Korban Tewas Akibat Banjir di Ghana Bertambah Jadi 34 Orang
Korban tewas akibat banjir di Ghana – Korban tewas akibat bencana banjir yang melanda Ghana akhir pekan lalu mencapai 34 orang, menurut laporan terbaru yang diterbitkan pada Jumat (3/7). Pejabat setempat memperkirakan angka ini masih bisa naik karena proses pemulihan belum selesai. Banjir parah yang terjadi sejak akhir pekan lalu memicu kekhawatiran serius terhadap kondisi warga dan infrastruktur di beberapa daerah.
Bencana Banjir Membawa Dampak Luas
Banjir tersebut, yang melanda wilayah-wilayah utama Ghana, menyebabkan kerusakan luas terhadap rumah, jalan, dan fasilitas umum. Menurut laporan dari 3News pada Jumat (3/7), Richard Amo Yartey, direktur inspektorat di Organisasi Manajemen Bencana Nasional Ghana (NADMO), menyatakan bahwa 12 korban jiwa yang telah dikonfirmasi tercatat di ibu kota, Accra. Namun, angka kematian secara keseluruhan masih bisa bertambah karena tim penyelidik masih memverifikasi laporan orang hilang.
“Korban tewas yang terdaftar saat ini hanya sebagian dari total yang mungkin terjadi, karena kita masih mengumpulkan informasi dari daerah terisolasi,” ujar Amo Yartey.
Pada Kamis (2/7), dalam wawancara di berita TV3 Ghana, Amo Yartey menegaskan bahwa tim darurat tetap beroperasi guna mencari korban yang tersisa. Ia juga menyampaikan bahwa bantuan darurat telah ditujukan ke komunitas yang terkena dampak di seluruh negeri. Meski begitu, kondisi di beberapa wilayah masih sulit diakses karena jalan raya terendam banjir dan rumah-rumah terdampak hanyut.
Region Terdampak dan Jumlah Pengungsi
Berdasarkan data dari NADMO, bencana banjir memengaruhi tujuh wilayah di seluruh Ghana. Dari jumlah total pengungsi yang mencapai 89.736 orang, Greater Accra menjadi wilayah dengan angka tertinggi, yaitu 54.712 orang yang terpaksa mengungsi. Wilayah Central Region mengalami 21.882 orang terpaksa mengungsi, sementara wilayah Volta, Western, Ashanti, dan Western North juga dilaporkan terkena dampak signifikan.
Di sisi lain, Eastern Region melaporkan jumlah pengungsi yang lebih sedikit, yang menunjukkan bahwa tingkat kerusakan di wilayah tersebut relatif lebih ringan. Wilayah yang terdampak banjir terutama terletak di daerah dataran rendah dan lembah-lembah yang rentan terhadap hujan deras. Berdasarkan laporan terbaru, lebih dari 10.000 orang terkena dampak langsung di daerah seperti Sektor Aflato, yang menjadi salah satu lokasi paling parah.
Kerusakan Infrastruktur dan Lingkungan
Kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir tidak hanya terbatas pada kehilangan nyawa dan pengungsi, tetapi juga mencakup kerusakan infrastruktur yang meliputi jembatan, gedung-gedung, dan sistem listrik. Banyak sekolah dan klinik di beberapa wilayah ditutup sementara, menyebabkan gangguan terhadap layanan publik. Selain itu, banjir juga menghancurkan sejumlah pertanian, yang merupakan tulang punggung ekonomi Ghana.
Kebutuhan bantuan darurat terus meningkat seiring bertambahnya jumlah korban. Pemerintah sedang berupaya mempercepat distribusi bantuan logistik seperti makanan, air minum, dan tenda pengungsian. Namun, keterbatasan sumber daya masih menjadi kendala utama, terutama di daerah yang jauh dari pusat kota.
Banjir ini terjadi setelah hujan deras yang mengguyur Ghana selama beberapa hari. Cuaca ekstrem tersebut memicu aliran air sungai dan danau melebar, terutama di kawasan yang kurang memiliki sistem drainase yang memadai. Jumlah hujan yang jatuh pada akhir pekan lalu mencapai 200 mm per hari, lebih tinggi dari rata-rata tahunan. Sejumlah daerah seperti Sektor Aflato dan Aboabo mengalami banjir setinggi 1,5 meter, menyebabkan air menggenang hingga beberapa hari.
Aktivitas pencarian korban masih berlangsung intensif, terutama di wilayah yang sulit diakses. Tim penyelamatan menggunakan perahu, helikopter, dan mobil khusus guna mencapai daerah terjauh. Dalam upaya ini, pihak berwenang juga bekerja sama dengan organisasi lokal dan internasional guna mempercepat proses evakuasi. Sementara itu, warga yang terdampak telah diminta untuk tetap berada di tempat pengungsian sementara hingga kondisi membaik.
Menurut laporan NADMO, sekitar 30.000 unit rumah rusak atau hanyut, dengan banyak di antaranya terletak di kawasan kumuh yang rentan banjir. Wilayah seperti Greater Accra dan Central Region tercatat sebagai area paling parah, dengan kehilangan properti mencapai 70% dari total bangunan. Sementara itu, wilayah seperti Western North dan Ashanti juga mengalami kerusakan yang signifikan, mengakibatkan hambatan terhadap kegiatan ekonomi sehari-hari.
Pemerintah Ghana sedang berusaha mengumpulkan data lebih lengkap terkait kerusakan dan jumlah korban. Pihak berwenang juga berupaya menghubungi keluarga korban yang terdampak, terutama di daerah terpencil. Selain itu, perusahaan-perusahaan layanan darurat dan NGO setempat berperan aktif dalam memberikan bantuan medis, makanan, dan perlengkapan hidup. Sejumlah donasi dari negara-negara tetangga juga telah diterima untuk mempercepat proses pemulihan.
Antisipasi dan Mitigasi Tindakan
Kebutuhan mitigasi bencana semakin terasa setelah kejadian ini. Pemerintah meminta evaluasi terhadap sistem manajemen bencana nasional, terutama terkait pencegahan banjir di masa depan. Sejumlah langkah pencegahan seperti pembangunan embung dan peningkatan drainase di wilayah rentan akan dipertimbangkan dalam rencana tindak lanjut. Dalam waktu dekat, pihak berwenang juga berencana mengadakan rapat krisis guna membahas strategi penanggulangan bencana lebih lanjut.
Sementara itu, masyarakat setempat tetap
