksi, distribusi, dan konsumsi pangan. Selain itu, keberhasilan program ini juga bergantung pada kebijakan yang konsisten dalam jangka panjang, bukan hanya sekadar inisiatif sementara.

Sebagai bagian dari strategi nasional, Ponorogo perlu terus meningkatkan produktivitas jagung dan padi. Dengan keberhasilan ini, daerah bisa memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap stabilitas pangan nasional. Hanif menegaskan bahwa upaya ini tidak hanya tentang meningkatkan hasil, tetapi juga tentang membangun sistem yang mampu bertahan dalam berbagai kondisi.

Dalam rangka menunjang program swasembada pangan, pemerintah daerah dan pusat harus bekerja sama secara erat. Hanif berharap Ponorogo menjadi salah satu daerah yang menjadi model dalam penerapan teknologi pertanian dan kebijakan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal. “Swasembada pangan adalah jaminan bagi kesejahteraan rakyat,” pungkas Hanif, menegaskan bahwa Ponorogo harus menjadi bagian dari solusi tersebut.

Leave a Comment