Agenda Utama: Pemerintah kawal isu ketenagakerjaan imbas perang di Timur Tengah
Pemerintah kawal isu ketenagakerjaan imbas perang di Timur Tengah
Jakarta – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan bahwa pemerintah sedang memantau berbagai kemungkinan pengaruh dan tantangan yang muncul di sektor tenaga kerja akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Ia menegaskan bahwa kondisi dunia saat ini dipenuhi oleh ketidakpastian, dan Indonesia tidak sendirian dalam menghadapinya. “Kita sadar bahwa situasi global kini penuh risiko, jadi pemerintah harus bersama-sama melihat permasalahan ini,” kata Yassierli saat diwawancara di Gedung Vokasi Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Rabu.
Pemerintah Fokus pada Dampak Perang Timur Tengah pada Ketenagakerjaan
Menurut Yassierli, industri dan sektor usaha di Tanah Air juga merasakan dampak dari ketegangan geopolitik tersebut. Bob Azam, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), dalam Rapat Panja RUU Ketenagakerjaan pada Selasa (14/4), menyatakan bahwa konflik tersebut mengganggu rantai pasok, terutama bahan baku yang bergantung pada impor. “Kondisi ini bisa menyebabkan henti produksi,” ujarnya.
“Kita sadar bahwa situasi global kini penuh risiko, jadi pemerintah harus bersama-sama melihat permasalahan ini,” katanya.
Kemnaker mencatat jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) sejak awal tahun hingga Maret 2026 mencapai 8.389 orang. Dalam menghadapi angka tersebut, Yassierli menyebut bahwa penguatan keterampilan vokasi sumber daya manusia (SDM) menjadi strategi penting. “Kementerian Ketenagakerjaan memang fokus pada siapkan SDM dengan skill vokasi,” ujarnya.
Strategi Keterampilan SDM untuk Tangani Ketidakpastian Global
Menurut Yassierli, penguatan SDM sejalan dengan upaya pemerintah menciptakan ketahanan di berbagai sektor, seperti pangan dan energi. “Ketahanan pangan serta energi menjadi bagian dari strategi menghadapi ketidakpastian global,” jelasnya. Ia menambahkan, ketika kedua sektor tersebut stabil, maka Indonesia akan lebih tangguh.
“Ketika ketahanan pangan, ketahanan energi itu terwujud, makanya kita lebih resilien,” ujar Yassierli.
Untuk meningkatkan keterampilan SDM muda, Yassierli menyebut program Pelatihan Vokasi Nasional dan Magang Nasional sebagai alat utama. “Kita melihat ada digital skills, serta program magang yang diharapkan bisa menjadi bagian solusi untuk menyelaraskan kebutuhan industri dan kemampuan pekerja,” katanya.
