Main Agenda: Nezar Patria Tekankan Humas dan AI Berstandar Etik
Main Agenda – Profesi hubungan masyarakat di Indonesia kini menghadapi momen krusial dalam mengintegrasikan teknologi kecerdasan artifisial ke dalam praktik sehari-hari. Sebagai Main Agenda utama dalam transformasi komunikasi publik, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan pesan penting bahwa adopsi AI harus tetap berpegang pada prinsip-prinsip etika yang telah lama menjadi fondasi profesi humas. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks transformasi lanskap komunikasi publik yang semakin dinamis dan kompleks, di mana Main Agenda menjadi penanda prioritas strategis bagi para praktisi.
Kegiatan Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 menjadi wadah strategis bagi Nezar untuk menyampaikan pandangannya. Main Agenda acara tersebut diselenggarakan di ANTARA Heritage Center, Jakarta, pada hari Sabtu. Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) menyambut baik kehadiran wakil menteri sebagai rangkaian persiapan menuju penyelenggaraan konvensi utama yang dijadwalkan pada tanggal 17 hingga 18 Oktober 2026 di kota Surakarta atau yang lebih dikenal sebagai Solo. Dalam kesempatan ini, Main Agenda juga mencakup diskusi tentang bagaimana humas dapat menjadi pionir dalam penggunaan etika AI.
Tantangan dan Peluang bagi Humas di Era AI
Main Agenda pembahasan dalam acara tersebut menyoroti tantangan signifikan yang dihadapi profesi humas dalam mengadopsi teknologi AI secara tepat. Nezar mengakui bahwa profesi humas memiliki tantangan besar dalam mengadopsi teknologi AI secara tepat. Menurutnya, penting bagi praktisi humas untuk tidak hanya menggunakan AI sebagai alat bantu, tetapi juga memberikan kontribusi berupa praktik baik dalam mengelola pekerjaan komunikasi publik berdasarkan standar etik yang berlaku. Main Agenda ini menjadi momentum bagi humas untuk menunjukkan kepemimpinan dalam etika digital.
Main Agenda – “Karena itu saya kira humas punya tantangan yang besar bagaimana mengadopsi teknologi AI ini sesuai dengan standar etik, dan juga memberikan kontribusi semacam praktik baik dalam mengelola pekerjaan komunikasi publik berdasarkan standar etik,” kata Nezar kepada ANTARA.
Kementerian Komunikasi dan Digital secara resmi menyambut baik inisiatif Perhumas dalam menyelenggarakan konvensi tersebut. Lebih dari sekadar dukungan, kementerian juga mendorong agar forum ini menjadi ruang diskusi yang produktif untuk membahas isu-isu kontemporer. Main Agenda kementerian adalah memastikan bahwa humas Indonesia tetap relevan di tengah perubahan teknologi yang cepat. Salah satu isu utama yang perlu dikaji adalah keterkaitan erat antara profesi humas dengan perkembangan teknologi baru, khususnya AI.
Menurut penilaian Nezar, pemanfaatan AI dalam pekerjaan komunikasi publik kini telah menjadi hal yang semakin lumrah. Namun, di sisi lain, teknologi yang sama juga dimanfaatkan untuk menghasilkan disinformasi, misinformasi, serta berbagai bentuk penyalahgunaan informasi lainnya. Main Agenda dalam konteks ini adalah menjaga integritas informasi. Kondisi dualistis ini menjadikan peran humas semakin vital di tengah lanskap komunikasi yang ditandai dengan kaburnya batas antara fakta dan fiksi.
Kepercayaan sebagai Modal Strategis
Risiko misinformasi yang sampai kepada masyarakat menjadi perhatian serius. Main Agenda Nezar menekankan bahwa peran humas menjadi sangat penting ketika noise yang begitu besar dalam lanskap komunikasi kita pada hari ini, dan juga disinformasi, misinformasi, fitnah, ujaran kebencian itu begitu deras, hadir lewat gawai yang kita punya. Kepercayaan menjadi aset yang tidak ternilai harganya dalam era digital ini.
Sementara itu, Ketua Umum Perhumas, Boy Kelana Soebroto, menyampaikan bahwa Kick Off Konvensi Humas Indonesia 2026 merupakan langkah awal yang penting. Main Agenda Boy menjelaskan bahwa di era yang penuh perubahan yang begitu cepat, AI, informasi yang juga bergerak tanpa batas, disinformasi menyebar semakin masif, reputasi yang dibangun bertahun-tahun bisa berubah hanya dalam hitungan menit. Boy menambahkan bahwa Main Agenda konvensi ini adalah membangun fondasi kuat untuk masa depan humas Indonesia.
Main Agenda – “Dan di tengah semua itu, kepercayaan menjadi sesuatu yang semakin mahal nilainya, di sini lah peran humas menjadi semakin strategis,” ujar Boy.
Boy menambahkan bahwa tema “Humas sebagai Daya Bangsa, Menenun Kepercayaan, Menggerakkan Bangsa” dipilih dengan pertimbangan matang. Main Agenda pemilihan tema ini mencerminkan visi humas sebagai penjaga kepercayaan publik. Humas tidak lagi sekadar berperan sebagai penyampai informasi, melainkan menjadi penjaga kepercayaan sekaligus jembatan antara institusi dan publik. Konvensi Humas Indonesia 2026 yang diselenggarakan Perhumas mengusung tema “Humas sebagai Daya Bangsa, Menenun Kepercayaan, Menggerakan Bangsa (A Festival Trust and Influence)” sebagai forum kolaboratif yang mempertemukan praktisi, akademisi, media, pemangku kepentingan, dan generasi muda untuk memperkuat kepercayaan sebagai modal kemajuan bangsa.
Main Agenda akhir dari konvensi ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi konkret untuk pengembangan profesi humas di Indonesia. Diskusi-diskusi yang akan berlangsung diharapkan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh teknologi digital. Dengan Main Agenda yang jelas, humas Indonesia siap menjadi pemimpin dalam era AI yang beretika.
