Lansia Diberi Pengetahuan Literasi Media untuk Lawan Hoaks
Lansia dibekali literasi media tangkal informasi – Dalam upaya meningkatkan kesadaran warga lanjut usia terhadap dampak negatif informasi palsu, Kantor Berita Antara Biro Bali mengadakan pelatihan literasi media di Sekolah Lansia Wreda Harum Mahottama, Desa Tegal Harum, Denpasar, pada hari Sabtu (4/7). Acara ini bertujuan memperkuat kemampuan lansia dalam memilah dan memahami berbagai jenis informasi yang beredar di media digital. Pemateri utama, Dewa Ketut Sudiarta Wiguna, menjelaskan bahwa generasi tua sering kali menjadi sasaran utama berita hoaks karena kurangnya pemahaman tentang cara kerja media sosial dan teknologi informasi.
Materi yang Dibahas
Acara yang dihadiri sejumlah lansia tersebut mengupas berbagai topik terkait literasi media. Beberapa poin yang menjadi fokus pembelajaran meliputi cara mengidentifikasi sumber berita yang terpercaya, teknik memeriksa kebenaran informasi melalui verifikasi, serta pentingnya menghindari penyebaran berita palsu tanpa pengecekan. Sudiarta Wiguna juga memberikan contoh kasus hoaks yang sering muncul di masyarakat, seperti berita tentang kesehatan atau politik yang berdampak signifikan pada keputusan warga.
“Lansia terbuka terhadap paparan informasi yang sering datang melalui berbagai saluran digital. Jika tidak memahami cara mengakses dan memverifikasi informasi, mereka rentan terjebak pada berita yang tidak benar,” ujar Sudiarta Wiguna.
Menurutnya, program ini dirancang agar lansia mampu memanfaatkan media sosial secara bijak, terutama dalam situasi yang memerlukan kecepatan respons, seperti wabah penyakit atau peristiwa kecil yang bisa berkembang menjadi isu besar. “Dengan literasi media, mereka bisa menjadi pilar kebenaran di lingkungannya sendiri,” tambahnya. Materi disampaikan secara sederhana, dengan penggunaan contoh sehari-hari yang mudah dipahami oleh peserta.
Partisipasi dan Respons Peserta
Kehadiran peserta acara yang cukup aktif menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pelatihan ini. Banyak lansia yang menunjukkan minat untuk menggali lebih dalam tentang cara membedakan berita asli dan hoaks. Sejumlah peserta bahkan menanyakan pertanyaan seputar cara mengaktifkan fitur verifikasi pada aplikasi pesan instan seperti WhatsApp dan Telegram. “Saya kira ini penting sekali, terutama agar tidak ada orang yang terkecoh oleh berita yang tidak jelas,” ujar Ibu Ni Made, seorang peserta yang aktif bertanya.
Selain itu, pelatihan ini juga mencakup sesi praktik langsung, seperti mengisi formulir pemeriksaan kebenaran informasi atau berlatih menyusun berita yang faktual. Sudiarta Wiguna menyebutkan bahwa metode ini dipilih untuk memastikan peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya langsung dalam kehidupan sehari-hari. “Kami ingin mereka bisa melatih kemampuan kritis sekaligus membangun kepercayaan terhadap sumber informasi yang benar,” jelasnya.
Signifikansi Program Literasi Media
Program ini menjadi bagian dari upaya lembaga Antara untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penggunaan media secara tepat. Dengan membekali lansia pengetahuan tentang literasi media, diharapkan mereka dapat menjadi pengguna aktif yang tidak hanya menerima informasi, tetapi juga menghargai kebenaran dan kejujuran dalam berkomunikasi. “Lansia adalah pengguna media yang sangat berpengaruh, terutama dalam lingkungan keluarga dan komunitas,” kata Sudiarta Wiguna.
Menurutnya, keberadaan lansia dalam dunia digital tidak bisa diabaikan. Mereka memiliki kemampuan berpikir yang matang, tetapi perlu bimbingan untuk menghadapi tantangan informasi yang semakin kompleks. “Dengan pelatihan ini, kita membantu mereka membangun kesadaran bahwa setiap informasi yang diunggah harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dibagikan,” imbuhnya. Acara ini juga menjadi langkah awal untuk memperluas literasi media ke berbagai kalangan, termasuk remaja dan pemuda.
Sejumlah peserta menyampaikan bahwa mereka merasa lebih yakin untuk menyebarkan informasi yang benar setelah mengikuti pelatihan. Ibu Ni Nyoman, salah satu peserta, mengatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat karena membantunya mengingat kembali cara memilah berita yang dianggap nyata. “Saya kira, generasi muda pun juga perlu belajar dari mereka. Karena orang tua memiliki pengalaman yang bisa dijadikan contoh,” tambah Nyoman.
Langkah Masa Depan
Dalam rangkaian program literasi media, Antara Biro Bali berencana mengulangi pelatihan serupa di wilayah lain, termasuk sekolah lansia di Kecamatan Mengwi dan Kecamatan Ubud. Wakil Kepala Sekolah Lansia, Ida Ayu Kadek Widiastri, mengungkapkan bahwa kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari para lansia dan warga sekitar. “Kami berharap program ini terus berlanjut, karena lansia memang sangat membutuhkan bimbingan dalam menghadapi zaman digital yang cepat berkembang,” tutur Widiastri.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik, jumlah lansia di Bali terus meningkat. Dengan melibatkan mereka dalam pelatihan literasi media, Antara berupaya memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat mampu berpartisipasi aktif dan menghindari penyebaran informasi yang menyesatkan. “Literasi media bukan hanya untuk mengenali hoaks, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas komunikasi dalam masyarakat,” pungkas Sudiarta Wiguna. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi contoh bagi institusi lain dalam menjangkau kelompok usia lanjut secara efektif.
Rita Laura, Chairul Fajri, dan Nanien Yuniar.
