Menbud RI Fadli Zon Tekankan Pentingnya Edukasi Pelestarian Situs Liangkabori
Key Strategy – Kabupaten Muna menjadi sorotan perhatian Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam upaya menjaga warisan budaya yang sangat berharga. Pada hari Sabtu yang lalu, sang menteri memberikan penjelasan mendalam kepada masyarakat dan para wisatawan mengenai pentingnya menjaga kelestarian Situs Liang Metanduno. Lokasi ini terletak di kawasan Situs Goa Liangkabori, tepatnya di Kecamatan Loghia, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam pertemuan tersebut, Fadli Zon menekankan bahwa edukasi merupakan kunci utama untuk melindungi situs prasejarah ini dari kerusakan yang tidak perlu.
Salah satu poin penting yang disampaikan oleh Menbud RI adalah larangan keras bagi pengunjung untuk menyentuh dinding gua. Hal ini bertujuan untuk menghindari kerusakan pada pigmen lukisan purba yang telah ditetapkan sebagai yang tertua di dunia. Kawasan tersebut masih tergolong terbuka, sehingga memerlukan perlindungan dan edukasi yang lebih intensif. Terutama bagi para pengunjung, tidak boleh sama sekali memegang dinding gua, apalagi melakukan vandalisme. Coret-coret itu sudah jelas pelanggaran hukum,” kata Fadli Zon usai meninjau langsung lukisan cadas yang ditetapkan tertua di dunia berusia sekitar 67.800 tahun di kawasan Liangkabori.
Alasan Pentingnya Larangan Menyentuh Dinding Gua
Menurut Fadli Zon, edukasi mengenai larangan menyentuh dinding gua sangat krusial. Kontak fisik langsung dari tangan manusia, seperti residu minyak, keringat, maupun kotoran, dikhawatirkan dapat mempercepat degradasi dan merusak struktur lukisan cadas (cave art) yang telah berusia 67.800 tahun itu. Oleh karena itu, pendekatan edukatif mengenai tata cara menikmati wisata sejarah tanpa merusak objek diduga cagar budaya harus diperketat. “Memegang itu harus ada edukasi karena bisa merusak lukisannya. Jadi hanya dilihat saja, dan itu pun kalau bisa jaraknya jangan terlalu dekat,” ujarnya.
Lukisan cadas di Liangkabori memiliki nilai historis yang luar biasa karena usianya yang mencapai 67.800 tahun. Ini menjadikannya sebagai salah satu karya seni tertua yang ditemukan di dunia. Kerusakan pada pigmen lukisan ini tidak hanya akan menghilangkan keindahan visual, tetapi juga mengurangi nilai ilmiah dan budaya yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, setiap pengunjung harus memahami pentingnya menjaga jarak dan tidak menyentuh permukaan dinding gua secara langsung.
Komitmen Pemerintah dalam Pelestarian Situs
Guna memperkuat upaya edukasi dan sistem proteksi di kawasan situs, lanjutnya, Kementerian Kebudayaan berkomitmen untuk bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Muna hingga pemerintah desa setempat dalam merumuskan regulasi kunjungan yang lebih terukur. Fadli Zon mengungkapkan bahwa langkah konkret yang akan segera disiapkan oleh pemerintah pusat meliputi penyediaan fasilitas edukasi sekunder agar beban kunjungan fisik ke dalam gua dapat diminimalisasi secara bertahap. “Nanti bersama dengan Pak Bupati (Muna) dan Pak Kepala Desa (Loghia), kita formulasikan apa saja yang diperlukan, misalnya untuk pengamanan dan peraturan aturan kunjungannya,” sebutnya.
Ia juga menambahkan bahwa selain regulasi kunjungan dan penegakan aturan jarak aman, Kementerian Kebudayaan juga berencana membangun ruang edukasi khusus serta menempatkan personel ahli di lapangan. “Kita juga perlu membuat satu pusat informasi, tadi saya sudah bicara untuk membuat satu museum kecil di sini. Selain itu, kita siapkan juru pelihara dari Kementerian Kebudayaan yang bisa membantu memelihara gua-gua yang ada di sekitar Kepulauan Muna,” tambahnya.
Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen serius pemerintah dalam melestarikan warisan budaya nasional. Dengan adanya fasilitas edukasi dan museum kecil, pengunjung dapat memahami sejarah dan nilai situs Liangkabori tanpa harus terlalu sering masuk ke dalam gua. Selain itu, kehadiran juru pelihara akan memastikan bahwa gua-gua di sekitar Kepulauan Muna tetap terjaga dengan baik. Melalui sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat lokal, diharapkan situs prasejarah ini dapat dilestarikan untuk generasi mendatang.
Pentingnya pelestarian situs Liangkabori tidak hanya terbatas pada aspek budaya, tetapi juga memiliki dampak positif bagi pariwisata daerah. Dengan adanya fasilitas yang memadai dan regulasi yang jelas, Muna dapat menjadi destinasi wisata sejarah yang menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini juga akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal yang terlibat dalam sektor pariwisata.
